Kisah di Balik Perayaan Maulid di Masjid Al Ishlah Lhoknga

:
Penjagaa Kehormatan Jasad Syuhada Tsunami dari Gigitan Anjing Liar
Oleh: NA Riya Ison
Selasa, 25 Agustus 2026, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Lantunan salawat membubung tinggi, menyusup di antara pilar-pilar kokoh Masjid Al Ishlah, Lhoknga, Aceh Besar.
Hari itu, saya bersama Bang Sayed Muhammad Husen dan Irvandi mewakili BKM Aceh Besar News melangkah masuk ke pekarangan masjid untuk menghadiri Kenduri Maulid Perdana. Di sana, ratusan warga berkumpul, termasuk Bupati Aceh Besar dan Syekh Muharram Idris.
Tepat saat kaki kami menginjak lantai masjid, azan Ashar berkumandang syahdu. Di sudut halaman, anak-anak yatim tersenyum ceria menikmati hidangan maulid, disusul acara “makan besar” bersama warga setelah salat berjamaah.
Suasana begitu hangat, penuh berkah, dan damai. Perayaan kelahiran Baginda Nabi ini terasa kian sakral karena dilaksanakan berdekatan dengan momen refleksi 21 tahun penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2026. Agustus memang selalu melahirkan rasa syukur yang mendalam, sebuah bulan yang kini diayomi sebagai Bulan Damai Aceh.
Namun, bagi saya pribadi, Masjid Al Ishlah bukan sekadar tempat ibadah berarsitektur indah. Setiap kali menatap kubah dan halamannya, ingatan saya langsung terlempar ke masa 22 tahun silam.
Di tanah ini, tertoreh sebuah kisah humaniora yang menggetarkan nurani—sebuah fragmen sejarah tentang keikhlasan tanpa batas dari para relawan Palang Merah Indonesia (PMI) yang memikul tugas “tidak lazim” demi menjaga kehormatan mereka yang telah tiada.
Kilas balik ini menyadarkan saya, jauh sebelum damai ini bersemi, aksi kemanusiaan para sukarelawan PMI telah diuji di atas bara api. Sejak masa-masa kelam konflik bersenjata berkecamuk di Aceh hingga hantaman mahadahsyat bencana tsunami, gerakan mereka adalah murni kemanusiaan yang berakar kuat di dalam rahim keikhlasan.
Di saat semua orang berlari menjauh mencari selamat, seragam palang merah itu justru melangkah mendekat, merengkuh yang terluka tanpa pernah bertanya dari kubu mana mereka berasal.
Mundur ke awal tahun 2005, sekitar tiga pekan setelah bencana gempa dan tsunami meluluhlantakkan Serambi Mekah. Satu tim yang terdiri dari 15 relawan PMI mendirikan tenda posko darurat di halaman Masjid Al Ishlah—yang saat itu statusnya baru saja berubah dari musala menjadi masjid.
Fokus mereka berat: melakukan asesmen, memberikan pelayanan kesehatan, dan yang paling menguras emosi serta tenaga, mengevakuasi jenazah korban tsunami di Kecamatan Lhoknga. Sebelum membuka posko di masjid ini, relawan PMI sudah membuka posko di halaman rumah warga di Gampong Lam Gaboh, yang jarak keduanya berdekatan.
Pada hari pertama penyisiran, tim berhasil mengevakuasi puluhan jenazah. Tubuh-tubuh kaku para syuhada itu dibawa ke dekat lapangan golf untuk dimasukkan ke dalam lubang kuburan massal. Namun, karena kuota lubang belum penuh, hari itu tanah belum ditimbun menggunakan alat berat. Jenazah-jenazah di dalam kantong plastik hitam itu ditinggalkan untuk sementara waktu.
Keesokan paginya, saat relawan kembali ke area pemakaman untuk melanjutkan tugas, sebuah pemandangan menyayat hati menyambut mereka. Kantong-kantong jenazah itu koyak dan acak-acakan. Beberapa jasad tersembul keluar dengan bekas gigitan yang memiriskan hati. Di kejauhan, tampak sekawanan anjing dengan tubuh kurus kering, tulang-belulangnya menonjol karena kelaparan hebat pascatsunami. Hewan-hewan yang malang dan lapar itu telah mengoyak plastik demi mencari makanan.
Melihat pemandangan yang merobek perasaan itu, naluri kemanusiaan para relawan berontak. Mereka tidak rela tubuh para syuhada yang sudah wafat dalam bencana harus terluka lagi oleh alam. Maka, lahirlah sebuah keputusan yang tak pernah ada dalam buku panduan relawan mana pun: membawa jenazah-jenazah yang baru dievakuasi ke sekeliling tenda tempat mereka tinggal.
Bayangkan sebuah situasi yang menguji batas kemanusiaan. Tenda yang seharusnya menjadi satu-satunya tempat bagi relawan untuk meluruskan punggung yang lelah, melepas penat setelah seharian menghabiskan enerji di lapangan, kini dikelilingi oleh barisan jenazah. Aroma pekat kematian menyengat hidung. Walau ada beberapa jasad yang tercium wangi, sebagian besar mengeluarkan aroma khas jenazah berhari-hari tidak dikuburkan.
