POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Bencana

Jembatan yang Tak Pernah Putus

Juni Ahyar by Juni Ahyar
Juli 16, 2026
in Puisi Bencana
0
IMG_2183

Oleh Juni Ahyar

Terinspirasi dari tragedi Jembatan Kuta Blang, Bireuen

Di Kuta Blang, banjir bukan sekadar air yang meluap dari dada Krueng Peusangan. Ia datang membawa tiang-tiang yang rebah, besi yang patah, dan harapan yang hanyut bersama lumpur musim penghujan.

Jembatan yang Tak Pernah Putus - IMG_9198 | Puisi Bencana | Potret Online
Baca Juga
Puisi
Jangan Salahkan Hujan
01 Jan 2026

Jembatan itu runtuh, namun yang lebih dahulu patah adalah langkah seorang ayah yang ingin menyeberang demi sepetak kebun cabai, demi segenggam beras, demi demam anak yang tak mengenal alasan mengapa jalan pulang tiba-tiba lenyap.

Berbulan-bulan orang-orang berdiri di tepi sungai menatap seberang seolah memandang masa depan yang terhalang arus.

Jembatan yang Tak Pernah Putus - 81dd22a0 b2c7 4d63 90da f616391a4035 | Puisi Bencana | Potret Online
Baca Juga
Puisi
Ketika Tsunami Aceh
14 Nov 2025

Di kedai Wak Leman, kopi mengepul bersama keresahan. Cangkir-cangkir berdenting, tetapi yang paling nyaring adalah suara hati yang tak sanggup lagi membiarkan sesama berjalan memutar nasib.

“Lalu, siapa yang akan membangun harapan?” tanya Muakhir.

Jembatan yang Tak Pernah Putus - 4dbbd872 5c0a 451b a7f8 88c2b125c7ee | Puisi Bencana | Potret Online
Baca Juga
#Gaza
Kumpulan Sajak Alkhair Aljohore@
11 Apr 2025

Tak ada jawaban. Hanya tatapan, dan tekad yang perlahan tumbuh dari tangan-tangan yang tak pernah belajar menyerah.

Mereka mengumpulkan drum bekas, batang kelapa, bambu tua, keringat, doa, dan keyakinan.

Mereka sadar, kadang sebuah jembatan tidak dibangun oleh anggaran, melainkan oleh gotong royong yang enggan mati.

Malam demi malam arus menghantam. Kayu patah. Pancang roboh. Luka bertambah.

Namun setiap kegagalan dibalas dengan sepasang tangan baru yang ikut mengikat harapan.

Lalu lahirlah Jembatan Hiu.

Ia bergoyang, tetapi tidak goyah.

Ia sederhana, tetapi sanggup menghubungkan air mata dan senyum.

Namun hidup tak selalu selesai dengan tepuk tangan.

Di ujung jembatan tergantung tarif.

Ada harga yang harus dibayar untuk setiap langkah.

Dan Banta, petani yang kehilangan panen, kehilangan kesabaran.

Amarahnya lebih deras daripada sungai.

Ia mengutuk jembatan, mengutuk nasib, mengutuk kemiskinan yang memaksa manusia menghitung nilai bahkan pada sebuah harapan.

Malam itu ia membawa linggis.

Bukan untuk membangun, tetapi menghancurkan.

Di bawah bulan ia berdiri. Di hadapannya jembatan yang hendak ia robohkan.

Namun Tuhan selalu memiliki cara menghentikan tangan yang dikuasai amarah.

“Bang… anak kita kejang…”

Suara itu membelah malam lebih tajam daripada besi.

Linggis terlepas.

Bukan karena lemah, tetapi karena cinta lebih kuat daripada dendam.

Malam itu Banta melintasi jembatan yang hampir ia binasakan.

Jembatan bergoyang, air mengamuk, angin meraung, tetapi harapan tetap sampai di seberang.

Kini aku mengerti…

Jembatan bukan sekadar besi, kayu, atau drum yang terapung.

Jembatan adalah penghubung antara putus asa dan ikhtiar.

Antara marah dan maaf.

Antara manusia dan kemanusiaannya.

Kuta Blang, engkau telah mengajarkan bahwa yang paling kokoh bukanlah baja.

Melainkan hati yang tetap memilih membangun, meski berkali-kali dihancurkan banjir, kemiskinan, dan waktu.

Dan kelak, jika orang-orang bertanya apa yang sesungguhnya tak pernah putus di Kuta Blang—

akan kujawab,

bukan jembatannya…

melainkan harapan yang selalu menemukan jalan pulang.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post
IMG_2184

Konflik Kepentingan dan "Jeruk Makan Jeruk

Please login to join discussion
POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah