POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Aceh

Aceh Mengaji Masihkah Menjadi Tradisi?

Redaksi by Redaksi
Maret 25, 2026
in Aceh, Pendidikan karakter
0
Evening street scene with people socializing

Ilustrasi Kehidupan Aceh di senja hari oleh AI

Oleh Nurwida

“ Alif, Ba, Tsa “, terdengar bacaan Iqrak di salah satu rumah masyarakat Aceh. Dulu di rumah warga Aceh akan terdengar bacaan Al-Qur’an. Waktu setelah magrib di desa maupun kota. Tidak ada kegiatan lain selain menyempatkan diri baca Al-Qur’an bagi orang dewasa. Anak-anak diajari “ mengaji” oleh orang tuanya. 

Seakan dengan tidak membaca Al-Qur’an terasa ada yang hilang.  Pendidikan Islam dimulai dari rumah. Orang tua mengambil peran utama, menjadi pijakan bagi generasinya untuk mengenal Islam dari rumah. Tempat pengajian hanya memolesnya saja. Karena pondasinya sudah ada. 

Aceh Mengaji Masihkah Menjadi Tradisi? - 0418BEB3 AEAD 4BC8 AE46 C694029A2162 | Aceh | Potret Online
Baca Juga
Aceh
BrainScience Academy Malaysia dan UMMAH Dirikan Laboratorium Terapi Berteknologi Tinggi untuk Disabilitas
31 Agu 2022
Selengkapnya

Orang Aceh tidak bisa membaca Al-Qur’an menjadi pertanyaan dan tabu dalam lingkungan sosialnya.  Namun sekarang ada yang berbeda. Budaya itu telah pudar dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh. 

Peran itu telah diambil oleh balai pengajian dan maupun lembaga pendidikan lainnya. Dengan berbagai kelompok umur. Yang seharusnya peran tersebut diambil oleh orang tua sebagai madrasah pertama. 

Aceh Mengaji Masihkah Menjadi Tradisi? - 53d3f1ec 74d2 43b5 b2e1 bb5c388d89c2 | Aceh | Potret Online
Baca Juga
Aceh
Selamat Ulang Tahun ke-22 Majalah POTRET
10 Jan 2025
Selengkapnya

Di samping itu saat sekarang, tempat pengajian juga tidak terlalu diminati. Dapat kita lihat, tempat pengajian terkadang sepi dari penuntut ilmu agama. 

Hingga berbangga hati tanpa disadari bahwa budaya kita telah tergerus tsunami bernama media sosial. Memang potret budaya Islam masih terlihat. Tapi itu hanya terlihat ketika hari-hari besar Islam. 

27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e
Baca Juga
Esai
Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami
23 Apr 2026
Selengkapnya

Perayaannya begitu luar biasa. Kemudian, pernahkan kita memaknai atau generasi memaknai budaya tersebut. Jangan-jangan itu hanya sebagai seremonial saja dan adu gengsi. 

Perhatikanlah keadaan Aceh sekarang. Tak bisa dipungkiri, budaya setelah magrib, biasanya disambut riuh orang-orang membaca Al-Qur’an. Sekarang sunyi, bergantikan suara telivisi dan suara HP. Anak-anak kita sekarang lebih memilih memandang Hpnya berlama-lama dan nongkrong. 

Anak-anak Aceh sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dengan nongkrong di kedai kopi dan sejenisnya. Bermain game dan bermedia sosial.  

Melihat fenomena ini, yakinkah kita akan bertahan dari air bah ini. Ketika generasi kita mulai tak berminat lagi untuk belajar identitasnya. Membuang kulturnya, ataukah kita harus siap-siap Aceh berganti wajah ke arah daerah tanpa mengenal warisannya. 

Previous Post

Membongkar Missile City 505, Kota Misil Bawah Tanah Iran

Next Post

Berhenti Bertanya “Apakah Aku Berbakat?”

Next Post
Aceh Mengaji Masihkah Menjadi Tradisi? - Perkembangan bakat dalam tiga tahap_11zon | Aceh | Potret Online

Berhenti Bertanya “Apakah Aku Berbakat?”

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah