Oleh_Juni Ahyar
Tiga tahun…
kata-kata sastra menggelar makna,
menghamparkan sunyi di atas meja-meja waktu,
sementara ratusan ribu antologi
hanya menjadi debu yang sabar
di rak-rak perpustakaan,
di sudut rumah para penulis,
di gudang penerbit yang lengang,
atau lebih pilu lagi
tertimbun dalam tumpukan pikiran
yang tak pernah sempat disentuh pembaca.
Sebab,
dari album puisi yang kautulis
hingga menjelma kumpulan makna,
para penyair terus mengembara
di lorong-lorong batok kepalanya,
mencari sebutir cahaya
yang sanggup menerjemahkan luka,
menafsirkan rindu,
dan memungut harapan
yang tercecer di halaman-halaman zaman.
Tiga tahun…
rangkaian kalimat berbaris rapi,
menjadi larik-larik yang setia menunggu,
menghitung musim yang berganti
tanpa tepuk tangan,
tanpa riuh pembacaan,
tanpa festival yang benar-benar memuliakan kata.
Puisi-puisi itu masih bernapas,
meski tak selalu terdengar.
Ia hidup dalam dada penyair
yang diam-diam berdamai
dengan sepi yang panjang.
Namun,
hati dan pikiran penyair pun dapat tenggelam
ke dalam sunyi yang tak bertepi,
ketika ruang-ruang kreativitas
dikunci oleh sekat birokrasi,
dipinggirkan oleh gemuruh hiburan sesaat,
dan dikalahkan oleh hitungan angka
yang menganggap sastra
tak lebih berharga daripada statistik penjualan.
Betapa banyak naskah lahir
dari malam yang mengalahkan kantuk,
dari air mata yang disembunyikan,
dari doa-doa yang tak pernah dipublikasikan.
Namun, setelah menjadi buku,
ia sering hanya berpindah
dari kardus ke kardus,
dari rak ke rak,
tanpa sempat bertemu mata
yang bersedia membacanya.
Wahai Hari Sastra,
engkau bukan sekadar penanda tanggal,
melainkan pengingat
bahwa sebuah bangsa
tidak dibangun oleh gedung-gedung tinggi semata,
tetapi juga oleh kata-kata
yang menjaga nurani tetap hidup.
Sastra adalah ingatan.
Ia menyimpan sejarah
yang gagal dicatat laporan resmi.
Ia mengabadikan air mata
yang tak pernah masuk berita.
Ia menjadi rumah
bagi suara-suara kecil
yang sering kalah oleh gaduh kekuasaan.
Lalu,
kata-kata apa lagi yang hendak kaububuhi
ke dalam setiap kalimat,
ketika sastra telah menjadi
serpihan-serpihan kertas,
seribu sobekan yang tercerai,
bahkan sebelum sempat tampil
di panggung pembacaan?
Mungkin kita tak kekurangan penyair.
Yang kita kekurangan
adalah telinga yang mau mendengar,
mata yang mau membaca,
dan hati yang rela tinggal lebih lama
di dalam sebuah puisi.
Maka pada Hari Sastra ini,
jangan biarkan puisi sekadar menjadi hiasan lomba,
atau buku sekadar menjadi angka ISBN.
Biarkan sastra kembali menjadi napas peradaban,
tempat manusia belajar mencintai,
mengkritik tanpa membenci,
berbeda tanpa saling meniadakan,
dan mengingat bahwa kata-kata
selalu lebih panjang usianya
daripada kekuasaan.
Karena sesungguhnya,
selama masih ada seorang penyair
yang menyalakan lilin di tengah gelap zaman,
selama masih ada seorang pembaca
yang membuka halaman pertama dengan harapan,
sastra tak pernah benar-benar mati.
Ia hanya sedang menunggu
untuk dibaca,
dipahami,
dan dicintai kembali.
Diskusi