Oleh Juni Ahyar
Katamu,
kami hidup di negeri yang kaya,
tanahnya subur,
lautnya luas,
gunungnya menyimpan emas,
perut bumi mengalirkan minyak,
dan langitnya menjatuhkan hujan keberkahan.
Namun mengapa
perut rakyat
masih akrab dengan bunyi lapar?
Katamu,
negeri ini swasembada pangan.
Tetapi
beras semakin menjulang,
seolah kemewahan
yang hanya boleh dipandang
dari balik etalase.
Katamu,
tanah ini melahirkan semen.
Namun rumah-rumah sederhana
masih tertahan menjadi mimpi,
karena harga
tak lagi berpihak
kepada tangan-tangan pekerja.
Katamu,
negeri ini menghasilkan pupuk.
Tetapi petani
lebih sering memupuk kesabaran
daripada sawahnya sendiri.
Mereka mengantre
bukan untuk panen,
melainkan
untuk secuil harapan
yang entah datang kapan.
Katamu,
kita negeri penghasil minyak.
Lalu mengapa
matahari terbit
menyaksikan ribuan kendaraan
mengular di SPBU,
seolah waktu rakyat
tak lagi bernilai
di hadapan jeriken dan tangki kosong?
Katamu,
gemah ripah loh jinawi,
bumi yang makmur,
air yang melimpah,
hasil alam yang tak pernah habis.
Tetapi mengapa
ibu-ibu menggenggam tabung gas
lebih erat
daripada menggenggam masa depan,
berbaris panjang
demi api
yang sekadar ingin
menghidupkan dapur?
Kami tak sedang
mengutuk negeri ini.
Kami hanya bertanya,
mengapa kekayaan
lebih sering tinggal
di dalam pidato
daripada di meja makan rakyat?
Mengapa angka-angka pertumbuhan
terlihat begitu gagah
di layar presentasi,
tetapi kehilangan arti
ketika bertemu
dompet yang semakin tipis?
Kami mencintai negeri ini.
Karena cinta,
kami berani mengeluh.
Karena cinta,
kami memilih mengingatkan,
bahwa negara
bukan hanya gedung-gedung megah,
bukan hanya proyek
yang dipotret dari udara,
bukan pula deretan statistik
yang memukau mata.
Negara
adalah wajah petani
yang pantas tersenyum
di musim panen.
Negara
adalah nelayan
yang pulang membawa harapan,
bukan sekadar ombak.
Negara
adalah buruh,
guru,
pedagang kecil,
ibu rumah tangga,
dan anak-anak
yang berhak bermimpi
tanpa dihantui harga-harga
yang terus meninggi.
Masih ada waktu
untuk menata langkah.
Bangunlah tata kelola
yang jujur,
biarkan kebijakan
lahir dari nurani,
bukan sekadar kepentingan.
Libatkan ilmu,
dengarkan suara rakyat,
dan tegakkan pengawasan
agar kekuasaan
tetap berjalan
di rel keadilan.
Sebab negeri ini
tidak kekurangan kekayaan.
Yang sering hilang
adalah keberanian
menjadikan kekayaan itu
milik seluruh rakyat.
Dan kelak,
kami ingin berkata
kepada anak cucu:
“Kami pernah hidup di masa yang sulit,
tetapi bangsa ini memilih berbenah,
bukan saling menyalahkan.”
Karena harapan
selalu lebih kuat
daripada keluh kesah,
selama keadilan
masih diperjuangkan
oleh mereka
yang mencintai negerinya.
Lhokseumawe, 1 Agustus 2026
Diskusi