Dari Hobi Menulis hingga Juara PEKSIMIDA: Intan Surya Putri Ukir Prestasi Melalui Cerpen”

Oleh Rahman Saleh
Bagi sebagian orang, menulis mungkin hanya sekadar menuangkan kata-kata. Namun, bagi Intan Surya Putri, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, menulis adalah ruang untuk bertumbuh, belajar, sekaligus membuktikan bahwa ketekunan mampu mengantarkan seseorang pada berbagai kesempatan berharga.
Kecintaan Intan terhadap sastra telah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat itu, ia mulai gemar merangkai cerita dan menuangkan imajinasi ke dalam tulisan.
Sayangnya, minat tersebut belum memiliki wadah yang tepat untuk berkembang. Baru setelah menjadi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, ia menemukan lingkungan yang mendukung untuk mengasah kemampuan sekaligus memperdalam kecintaannya terhadap dunia sastra.
Kesempatan itu datang ketika FKIP Universitas Syiah Kuala membuka seleksi internal untuk menentukan perwakilan dalam Seleksi Mahasiswa (Seleksimi) tingkat universitas. Meski diliputi rasa gugup, Intan memberanikan diri mengikuti seleksi tersebut. Pengalaman pertamanya menjadi tantangan tersendiri. Tema cerpen baru diberikan saat perlombaan dimulai, membuatnya harus berpikir cepat di bawah tekanan waktu.
“Pada seleksi pertama, saya sangat gugup hingga tangan sempat kaku saat mengetik. Apalagi tema baru diberikan tepat ketika lomba dimulai,” kenangnya.
Di balik rasa gugup itu, Intan berhasil menunjukkan kemampuannya hingga terpilih sebagai perwakilan FKIP. Keberhasilan tersebut membawanya melangkah ke Seleksi Mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang diselenggarakan pada 21 April 2026.
Berbekal pengalaman sebelumnya, ia tampil lebih percaya diri. Dengan tema dadakan “Kebakaran di Dapur Nenek”, Intan mampu menikmati proses menulis dan akhirnya terpilih sebagai wakil Universitas Syiah Kuala pada cabang lomba cerpen untuk ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Aceh.
Pada Peksimida Aceh yang berlangsung pada 26–29 Juli 2026, tantangan serupa kembali ia hadapi. Tema “Bangkai” baru diumumkan ketika perlombaan dimulai. Meski harus berpacu dengan waktu dan kreativitas, Intan berhasil menyelesaikan cerpennya dengan baik hingga meraih Juara II Cabang Lomba Cerpen Peksimida Aceh 2026.
Selain itu, kiprahnya di dunia kepenulisan juga membawanya menorehkan prestasi pada ajang nasional. Pada 24 Juli 2026, Intan berhasil masuk 30 Besar Kategori Umum tepatnya menempati peringkat ke-15, dalam Lomba Cerpen Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Aisyiyah Bandung (UNISA).
Ia juga mengikuti Seleksi Cerpen Tingkat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada 21 Oktober 2026 sebagai bagian dari upayanya untuk terus mengembangkan kemampuan menulis.
Bagi Intan, setiap perlombaan bukan sekadar tentang mengejar gelar juara, tetapi juga proses belajar yang membentuk dirinya menjadi penulis yang lebih baik. Meski belum berkesempatan melaju ke Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas), ia memilih melihat pengalaman tersebut sebagai awal dari peluang-peluang lain yang tidak kalah bermakna.
“Saya percaya bahwa Tuhan menghadirkan kemenangan dalam berbagai bentuk. Kemenangan tidak selalu berarti menjadi yang utama, tetapi juga hadir melalui kesempatan-kesempatan lain,” ujarnya.
Keyakinan itu terbukti ketika perjalanan yang ia lalui justru membawanya memperoleh kepercayaan untuk menjadi pelatih penulisan cerpen bagi siswa sekolah menengah atas. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus bentuk pengakuan bahwa ilmu yang dimilikinya dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
“Berkat proses yang saya lalui, saya dipercaya untuk melatih penulisan cerpen di tingkat sekolah menengah atas. Bagi saya, itu juga merupakan sebuah kemenangan dan anugerah yang patut disyukuri,” tambahnya.
Perjalanan Intan Surya Putri menjadi pengingat bahwa prestasi tidak lahir secara instan. Keberanian untuk mencoba, kemauan untuk terus belajar, serta kesediaan menjalani setiap proses dengan penuh kesungguhan merupakan fondasi yang mengantarkannya hingga berada di titik saat ini.
Lebih dari sekadar deretan penghargaan, kisah Intan menunjukkan bahwa keberhasilan sejati juga tercermin dari kemampuan seseorang untuk terus bertumbuh dan menghadirkan manfaat bagi sesama melalui ilmu yang dimilikinya.












