Artikel · Potret Online

Ketika Jutaan Pangkah Membungkam Propaganda 

Penulis Reiner Ointoe
Juli 9, 2026
5 menit baca 2
6c50d0d1-63d8-4df3-b419-473c21311e89
Foto / IlustrasiKetika Jutaan Pangkah Membungkam Propaganda 
Disunting Oleh


Ketika Jutaan Pangkah Membungkam Propaganda 

Oleh Reiner Ointoe

Ada satu episode agung dalam sirah Nabi Muhammad SAW yang selalu layak dihadirkan ketika manusia kehilangan kejernihan dalam membaca kenyataan: peristiwa Thaif.

Pada hari itu, Rasulullah SAW datang membawa cahaya, tetapi disambut dengan cemooh, penghinaan, dan lemparan batu. Tubuh beliau terluka. Hatinya mungkin lebih terluka. Namun ketika malaikat menawarkan balasan yang dahsyat kepada kaum yang telah memperlakukannya secara biadab, Nabi tidak memilih dendam. Ia memilih rahmat. Ia tidak memandang mereka semata sebagai musuh, tetapi sebagai manusia yang belum mengerti.

Di titik itulah kita belajar: kebodohan sering kali lebih keras daripada batu. Ia tidak hanya melukai tubuh, tetapi juga menutup akal, membutakan hati, dan membuat manusia gagal membaca tanda-tanda besar yang terbentang di depan mata.

Hari-hari ini, dunia kembali menyaksikan sebuah peristiwa kolosal di tanah Iran. Jutaan manusia tumpah ke jalanan, membentuk lautan duka, doa, kesetiaan, dan perlawanan, mengiringi kepulangan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Bukan sekadar pemakaman seorang tokoh politik, melainkan sebuah peristiwa spiritual, sosial, dan geopolitik yang terlalu besar untuk direduksi menjadi sekadar seremoni kenegaraan.

Namun, seperti biasa, setiap peristiwa besar selalu diuji oleh dua hal: kejujuran mereka yang melihatnya, dan kebutaan mereka yang sejak awal memang tidak ingin memahami.

Sebagian media dan pengasong narasi Barat mencoba mengecilkan makna peristiwa itu. Mereka sibuk mencari celah, menyorot penundaan, mencurigai kerumunan, meremehkan kesedihan, bahkan menertawakan stabilitas sebuah bangsa yang sedang berkabung di tengah ancaman. Mereka melihat jutaan manusia, tetapi gagal membaca cinta. Mereka menyaksikan lautan pelayat, tetapi tetap memaksakan narasi bahwa bangsa itu retak, terpaksa, dan hidup dalam ketakutan.

Pertanyaannya: apakah mereka benar-benar tidak melihat?

Mereka melihat. Tetapi mereka menolak mengerti.

Inilah tragedi kaum yang berpikir dari dalam cangkang. Mereka tidak mampu membedakan antara kritik dan kebencian, antara analisis dan propaganda, antara fakta lapangan dan keinginan ideologis. Mereka ingin Iran runtuh, maka setiap peristiwa harus dibaca sebagai tanda keruntuhan. Mereka ingin rakyat Iran membenci pemimpinnya, maka jutaan manusia yang menangis pun harus dicurigai sebagai sandiwara. Mereka ingin dunia percaya bahwa Iran terisolasi, maka kehadiran berbagai delegasi dan simpati lintas negara pun harus dikecilkan maknanya.

Padahal, realitas kadang berbicara lebih keras daripada seribu editorial.

Pemakaman Ali Khamenei menjadi semacam plebisit organik: sebuah referendum tanpa kotak suara, tanpa kampanye, tanpa lembaga survei, tetapi dengan tubuh manusia yang hadir, air mata yang jatuh, doa yang dipanjatkan, dan langkah kaki yang bergerak menuju satu titik sejarah. Ketika sebuah bangsa rela memenuhi jalanan dalam suasana darurat, ancaman, dan tekanan, mereka sedang mengirim pesan yang tidak bisa dibantah oleh studio televisi mana pun: pemimpin ini bukan sekadar memerintah, ia hidup dalam memori, keyakinan, dan nadi rakyatnya.

Di sinilah propaganda menemukan batasnya.

