Opini · Potret Online

Ketika Pendidikan Kehilangan Arah

Penulis  Nurul Hikmah
Mei 23, 2026
5 menit baca 26
ec7df225-9df2-4999-8ebc-a417bd8ca294
Foto / IlustrasiKetika Pendidikan Kehilangan Arah
Disunting Oleh

Oleh: Nurul Hikmah, S.Pd.I., M.A

Beberapa hari lalu terjadi perselisihan antara dua fakultas di salah satu kampus terbaik di Aceh. Konflik itu tidak berhenti pada adu argumen, tetapi berujung pada aksi bakar-membakar. Peristiwa ini memaksa kita berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya arah pendidikan kita sedang menuju ke mana? Mengapa ada tindak anarkis yang terjadi di lingkungan pendidikan? Di mana letak kesalahannya?

Secara usia, para pelaku sudah dewasa. Tubuh sudah besar, status sudah baligh, dan gelar sudah berubah dari siswa menjadi maha-siswa. Namun, kita sering lupa bahwa baligh tidak selalu berarti aqil. Dalam Islam, baligh menunjukkan seseorang telah dewasa secara fisik; tubuh berkembang, organ seksual berfungsi, dan secara biologis ia bukan lagi anak kecil. 

Akan tetapi, aqil adalah tingkat yang berbeda. Aqil menunjukkan kematangan akal, kemampuan berpikir jernih, memahami sebab-akibat, mengendalikan emosi, serta bertanggung jawab atas tindakan sendiri.

Masalahnya, banyak anak hari ini tumbuh menjadi baligh lebih cepat daripada aqil. Tubuh mereka dewasa, tetapi pola pikir masih rapuh. Emosi mudah terbakar, amarah mudah diprovokasi, dan kekerasan sering dianggap jalan tercepat untuk menyelesaikan masalah.

Lalu muncul pertanyaan penting: apakah mereka sepenuhnya salah? Apakah mereka benar-benar pelaku atau malah korban dari sitem pendidikan selama ini? 

Jawabannya tidaklah sederhana. Sebelum mereka menjadi mahasiswa, mereka adalah anak-anak yang tumbuh dengan menyerap apa yang dipertontonkan orang dewasa. Mereka belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari rumah, media sosial, sekolah, lingkungan, dan para pemimpin.

Ketika anak terus-menerus melihat kemarahan yang dipertontonkan. Mereka mendengar para orang tua meneriaki pembuat masalah dengan kata-kata seperti “bakar, hancurkan, atau “habisi!” seolah olah hanya dengan begitu masalah bisa diselesaikan, maka alam bawah sadar mereka merekam bahwa kekuatan itu identik dengan agresi. 

Mereka belajar bahwa marah adalah hal biasa, tetapi sayangnya tidak diajarkan bagaimana mengelola kemarahan itu dengan sehat. Akibatnya, ketika emosi memuncak, kekerasan terasa seperti sesuatu yang wajar. Dari sanalah seharusnya pendidikan mulai memainkan perannya.

Pendidikan seharusnya hadir sebagai penyeimbang. Tugas pendidikan bukan sekadar membuat anak pintar menghafal teori, melainkan membentuk manusia yang aqil—mampu berpikir sebelum bertindak, mampu berdialog tanpa bertindak di luar logika, dan siap menjadi berbeda tanpa ingin menghancurkan perbedaan.

Namun di sinilah letak kegelisahan terbesar kita hari ini. Pendidikan modern perlahan bergerak menjadi sistem yang menyeragamkan manusia. Kurikulum diarahkan ke satu titik yang sama, seolah semua anak harus berpikir dengan cara yang identik, memiliki standar keberhasilan yang sama, dan berjalan di jalur yang telah ditentukan. 

Pendidikan tidak lagi menghargai keunikan, karakter, serta potensi alami setiap individu.

Dalam kondisi seperti itu, pendidikan berubah menjadi mind control yang halus. Anak-anak dibentuk agar mudah diarahkan, bukan agar mampu mengenal dirinya sendiri. Mereka dipaksa mengikuti cetakan yang sama, sementara ruang untuk berpikir berbeda semakin sempit. 

Padahal manusia tidak diciptakan seragam. Ada anak yang unggul dalam seni, ada yang kuat dalam logika, ada yang lahir dengan jiwa pemimpin, ada pula yang tumbuh sebagai pemikir tenang. Ketika semuanya dipaksa menuju satu standar, identitas perlahan terkikis.

Akibatnya, banyak generasi muda tumbuh dalam kebingungan. Mereka kehilangan arah, kehilangan makna, bahkan kehilangan kemampuan memahami dirinya sendiri. Saat tekanan datang, sebagian memilih diam, sebagian menjadi apatis, dan sebagian lainnya meluapkan emosi secara destruktif.

Kesalahan ini tentu tidak hanya milik mahasiswa. Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir anak. Banyak anak tumbuh dengan fasilitas yang cukup, tetapi miskin perhatian dan dialog. Mereka diajarkan mengejar nilai tinggi, tetapi tidak diajarkan cara mengelola emosi, menerima kegagalan, atau menyampaikan pendapat tanpa kebencian.

Guru dan dosen pun berada dalam tekanan sistem yang sering lebih sibuk mengejar administrasi daripada membangun hubungan manusiawi dengan peserta didik. Pendidikan akhirnya menjadi hubungan formal yang dingin: murid hadir untuk mendengar, bukan untuk dipahami.

Di sisi lain, para pemimpin dan tokoh publik sering mempertontonkan konflik tanpa kedewasaan. Generasi muda menyaksikan hinaan, kebencian, dan kemarahan menjadi konsumsi harian. Mereka melihat bagaimana kekuasaan kadang dipertahankan dengan provokasi, bukan dengan keteladanan. Dalam situasi seperti ini, tidak heran jika sebagian anak muda tumbuh dengan cara berpikir yang keras.

Sejarah pernah memberi contoh berbeda. Ketika Umar bin Abdul Aziz memimpin, keadilan ditegakkan hingga muncul ungkapan bahwa serigala pun tidak mengganggu kambing gembalaan. Pesan dari kisah itu jelas: jika yang mengarahkan kehidupan manusia memiliki akhlak dan keadilan, maka masyarakat yang dipimpin pun ikut membaik.

Karena itu, ketika mahasiswa bertindak anarkis, pertanyaan yang lebih jujur bukan hanya “siapa yang salah?” melainkan “apa yang gagal kita bangun selama ini?” Bisa jadi yang kita lihat hari ini hanyalah hasil dari akumulasi panjang: pola asuh yang keras, pendidikan yang kehilangan ruh, lingkungan sosial yang penuh amarah, serta hilangnya keteladanan dari orang dewasa.

Pendidikan yang sehat tidak melahirkan pembakar, tetapi pembangun. Ia tidak menciptakan generasi yang mudah diprovokasi, melainkan generasi yang mampu berpikir jernih di tengah emosi. 

Sudah saatnya kita berhenti hanya membesarkan manusia agar baligh secara fisik, lalu mulai mendidik mereka agar aqil dalam pikiran dan tindakan.

Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang dewasa tubuhnya, tetapi juga dewasa akalnya.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Artikel ini merupakan tulisan opini. Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi Redaksi Potret Online.
Tentang Penulis
Guru SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...