HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Yang Bertahan Hidup dan Mencari Yang Termudah

Redaksi by Redaksi
November 16, 2024
in Artikel, Banda Aceh, Bidik, FEB UIN Ar-Raniry, FEBI, gepeng, POTRET Budaya
Reading Time: 243 mins read
0
Yang Bertahan Hidup dan Mencari Yang Termudah
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Zahara Muharama

Baca Juga

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026

Mahasiswi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Nasib manusia itu berbeda-beda. Ada yang bernasib baik, bisa hidup sejahtera dan bahagia. Ada pula yang harus melewati hidup yang penuh penderitaan. Namun, Allah telah mengingatkan kita bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang, kecuali orang atau kaum itu sendiri yang mengubahnya. Maka, dalam realitas kehidupan kita, kita melihat ada banyak orang yang kaya raya, cerdas dan bijak, ada pula yang hidup menderita dan harus meminta-minta.

Kondisi ini bisa kita temukan di sekitar kita. Misalnya, di tengah keramaian Pasar Aceh, para pengemis bergerilya,  meminta-minta / Tak hanya sekadar soal tangan yang meminta, tetapi juga memiliki cerita tentang perjalanan hidup yang penuh warna. Di dekat deretan toko pakaian, di pasar Aceh, terlihat seorang ibu berusia sekitar 30 tahun berjalan bersama anaknya yang masih kecil sekitar 10 tahun. Penampilannya lusuh, membawa kantong plastik di tangannya. Sementara anaknya yang mengenakan tas sekolah dan masker setia berjalan di sampingnya.

Penulis yang sedang mendapat tugas melakukan observasi pengemis di kota Banda Aceh,mencoba mendekati dan mengajak bicara. Ketika berbicara dengan ibu tersebut, terungkap sebuah kisah yang menyentuh hati. Ibu ini bukan asli Banda Aceh, tetapi datang ke kota dalam keadaan terpaksa. Di kampung halamannya ia tinggal bersama orang tuanya. Ia pernah berusaha mencari penghasilan dengan berjualan kue, tetapi usaha itu seringkali merugi karena barang dagangannya jarang laku.

Akhirnya, dengan modal habis dangan beban hidup yang semakin berat, ia tak memiliki pilihan lain selain menumpang di rumah orang tuanya. Namun, ia merasa tidak enak hati harus bergantung pada mereka yang sudah lanjut usia dan juga membutuhkan perawatan. Maka, dengan tekad untuk mandiri dan tidak terus-menerus menyusahkan keluarganya, ia memutuskan untuk pergi ke Banda Aceh, berharap bisa mendapatkan pekerjaan di sana.

Sayangnya, kesempatan kerja tak semudah itu didapatkan. Setelah beberapa hari berjuang tanpa hasil, ia akhirnya merasa terpaksa menjadi pengemis demi kebutuhan hidupnya dan, terutama untuk memberi makan anak-anaknya. Situasi ini membuatnya harus menghilangkan rasa malu dan harga diri demi keberlangsungan hidupnya dan anak-anaknya.

Sementara itu, hanya beberapa meter dari tempat ibu tadi berjalan, ada seorang bapak berusia sekitar 40 tahun yang duduk di depan toko elektronik. Tubuhnya kurus dan pakaiannya sangat lusuh. Di sampingnya, ada sebuah ember kecil yang digunakan untuk mengumpulkan uang pemberian dari orang-orang yang melintas.

Berbeda dengan ibu tadi yang dilanda keadaan mendesak, bapak ini memiliki alasan yang cukup mengejutkan mengenai alasan ia mengemis. Ketika ditanya, dengan jujur ia mengaku bahwa ia memilih mengemis karena merasa malas bekerja keras. Menurutnya, pekerjaan serabutan yang pernah ia lakukan memberikan penghasilan yang terlalu rendah dan membutuhkan tenaga yang banyak, upah yang didapat hanya sekitar Rp50.000 per hari. Tetapi dengan mengemis, ia bisa mendapatkan lebih banyak, hingga Rp80.000-100.000 dalam sehari, tanpa harus menguras tenaga. Baginya, mengemis adalah pilihan kerja yang lebih mudah dan menguntungkan. Tak ada rasa terpaksa atau malu dalam dirinya, justru ia merasa puas dengan uang yang ia dapatkan dari pekerjaan ini.

Dari hasil pengamatan dan wawancara, terlihat betapa beragamnya alasan di balik tindakan mengemis di Pasar Aceh.Di satu sisi, ada mereka yang terpaksa karena keadaan, seperti ibu yang berjuang sendirian demi anak-anaknya. Ia adalah seseorang yang pernah mencoba bertahan dengan usaha yang jujur, tetapi akhirnya terjatuh karena keterbatasan ekonomi. Di sisi lain, ada juga yang secara sadar memilih mengemis, seperti bapak tadi, yang melihat kegiatan ini sebagai jalan pintas untuk mendapatkan penghasilan lebih besar, tanpa banyak usaha.

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa di balik aktivitas yang mungkin terlihat serupa, ada latar belakang dan motivasi yang sangat berbeda. Pasar Aceh menjadi saksi bisu dari perjuangan dan pilihan hidup orang-orang yang, meski sama-sama berlabel pengemis, memiliki cerita unik yang tidak selalu dapat diukur dengan satu perspektif saja. Kisah mereka mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam sebelum menilai, karena setiap orang memiliki alasan yang membentuk jalan hidup mereka masing-masing.

Dokumentasi

D26EA5DE-D9EB-47E7-847B-D502314D797C.jpg

0383FECB-3D6B-4533-9DA8-ACAE00E6CEF5.jpg

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 103x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #analisis#pengemis
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Artikel

Borderless World: Ketika Sejarah Berulang dalam Perfektif Budaya

Maret 4, 2026
Kampus

Dialetika Kampus

Februari 27, 2026
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
#Pendidikan

Menggugat Kualitas Pendidikan Tinggi Indonesia: Antara Kuantitas dan Kualitas

Agustus 4, 2025
Sekolah Rakyat
#Krisis Ekonomi

Dari Meja Dapur ke Meja Pemerintah: Memahami Krisis Ekonomi di Aceh

Mei 6, 2025
Next Post
Ia Terpaksa Ngesot Mengais Rezeki Untuk Sehari-hari

Ia Terpaksa Ngesot Mengais Rezeki Untuk Sehari-hari

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com