Propaganda bisa membentuk persepsi, tetapi tidak selalu mampu membatalkan kenyataan. Ia bisa memotong gambar, mengatur judul, memilih narasumber, dan mengulang tuduhan hingga tampak seperti kebenaran. Tetapi ketika jutaan manusia hadir secara terbuka, ketika kota berubah menjadi sungai manusia, ketika duka berubah menjadi energi kolektif, maka propaganda kehilangan daya sihirnya.

Ia retak oleh kenyataan.

Hitam yang berkibar dalam prosesi itu bukan sekadar warna duka. Ia adalah simbol kehilangan yang dalam, kesedihan yang tidak dibuat-buat, dan penghormatan kepada seorang pemimpin yang dipandang sebagai penjaga arah. Tetapi merah yang hadir berdampingan dengannya juga tidak kalah penting. Merah bukan sekadar warna kemarahan. Ia adalah tanda bahwa duka tidak selalu melahirkan kelemahan. Dalam tradisi perlawanan, duka bisa menjadi api. Kehilangan bisa menjadi ikrar. Air mata bisa berubah menjadi tekad.

Itulah yang sering gagal dipahami oleh mereka yang membaca Timur dengan kamus Barat, membaca Syiah dengan prasangka lama, dan membaca Iran hanya dengan kacamata geopolitik permusuhan.

Mereka lupa bahwa dalam tradisi Ahlul Bait, kematian bukan selalu akhir. Dalam banyak momentum, kematian justru menjadi kesaksian. Sejarah Karbala telah mengajarkan bahwa tubuh bisa dihentikan, tetapi makna tidak mudah dikuburkan. Pemimpin bisa wafat, tetapi garis perjuangan tidak otomatis padam. Bahkan sering kali, justru setelah kematian, sebuah bangsa menemukan kembali pusat gravitasi moralnya.

Maka, penundaan pemakaman selama berbulan-bulan akibat situasi perang dan agresi bukanlah bahan olok-olok. Justru di situlah terlihat ketahanan negara. Sebuah bangsa yang berada di bawah tekanan besar masih mampu menjaga ritme, mempertahankan stabilitas, mengatur penghormatan terakhir, dan memastikan bahwa prosesi itu tidak berubah menjadi kekacauan. Itu bukan tanda rapuh. Itu tanda disiplin sejarah.

Yang rapuh justru nalar mereka yang menertawakan duka orang lain.

Sebab hanya bangsa yang kehilangan empati yang bisa melihat pemakaman sebagai panggung ejekan. Hanya manusia yang miskin literasi sejarah yang mengira bahwa jutaan pelayat bisa dijelaskan semata-mata sebagai mobilisasi politik. Dan hanya mereka yang terkurung dalam kebencian yang gagal memahami bahwa cinta kepada seorang pemimpin, terutama dalam masyarakat yang memiliki tradisi spiritual kuat, bukanlah sesuatu yang bisa diukur dengan standar sinis para komentator studio.

Peristiwa ini, pada akhirnya, bukan hanya tentang Iran. Ini tentang cara kita membaca dunia. Apakah kita masih sanggup melihat fakta meskipun fakta itu tidak sesuai dengan selera politik kita? Apakah kita masih mampu menghormati duka sebuah bangsa meskipun kita berbeda mazhab, ideologi, atau posisi geopolitik? Apakah kita masih memiliki adab untuk tidak menertawakan air mata manusia lain?

Kisah Thaif mengajarkan bahwa kebodohan tidak selalu harus dibalas dengan kebencian. Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa kebodohan yang terus dipelihara harus dibongkar dengan keberanian.

Maka kita katakan dengan lugas: pemakaman Ali Khamenei bukan bukti Iran runtuh, melainkan bukti bahwa propaganda tentang keruntuhan Iran telah runtuh lebih dulu. Jutaan manusia telah menjawab. Dunia telah menyaksikan. Dan siapa pun yang masih menolak membaca kenyataan itu, sesungguhnya bukan sedang membela kebenaran—ia hanya sedang mempertahankan kebodohannya sendiri.

*Dicopas dari FB Hasyim Arsal Alhabsi, Dehills Institute. 

(Foto dari Mujtahid Hashem langsung dari lokasi)

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Reiner Ointoe
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...