Isteri Saya Tidak Kerja?”

Isteri Saya Tidak Kerja?”
Oleh Saiful Bahri
Berdomisili di Jakarta
Malam itu saya mampir ke warung kopi pinggir jalan. tidak ada niat nguping, tapi meja sebelah cuma sejengkal dari saya. Dua bapak-bapak lagi ngobrol sambil ngebul rokok.
“Anak sudah berapa sekarang, Pak?” tanya yang satu.
“Dua. Yang kecil masih bayi,” jawabnya santai.
“Istrinya kerja juga?”
“Oh tidak , Pak. Istri saya di rumah saja. Tidak berkerja.”
Saya yang lagi mengaduk kopi jadi berhenti.
“Tidak kerja?” gumam saya pelan.
Rasanya ada yang ganjil. Akhirnya saya menyela, “Maaf Pak, numpang bertanya. Kalau boleh tahu , di rumah istri Bapak melakukan apa saja?”
Dia menoleh, sedikit kaget. Tapi dijawab juga, “Biasa saja, Pak. Menyuci, menyetrika, mengantar anak sekolah. Yang kecil juga dia yang jaga.”
“Kalau malam bayi nangis minta susu, siapa yang bangun?”
“Oh, pasti istri saya lah. Saya kan tidak bisa bangun malam-malam. Capek kerja seharian.”
Dia jawabnya tenang, kayak itu hal yang paling wajar di dunia.
Saya diam . Terus saya bilang pelan, “Jadi Bapak kerja 8 jam, pulang. Istri Bapak kerja 24 jam, tidak ada pulangnya. Bangun malam, menyuci, memasak, mengurus anak. Tapi Bapak bilang dia tidak kerja?”
Wajahnya berubah. Senyumnya hilang. Dia diam lama, cuma memandang asap rokoknya yang naik ke atas. Tidak ada jawaban lagi.
Saya pamit pulang waktu kopi habis.
Tapi obrolan itu tidak habis di kepala saya.
Banyak laki-laki yang tidak jahat. Mereka cuma belum pernah berhenti sejenak buat menghitung.
Mereka mengukur ‘kerja’ cuma dari yang ada slip gajinya.
Padahal rumah yang rapi, anak yang bersih, perut yang kenyang, tidur yang tenang… semua itu bayarannya bukan uang. Tapi keringat dan waktu seorang istri yang tidak pernah minta dicatat.
Jadi kalau ada yang masih bilang, “Istri saya tidak berkerja”,
coba suruh dia ambil alih 1 hari saja.
Biar dia tahu, kerja diam-diam itu kadang lebih berat dari kerja yang digaji.












