Oleh Yani Andoko
Ketika “Sekolah” Menjadi Agama Baru
Terbayangkan: seorang anak laki-laki di pelosok NTT bisa membuat radio dari barang bekas. Ia belajar dari kegagalan, dari tukang servis di pasar, dari mencoba-coba sendiri. Tapi ketika ia ingin kerja di bengkel resmi, ia ditolak. Alasannya klasik: “Tidak punya ijazah SMA.”
Sementara itu, seorang sarjana komunikasi lulusan kampus ternama tidak bisa mengganti lampu rumah atau membedakan baut dengan paku. Ia lulus dengan IPK cumlaude, tapi setiap kali keran bocor, ia harus memanggil tukang.
Pendidikan macam apa yang membuat yang terampil tidak diakui, dan yang berijazah tidak terampil?
Inilah keganjilan yang lima puluh tahun lalu sudah disadari oleh seorang filsuf sekaligus kritikus sosial asal Austria, Ivan Illich. Ia bukan anti-pendidikan. Ia justru ingin menyelamatkan makna belajar dari belenggu institusi yang bernama “sekolah”.
Belajar Itu Alamiah, Sekolah Itu Buatan
Monopoli Radikal: Ketika Sekolah Memonopoli Makna Belajar
Illich memperkenalkan istilah yang keras namun jujur: monopoli radikal. Bukan monopoli dalam arti bisnis, melainkan monopoli dalam mendefinisikan realitas. Sekolah telah berhasil meyakinkan kita bahwa:
· Belajar = bersekolah
· Pintar = punya nilai bagus
· Sukses = punya ijazah tinggi
Akibatnya, siapa pun yang belajar di luar sekolah dari tukang las otodidak, petani yang paham bibit unggul, hingga bocah perakit radio tadi dianggap tidak “sah”. Suaranya tidak penting, karena tidak punya legitimasi institusional.
Ini ironi tragis yang Illich ungkap dengan lugas: “Sekolah itu tidak penting. Tapi untuk mengatakan sekolah itu tidak penting, kalian mesti sekolah dulu.”
Maknanya dalam: sistem ini memaksa kita menggunakan senjata musuh untuk melawan musuh. Ijazah adalah kunci agar kritik kita didengar.
Ijazah vs Kompetensi: Pasar Kerja Mulai Sadar
Data menarik datang dari dunia kerja. Survei LinkedIn tahun 2023 mencatat bahwa 45% perusahaan global mulai menghapus persyaratan gelar untuk posisi tertentu. Mereka beralih ke skill-based hiring.
Di Indonesia, Menteri Pendidikan Abdul Mu’ti secara terbuka menyatakan: “Ijazah itu penting, tapi bukan segalanya.” Ia mendorong sertifikasi kompetensi sebagai pendamping ijazah.
Bahkan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) memungkinkan pengalaman kerja atau pelatihan nonformal diakui sebagai satuan kredit kuliah. Ini langkah kecil membongkar monopoli radikal.
Tapi realitas di lapangan masih timpang. Ijazah tetap jadi tuhan. Ribuan lulusan sarjana menganggur, sementara lowongan pekerjaan teknik tak terisi karena kekurangan tenaga terampil bersertifikat, bukan berijazah.
Praktik Baik: Belajar dari Kelas Alam
Untungnya, semangat Illich mulai hidup di banyak sekolah Indonesia. Gerakan kelas alam mengajak siswa belajar di kebun, sungai, dan pasar. Sekolah di Anambas mengajak siswanya menanam dan memanen sayur langsung. Di Kalimantan, anak-anak MI belajar mencangkok pohon.
Mereka belajar biologi bukan dari buku teks, tapi dari tanah, dari akar, dari proses hidup. Mereka belajar matematika dari mengukur luas lahan, bukan dari soal cerita yang tidak relevan.
Inilah pendidikan yang membebaskan: belajar dari kehidupan, untuk kehidupan.
Praktik ini juga selaras dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara: pendidikan yang berorientasi pada kodrat alam dan kemerdekaan. Sayangnya, filosofi ini sering tenggelam dalam birokrasi ujian nasional dan kurikulum yang padat.
Ironi Lain: Sekolah Reproduksi Ketimpangan
Illich juga mengkritik sekolah sebagai mesin reproduksi kelas sosial. Sekolah elite menghasilkan elite baru. Sekolah miskin menghasilkan pekerja rendahan. Sekolah mengklaim meratakan kesempatan, tapi faktanya justru memperkuat jurang.
Di Indonesia, fenomena “favoritisme” sekolah negeri adalah contoh nyata. Orang tua rela menyekolahkan anaknya di sekolah “unggulan” dengan biaya mahal, karena mereka percaya akses ke sekolah elit adalah satu-satunya jalan menuju sukses.
Akibatnya, sekolah swasta pinggiran mati perlahan, sementara ketimpangan pendidikan semakin lebar. Ironis.
Bebaskan Belajar dari Belenggu Ijazah
Ivan Illich tidak ingin kita membakar semua sekolah. Ia hanya ingin kita sadar: sekolah hanyalah salah satu cara belajar, bukan satu-satunya.
Belajar bisa terjadi di dapur, di sawah, di bengkel, di pasar, di perpustakaan desa, di percakapan dengan nenek, di kegagalan merakit radio. Belajar adalah naluri alami manusia, jauh sebelum ada gedung sekolah, papan tulis, dan ujian nasional.
Maka, jika Anda orang tua, jangan hanya bangga dengan nilai rapor anak. Tanyakan: “Apa yang bisa kamu buat? Masalah apa yang bisa kamu selesaikan?”
Jika Anda guru, jangan hanya mengejar kurikulum. Biarkan murid bertanya, keliru, dan menemukan jalannya sendiri.
Dan jika Anda pembuat kebijakan, ingatlah: mengukur kualitas pendidikan hanya dari angka partisipasi sekolah dan nilai ujian adalah kebodohan kolektif. Ukurlah dari seberapa banyak manusia yang bisa belajar sepanjang hayat, dengan atau tanpa sekolah.
Karena pada akhirnya, yang dicari dunia bukan ijazah. Tapi manusia yang bisa berpikir, berbuat, dan hidup bersama secara bermakna.
Pertanyaan terakhir untuk kita semua:
Terakhir kali Anda belajar sesuatu yang benar-benar baru, apakah itu terjadi di dalam kelas atau di luar sana, dalam hiruk-pikuk kehidupan yang nyata?
Batu, 21 April 2026








Diskusi