Ketika Keluarga Mewariskan Profesi Pengemis Kepada Anak

Ketika Keluarga Mewariskan Profesi Pengemis Kepada Anak - e738cf68 b3ae 44fc 8b51 e97c6ba31016 | Aceh | Potret Online
Ilustrasi: Ketika Keluarga Mewariskan Profesi Pengemis Kepada Anak

Baca Juga

ADVERTISEMENT

Oleh Putri Bungsu Siregar,

Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Ranniry, Darussalam, Banda Aceh

Di sebuah kota bagian paling Barat Indonesia, yang dijuluki dengan Aceh, memiliki cerita-cerita indah dan juga kelam di tanahnya. Dari 262.960 jiwa di kota bersejarah,  Banda Aceh ini berdiri satu jiwa.

Melalui amatan, tulisan ini ingin merepresentasikan perasaan penulis.  Kota ini (Banda Aceh) ramai dengan pengemis yang tersebar di setiap sudut kota. Mereka beraktivitas siang dan malam. Bukan hal aneh bahwa malam-malam di kota ini ramai di tengah keramaian manusia dengan kesibukan dan kepentingannya masing-masing.

Pada sekitar pukul  21.00 WIB, satu keluarga berjalan melewati jembatan yang jembatan Lamnyong, Banda Aceh. Mereka keluarga yang lengkap,  dengan kedua orangtua, anak laki-laki dan anak perempuan yang perkiraan umur 7-10 tahun ikut menggiring bersama orangtua dengan pakaian sederhana dan membawa tas ransel yang entah berisi apa. Mereka mencari  perhatian  orang yang iba atau bersimpati atawa berempati pada mereka.

Anak-anak berjalan sambil memegang sebuah kotak kardus yang dilapisi lakban berwarna coklat. Mereka tidak  mau memperlihatkan wajah, juga orangtua mereka memakai masker, sambil berjalan dengan lincahnya, menyusuri jalanan gelap dengan lampu-lampu toko dan jalan sebagai penerang.

Kemudian, selain mereka ada lagi keluarga yang  berjalan beriringan dengan tujuan untuk meminta-minta di malam itu bukan bersama satu keluarga yang baru dipaparkan, anak ini berkisaran umur 10-13 tahun dengan membawa kotak kecil dan berjalan entah darimana, namun sedikit terabai sebab fokus pada pengemis satu keluarga.

Melihat realitas itu, banyak pertanyaan bergayut  di benak, bagaimana bisa ke-2 orang anak harus ikut dalam pekerjaan orangtua mereka? Beban, trauma, pendidikan, serta pola pikir anak, apakah suatu saat akan berpengaruh pada mereka?  Anak-anak seharusnya hidup dalam rasa aman, bahagia, damai di dalam rumah, namun harus ditampar oleh kenyataan hidup bahwa mereka harus menanggung atas pekerjaan dan kewajiban orangtua mereka.

Tidak hanya sampai disitu, di lain waktu, di tempat yang sama diperlihatkan lagi dengan fenomena yang menjadi prasangka-prasangka dan pertanyaan-pertanyaan muncul, dimana seorang ibu dengan perawakan lusuh tak terurus, kumuh dan sangat memperhatinkan, tiba-tiba di sudut sibuknya malam kota Banda Aceh, dia menyimpan rahasia.

Ada misteri yang memperlihatkan bahwa keadaan seorang ibu tersebut tidak seperti yang tampak saat dikeramaian. Kerudung tak beraturan dikeramaian, kini rapi dalam kesepian, mengapa? Inikah sebuah modus?

Tapi, orang-orang di sekitar memberi uluran tangan berupa uang koin, uang kertas, memberi rasa kasih,  akibat kasihan pada keadaan yang dipertontonkan. Sebagian lagi menatapnya dengan pandangan penuh curiga, dan penuh tanya. Namun, tak jarang ada yang berhenti dan mengajaknya berbicara, memberi sentuhan perhatian, lebih dari sekadar memberi uang.

Itulah mungkin hal yang tidak bisa kita bayangkan. Ternyata hidup dalam bayang-bayang kemiskinan serta ketidakmauan bekerja, membuat pekerjaan ini menjadi hal yang tidak mengundang malu lagi. Sebab itu timbul dalam benak, hal tersembunyi yang sering terlewat oleh mata, bising, namun bisu. Tak terlintas di kepala. Sebab perasaan, penulis bukan ingin menjudge pengemis ini “negatif” tetapi mengapa?.

