Oleh Juni Ahyar
Terinspirasi dari tragedi Jembatan Kuta Blang, Bireuen
Di Kuta Blang, banjir bukan sekadar air yang meluap dari dada Krueng Peusangan. Ia datang membawa tiang-tiang yang rebah, besi yang patah, dan harapan yang hanyut bersama lumpur musim penghujan.
Jembatan itu runtuh, namun yang lebih dahulu patah adalah langkah seorang ayah yang ingin menyeberang demi sepetak kebun cabai, demi segenggam beras, demi demam anak yang tak mengenal alasan mengapa jalan pulang tiba-tiba lenyap.
Berbulan-bulan orang-orang berdiri di tepi sungai menatap seberang seolah memandang masa depan yang terhalang arus.
Di kedai Wak Leman, kopi mengepul bersama keresahan. Cangkir-cangkir berdenting, tetapi yang paling nyaring adalah suara hati yang tak sanggup lagi membiarkan sesama berjalan memutar nasib.
“Lalu, siapa yang akan membangun harapan?” tanya Muakhir.
Tak ada jawaban. Hanya tatapan, dan tekad yang perlahan tumbuh dari tangan-tangan yang tak pernah belajar menyerah.
Mereka mengumpulkan drum bekas, batang kelapa, bambu tua, keringat, doa, dan keyakinan.
Mereka sadar, kadang sebuah jembatan tidak dibangun oleh anggaran, melainkan oleh gotong royong yang enggan mati.
Malam demi malam arus menghantam. Kayu patah. Pancang roboh. Luka bertambah.
Namun setiap kegagalan dibalas dengan sepasang tangan baru yang ikut mengikat harapan.
Lalu lahirlah Jembatan Hiu.
Ia bergoyang, tetapi tidak goyah.
Ia sederhana, tetapi sanggup menghubungkan air mata dan senyum.
Namun hidup tak selalu selesai dengan tepuk tangan.
Di ujung jembatan tergantung tarif.
Ada harga yang harus dibayar untuk setiap langkah.
Dan Banta, petani yang kehilangan panen, kehilangan kesabaran.
Amarahnya lebih deras daripada sungai.
Ia mengutuk jembatan, mengutuk nasib, mengutuk kemiskinan yang memaksa manusia menghitung nilai bahkan pada sebuah harapan.
Malam itu ia membawa linggis.
Bukan untuk membangun, tetapi menghancurkan.
Di bawah bulan ia berdiri. Di hadapannya jembatan yang hendak ia robohkan.
Namun Tuhan selalu memiliki cara menghentikan tangan yang dikuasai amarah.
“Bang… anak kita kejang…”
Suara itu membelah malam lebih tajam daripada besi.
Linggis terlepas.
Bukan karena lemah, tetapi karena cinta lebih kuat daripada dendam.
Malam itu Banta melintasi jembatan yang hampir ia binasakan.
Jembatan bergoyang, air mengamuk, angin meraung, tetapi harapan tetap sampai di seberang.
Kini aku mengerti…
Jembatan bukan sekadar besi, kayu, atau drum yang terapung.
Jembatan adalah penghubung antara putus asa dan ikhtiar.
Antara marah dan maaf.
Antara manusia dan kemanusiaannya.
Kuta Blang, engkau telah mengajarkan bahwa yang paling kokoh bukanlah baja.
Melainkan hati yang tetap memilih membangun, meski berkali-kali dihancurkan banjir, kemiskinan, dan waktu.
Dan kelak, jika orang-orang bertanya apa yang sesungguhnya tak pernah putus di Kuta Blang—
akan kujawab,
bukan jembatannya…
melainkan harapan yang selalu menemukan jalan pulang.

