Artikel · Potret Online

Presiden B. J. Habibie: Menguatkan Rupiah di Tengah Krisis 1998.

6 menit baca 12
4c3aaa49-b0d2-479e-8bcf-82d3fc44c38c
Foto / IlustrasiPresiden B. J. Habibie: Menguatkan Rupiah di Tengah Krisis 1998.
Disunting Oleh

Oleh: Dr. (C) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Ketika B. J. Habibie dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada Mei 1998, situasi yang ia hadapi bukan sekadar krisis biasa. Negara ini berada di ambang runtuh. Nilai tukar rupiah terjun bebas, sistem perbankan lumpuh, inflasi melonjak tinggi, dan kepercayaan publik terhadap negara nyaris hilang sepenuhnya. Dalam bahasa ekonomi internasional, kondisi itu disebut sebagai systemic collapse (keruntuhan sistemik menyeluruh) yang tidak bisa diselesaikan dengan kebijakan biasa.

Rupiah yang pada awal 1997 masih berada di kisaran Rp2.300 per dolar Amerika Serikat, dalam waktu singkat jatuh hingga menyentuh angka di atas Rp16.000. Ini bukan sekadar pelemahan nilai tukar, tetapi simbol dari runtuhnya kepercayaan terhadap sistem ekonomi nasional. Perusahaan bangkrut, bank tidak lagi dipercaya, dan masyarakat panik menarik uang mereka. Negara seakan kehilangan kendali.

Di titik paling kritis itulah Habibie mengambil alih. Ia tidak datang dalam kondisi stabil, tetapi dalam situasi hampir kolaps total. Maka yang ia lakukan bukan sekadar “menguatkan rupiah” dalam arti angka, melainkan menghentikan kejatuhan yang lebih dalam, lalu secara bertahap membangun ulang fondasi ekonomi yang hancur.

Pendekatan yang digunakan Habibie menarik untuk kita dicermati. Ia tidak melihat krisis hanya sebagai persoalan ekonomi, tetapi sebagai kerusakan sistem. Dalam banyak analisis, cara berpikirnya sering dianalogikan dengan dunia aeronautika, bidang yang sangat ia kuasai. Ia memperlakukan krisis seperti pesawat yang mengalami kehilangan daya angkat. Dalam kondisi seperti itu, yang paling penting bukan langsung naik tinggi, tetapi menstabilkan arah agar tidak jatuh lebih jauh. Prinsip inilah yang terlihat jelas dalam kebijakan-kebijakannya.

Langkah pertama yang diambil adalah menyelamatkan sektor perbankan yang saat itu menjadi jantung masalah. Pemerintah membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) untuk menangani bank-bank bermasalah dan kredit macet dalam skala besar. Bank-bank yang tidak sehat ditutup, sebagian diambil alih, dan dilakukan konsolidasi besar-besaran. Dari proses inilah lahir Bank Mandiri, sebagai simbol restrukturisasi sistem keuangan nasional. Kebijakan ini memang keras dan tidak populer, tetapi menjadi kunci untuk menghentikan efek domino kehancuran ekonomi.

Di saat yang sama, pemerintah juga memberikan jaminan terhadap simpanan nasabah. Ini langkah penting untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat agar mau kembali menyimpan uang di bank. Tanpa kepercayaan, tidak ada sistem keuangan yang bisa bertahan.

Tidak berhenti di situ, reformasi kelembagaan juga dilakukan secara fundamental. Melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999, Bank Indonesia diberikan status independen. Ini adalah salah satu keputusan paling penting dalam sejarah ekonomi Indonesia modern. Dengan independensi ini, kebijakan moneter tidak lagi berada di bawah tekanan politik jangka pendek. Bank sentral bisa fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi secara profesional. Dalam standar ekonomi global, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia serius membangun kredibilitas.

Di sektor moneter, kebijakan yang ditempuh juga tidak ringan. Suku bunga dinaikkan hingga sangat tinggi untuk menekan inflasi dan menarik kembali dana masyarakat ke sistem perbankan. Kebijakan ini memang berat bagi dunia usaha, tetapi dalam situasi krisis, langkah seperti ini diperlukan untuk menghentikan kepanikan dan menstabilkan nilai tukar. Dalam teori ekonomi, ini dikenal sebagai pengetatan moneter ekstrem—strategi yang sering digunakan dalam kondisi darurat.

Namun yang membuat pendekatan Habibie berbeda adalah keberaniannya mengambil keputusan yang tidak populer demi kepentingan jangka panjang. Ia rela menghentikan proyek-proyek ambisius, termasuk yang menjadi kebanggaannya sendiri di bidang teknologi, agar sumber daya negara difokuskan pada penyelamatan ekonomi rakyat. Ini bukan keputusan mudah, tetapi menunjukkan bahwa prioritas utama saat itu adalah stabilitas, bukan prestise.

Di tengah tekanan ekonomi yang berat, pemerintah juga tidak melupakan aspek sosial. Program Jaring Pengaman Sosial tetap dijalankan untuk menjaga daya beli masyarakat. Subsidi terhadap kebutuhan pokok dipertahankan agar harga tidak melonjak terlalu tinggi. Ini penting, karena krisis ekonomi yang tidak dikendalikan bisa berubah menjadi krisis kemanusiaan. Habibie memahami bahwa stabilitas ekonomi tidak akan tercapai tanpa stabilitas sosial.

Jika dilihat dari hasilnya, rupiah yang sempat berada di titik nadir perlahan mulai stabil. Memang, dalam kajian akademik, pemulihan ini tidak dipahami sebagai penguatan instan menuju angka tertentu, tetapi sebagai proses stabilisasi bertahap. Data menunjukkan bahwa sepanjang 1999–2000, rupiah bergerak di kisaran Rp7.000–Rp9.000 per dolar AS. Dalam berbagai kajian, termasuk yang dipublikasikan dalam Bulletin of Indonesian Economic Studies, periode ini dipahami sebagai fase stabilisasi pasca-krisis, bukan penguatan instan.

Keberhasilan ini tidak berdiri sendiri. Ada faktor global yang juga berperan, seperti mulai stabilnya kondisi ekonomi di kawasan Asia dan dukungan dari lembaga internasional. Namun demikian, kebijakan domestik yang tepat tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah pemulihan. Hal ini juga ditegaskan dalam berbagai studi ekonomi internasional yang melihat pemulihan Indonesia sebagai hasil interaksi antara kebijakan domestik dan dinamika global.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, krisis 1998 sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari berbagai kelemahan struktural sejak dekade sebelumnya. Liberalisasi sektor keuangan yang tidak diimbangi pengawasan kuat, ketergantungan tinggi pada utang luar negeri dalam dolar, serta lemahnya transparansi sistem perbankan menjadi bom waktu yang akhirnya meledak ketika tekanan global datang.

Ketika krisis Asia dimulai dari Thailand pada 1997, efeknya menyebar cepat ke Indonesia. Investor global menarik dana secara besar-besaran, nilai tukar tertekan, dan sistem keuangan yang rapuh langsung runtuh. Dalam konteks ini, apa yang dihadapi Habibie bukan hanya krisis ekonomi, tetapi krisis warisan sistem yang telah lama dibangun tanpa fondasi yang kuat.

Karena itu, langkah yang diambil pun tidak bisa setengah-setengah. Habibie tidak hanya memadamkan api, tetapi membangun ulang struktur rumah yang terbakar. Ia memperbaiki sistem perbankan, memperkuat kelembagaan, menata ulang kebijakan moneter, dan menjaga stabilitas sosial secara bersamaan.

Dari sini, ada pelajaran penting yang bisa diambil. Pertama, krisis ekonomi pada dasarnya adalah krisis kepercayaan. Ketika kepercayaan hilang, sistem bisa runtuh dalam waktu singkat. Kedua, pemulihan membutuhkan kebijakan yang tegas, konsisten, dan sering kali tidak populer. Ketiga, kekuatan institusi menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas jangka panjang.

Warisan kebijakan Habibie masih terasa hingga hari ini. Independensi Bank Indonesia tetap menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas moneter. Sistem perbankan Indonesia juga jauh lebih kuat dibandingkan sebelum 1998. Ketika dunia menghadapi krisis global seperti 2008 dan pandemi COVID-19, Indonesia tidak lagi mengalami kehancuran seperti masa lalu. Ini menunjukkan bahwa fondasi yang dibangun pada masa itu benar-benar memiliki dampak jangka panjang.

Namun tantangan tetap ada. Rupiah hingga hari ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global, terutama kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan arus modal internasional. Dalam kondisi seperti ini, pelajaran dari masa Habibie menjadi semakin relevan: stabilitas tidak hanya ditentukan oleh kebijakan ekonomi, tetapi juga oleh kepercayaan, konsistensi, dan kekuatan institusi.

Pada akhirnya, jika kita berbicara tentang peran B. J. Habibie dalam menguatkan rupiah, maka yang harus dipahami bukan sekadar perubahan angka dari titik terendah ke angka tertentu. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ia menghentikan kejatuhan, memulihkan kepercayaan, dan membangun kembali sistem ekonomi yang sempat runtuh.

Ia tidak sekadar mengangkat rupiah, tetapi mengubah arah sejarah ekonomi Indonesia. Dari krisis menuju stabilitas. Dari ketidakpastian menuju fondasi yang lebih kuat. Dan dari situ, Indonesia belajar bahwa kekuatan ekonomi bukan hanya soal angka, tetapi soal kepercayaan dan keberanian mengambil keputusan di saat paling sulit.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...