Tetapi, para relawan memilih bertahan. Mereka menolak tidur demi menjaga malam.
“Masjid ini menjadi posko tenda relawan PMI pascatsunami. Ada peristiwa menggugah nurani, sebab saat korban yang sudah dievakuasi tetapi belum bisa ditimbun untuk dikubur, ternyata dikoyak anjing… Lalu relawan membawa dan menjaga korban di depan tenda agar tidak diganggu anjing. Masya Allah,” tulis saya saat membagikan foto maulid ke WhatsApp Group (WaG) Jalinan Silaturrahmi Sukarelawan.
Pesan singkat yang saya kirimkan sore itu bak pemantik memori lama. Ruang obrolan digital itu langsung riuh oleh haru dan rasa hormat dari rekan-rekan seperjuangan dulu.
“Aq salah satu anggota team saat relawan di kamp Lhoknga yang tendanya digaru-garu anjing malam, setelah sore mayat-mayat ditutup dengan seng yang ada… Mungkin karena penciuman anjing yang kuat tahu yang nutup mayat-mayat buat makan anjing saat itu,” balas Kukuh, relawan asal Jawa Tengah yang saat itu bertugas bersama rekan-rekan dari Bangka Belitung (Babel) dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
Kukuh mengenang bagaimana di kegelapan malam Lhoknga yang sunyi, di luar kain terpal tenda mereka, terdengar suara cakar-cakar anjing kelaparan yang berusaha menggapai seng penutup jenazah. Malam-malam mereka habis dalam kesiagaan, mengusir hewan-hewan tersebut demi memastikan jasad saudara-saudara mereka tetap utuh hingga fajar tiba, menunggu tanah timbunan dipastikan siap agar bisa dikuburkan secara layak.
“Luar biasa, sehat selalu senior,” sahut relawan lainnya.
Dari obrolan itu, mozaik kisah masa lalu kembali tersusun. Ternyata posko Lhoknga merupakan kolaborasi kemanusiaan yang indah dari berbagai penjuru negeri: relawan dari Malang, Lampung, Jawa Tengah, Babel, Kalsel, hingga relawan lokal Aceh Besar.
Dari chat grup ini pula diketahui bahwa tim medis hanya bertugas selama dua hari di Lhoknga, sebelum akhirnya ditarik ke posko induk di Show Room Toyota Lueng Bata.
Zia, seorang relawan PMI Aceh Besar yang kini mengabdi di Aceh Tengah, turut memvalidasi getirnya perjuangan masa itu. “Kasus mayat dibawa lari binatang ini juga kami alami di tempat yang sama. Kami adalah penerus pos itu setelah tim relawan pusat ditarik,” tulisnya.
Tantangan pun seolah tak berhenti datang. Kisah sedih kembali menyeruak saat teringat deru helikopter berbaling-baling ganda (twin-rotor) yang kerap melintas di atas kepala. Empasan angin kencang dari helikopter itu sering kali menerbangkan terpal penutup kuburan massal, memaksa para relawan untuk berkali-kali mendirikan kembali tenda dan merapikan ulang jasad-jasad yang terbuka.
Upah Perdamaian
Kenduri Maulid Nabi yang bergaung indah dalam nuansa Bulan Damai Aceh hari ini terasa begitu khidmat. Di atas tanah Lhoknga yang kini damai, makmur, dan bersih ini, puluhan tahun lalu pernah ada anak-anak muda dari berbagai negeri yang mengorbankan ego, mengabaikan rasa takut, dan menepis rasa jijik demi sepotong prinsip universal: memanusiakan manusia, bahkan hingga helaan napas terakhir mereka yang bertitel “syuhada tsunami”.
Menjaga jenazah dari gigitan anjing kelaparan di tengah pekat dan baunya malam bukanlah tugas yang lazim. Namun, di tangan para relawan PMI, tugas itu bertransformasi menjadi ibadah yang teramat sunyi. Mereka melipat rasa lelah menjadi sajadah keikhlasan yang tak bertepi.
Kini, dua dekade telah berselang. Ketika panggung-panggung perayaan damai didirikan setiap tanggal 15 Agustus dan pembagian peran kepemimpinan dilakukan, nama-nama para relawan kemanusiaan ini acap kali luput dari catatan sejarah. Mereka adalah pihak yang dilupakan di tengah riuhnya pembagian kue hikmah perdamaian.
Namun menakjubkannya, tak sebaris pun keluhan keluar dari bibir mereka. Mereka tetap memilih jalan senyap, tidak pernah bernyanyi kidung tentang “ketidakadilan”, pun tidak pernah meminta imbalan apa-apa atas tetes keringat, air mata, bahkan darah yang pernah mereka pertaruhkan. Bagi mereka, kedamaian Aceh yang utuh dan senyum anak-anak yatim yang menyantap hidangan maulid di pelataran masjid hari ini adalah upah terbaik yang sudah lunas dibayarkan oleh sejarah.
Selamat merayakan Maulid Nabi di Bulan Damai, Masjid Al Ishlah. Dan tabik hormat setinggi-tingginya untuk seluruh relawan kemanusiaan yang jejak kakinya mungkin tak tertulis di atas prasasti perdamaian, namun namanya abadi dalam doa-doa sunyi Bumi Serambi Mekah.












