Artikel · Potret Online

Dari Ibuisme Negara ke “Ani-Ani Kapitalisme”: Transformasi Komodifikasi Perempuan dalam Kapitalisme Global

Penulis  Novita Sari Yahya
Juli 28, 2026
4 menit baca 5
IMG_2341
Foto / IlustrasiDari Ibuisme Negara ke “Ani-Ani Kapitalisme”: Transformasi Komodifikasi Perempuan dalam Kapitalisme Global
Disunting Oleh

Oleh: Novita Sari Yahya

Apakah kemajuan ekonomi dan kebebasan pasar selalu membawa pembebasan bagi perempuan? Ataukah kapitalisme global justru melahirkan bentuk baru dari objektifikasi, ketika tubuh, kecantikan, citra diri, dan relasi sosial perempuan berubah menjadi komoditas ekonomi?

Perkembangan kapitalisme global sejak akhir abad ke-20 telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya di berbagai negara, termasuk Indonesia. Liberalisasi ekonomi, kemajuan teknologi informasi, serta pertumbuhan industri media, hiburan, fesyen, periklanan, dan produk kecantikan telah membentuk budaya konsumsi yang semakin kuat. 

Perubahan tersebut memang membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan, memasuki dunia kerja, membangun usaha, dan berpartisipasi dalam berbagai sektor publik. Namun, bersamaan dengan peluang tersebut, kapitalisme pasar juga menghadirkan bentuk baru objektifikasi perempuan melalui komersialisasi tubuh dan citra.

Jika dahulu perempuan dikonstruksi terutama melalui peran domestik oleh negara, apakah di era kapitalisme global perempuan justru menghadapi bentuk kontrol baru melalui mekanisme pasar?

Dalam perspektif feminisme dan ekonomi politik, tubuh perempuan tidak hanya dipahami sebagai identitas biologis dan sosial, tetapi juga sebagai aset yang memiliki nilai ekonomi. Industri media dan periklanan sering menggunakan citra perempuan untuk menjual produk, gaya hidup, dan simbol keberhasilan sosial. 

Standar kecantikan diproduksi secara terus-menerus melalui media massa dan media sosial, sehingga perempuan sering dinilai berdasarkan penampilan fisik, popularitas, daya tarik, dan kemampuan mengikuti tren konsumsi.

Tulisan ini menggunakan istilah “ani-ani kapitalisme” sebagai metafora kritik sosial terhadap fenomena tersebut. Istilah ini bukan konsep akademik baku, melainkan konsep analitis yang diajukan penulis untuk menggambarkan bagaimana logika kapitalisme pasar dapat mendorong komodifikasi tubuh, citra diri, dan relasi sosial sebagai alat memperoleh mobilitas ekonomi maupun status sosial. 

Istilah ini tidak dimaksudkan untuk memberikan stigma kepada perempuan, tetapi untuk mengkritik sistem ekonomi dan budaya yang mengubah manusia menjadi objek nilai pasar.

Apakah perempuan benar-benar bebas ketika pilihan hidupnya dibentuk oleh tekanan standar kecantikan, konsumsi, dan pengakuan sosial yang diciptakan pasar?

Kapitalisme modern tidak hanya menjual barang dan jasa, tetapi juga menjual citra, gaya hidup, perhatian publik, bahkan identitas personal. Media sosial memperkuat fenomena tersebut melalui budaya pencitraan (self-branding), ekonomi perhatian (attention economy), dan industri influencer yang sering menghubungkan kesuksesan perempuan dengan kemewahan, kecantikan, serta kedekatan dengan simbol-simbol ekonomi tinggi.

Dalam sejarah Indonesia, perubahan ini dapat dipahami melalui pergeseran dari dominasi ibuisme negara (state ibuism) pada masa Orde Baru menuju pengaruh kapitalisme pasar. Julia Suryakusuma menjelaskan bahwa negara pada masa Orde Baru membangun konstruksi perempuan sebagai istri, ibu, pendamping suami, dan pengelola rumah tangga dalam kerangka pembangunan nasional. Identitas perempuan diarahkan untuk mendukung stabilitas politik dan ekonomi negara.

Namun, memasuki era globalisasi, negara bukan lagi satu-satunya kekuatan yang membentuk identitas perempuan. Pasar, media, dan industri budaya mengambil peran besar dalam menentukan gambaran perempuan ideal. Jika sebelumnya perempuan lebih banyak dikonstruksi berdasarkan kepentingan negara, maka dalam kapitalisme global perempuan berisiko dikonstruksi berdasarkan kepentingan pasar.

Apakah perubahan tersebut merupakan bentuk kebebasan baru, atau hanya perubahan dari kontrol negara menuju kontrol ekonomi?

Dalam kerangka inilah “ani-ani kapitalisme” menjadi kritik terhadap budaya yang menempatkan tubuh, kecantikan, dan relasi sosial sebagai modal ekonomi. Kritik ini bukan diarahkan kepada pilihan individu perempuan, melainkan kepada sistem yang mendorong penilaian perempuan berdasarkan nilai komersial, bukan berdasarkan kemampuan intelektual, kepemimpinan, kreativitas, integritas, dan kontribusi sosial.

Kritik terhadap objektifikasi perempuan bukan berarti menolak modernitas, pembangunan ekonomi, maupun kebebasan individu. Sebaliknya, kritik ini bertujuan memastikan bahwa kemajuan ekonomi tetap berjalan bersama penghormatan terhadap martabat manusia. 

Perempuan harus dipandang sebagai subjek yang memiliki hak menentukan kehidupannya sendiri, memperoleh pendidikan, memimpin, berkarya, dan berkontribusi bagi masyarakat tanpa direduksi menjadi objek konsumsi.

Sejarah Indonesia membuktikan bahwa perempuan memiliki tradisi panjang sebagai pemimpin, pendidik, pejuang, diplomat, dan pembangun peradaban. R.A. Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Rasuna Said, Laksamana Keumalahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi, Ratu Kalinyamat, hingga Ratu Zaleha menunjukkan bahwa perempuan Indonesia memiliki warisan kepemimpinan yang jauh melampaui konstruksi domestik maupun komersial.

Pada akhirnya, tantangan perempuan Indonesia abad ke-21 bukan hanya memperluas akses terhadap pendidikan, ekonomi, dan politik, tetapi juga membangun kesadaran kritis terhadap sistem yang dapat mengubah tubuh dan identitas perempuan menjadi komoditas. 

Modernitas yang berkeadilan adalah modernitas yang memberikan ruang bagi perempuan untuk berkembang sebagai manusia seutuhnya: merdeka, berdaya, berintegritas, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Daftar Referensi

Andaya, B. W. (2006). The flaming womb: Repositioning women in early modern Southeast Asia. University of Hawai’i Press.

Blackburn, S. (2004). Women and the state in modern Indonesia. Cambridge University Press.

Bordo, S. (1993). Unbearable weight: Feminism, Western culture, and the body. University of California Press.

Fraser, N. (2013). Fortunes of feminism: From state-managed capitalism to neoliberal crisis. Verso.

Robinson, K. (2009). Gender, Islam and democracy in Indonesia. Routledge.

Suryakusuma, J. (2011). State ibuisme: Konstruksi sosial keperempuanan Orde Baru. Komunitas Bambu.

Wieringa, S. E. (2002). Sexual politics in Indonesia. Palgrave Macmillan.

Wolf, N. (1991). The beauty myth. William Morrow.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...