Profesi ini seolah menjadi satu profesi yang menjadikan masyarakat malas bekerja dan lebih memilih mencari belaskasih dari orang lain. Entah itu sebab sulitnya mencari pekerjaan atau mungkin hal lain yang lebih mencengangka,  jika alasan-alasan pengemis telanjang dipertontonkan.

Mengapa penulis mengatakan seperti itu,karena alasan apa yang bisa diterima dengan badan yang masih sehat, tubuh yang masih bugar nampak masih mampu untuk mencari pekerjaan halal lainnya, namun lebih memilih mengemis. Menjadi pengemis, dan tetap memilih mengemis di jalanan.

Kegiatan  ini dilakukan berulang saat malam hari. Entah motif apa yang para pengemis ini lakukan sebab beroperasi di sudut kota ini hanya saat malam atau mungkin melakukan itu pada sudut-sudut kota lain di waktu-waktu yang sudah diatur sedemikian rupa, yang menjadikan orang-orang ini memilih untuk memelas dengan tangan di bawah.

Nah, ketika kita bertanya pada mereka yang mengemis, apa alasan atau faktor yang mendorong mereka bertahan hidup dengan mengemis, jawaban  yang paling utama selalu faktor kemiskinan, pendidikan, lingkungan, mental dan perilaku. Namun, jika ditarik benang merah faktor-faktor ini akan mengengaruhi satu sama lain atau bisa dikatakan faktor-faktor ini memiliki inline yang sama yaitu ketidakmampuan untuk menciptakan dan medapatkan uang untuk finansial yang lebih baik. Mengemis adalah cara mudah.

Padahal, banyak masalah yang akan terjadi bila pengemis-pengemis ini terus menerus dibiarkan seperti ini. Misalnya, menurunnya Ekonomi Pembangunan di Aceh, meningkatnya taraf kemiskinan suatu wilayah, bisa juga meningkatkan kriminalitas, dan rendahnya pendidikan, serta mengganggu ketertiban umum dan menjadi cermin retak bagi bangsa ini. Oleh sebab itu, agar  masalah-masalah yang sudah dipaparkan tidak menjadi hal yang semakin serius, maka perlu tindakan yang lebih serius dilakukan oleh seluruh kalangan, baik masyarakat, maupun pemerintahan, segera menanggulangi masalah pengemis ini.

Bukankah Undang-Undang sudah mengatur tentang larangan mengemis dan gelandangan ditempat umum sebagaimana disebutkan dalam pasal 504-505 KUHP? Namun dalam kenyataannya masyarakat kurang memperhatikan hal tersebut dan hanya membiarkannya saja.

Kiranya, usaha demi usaha tak luput dilakukan, strategi dalam memberantas dan menganggulangi kemiskinan ini sudah dilakukan. Bahkan masyarakat juga mulai sadar dengan tidak memberikan uluran tangan langsung tunai, namun jika memang ingin membantu bisa dengan menawarkan pekerjaan yang lebih layak dan bisa menghidupi. pemerintah pun sebenarnya juga demikian.Peran pemerintah yang dibantu oleh menteri sosial seperti yang sudah dirumuskan dalam PP No. 31 tahun 1980 pasal 6, juga sudah dilalukan.

Namun kenyataannya masih banyak pengemis yang berkeliaran di negeri ini, sebagaimana dikatakan oleh Tabrani Yunis dalam Kompasiana.  Jika ingin rantai kemiskinan di Aceh ini terputus,maka sejahterakanlah mereka dengan bekal skill, dan merubah pola pikir serta mental mereka dari jiwa-jiwa pengemis menjadi jiwa-jiwa pebisnis, dengan dampingan dan kontrol. Jika semua tindakan diatas terealisasikan dengan baik,  maka angka kemiskinan, dan kesejahteraan masyarakat kota Banda Aceh akan membaik secara terus menerus dan akan sangat berdampak pada ekonomi berkelanjutan.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Redaksi
Majalah Perempuan Aceh

Komentar

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.