Belajarlah Pada Semut

Jangan Tertipu Label, Ciumlah Isinya
Oleh Saiful Bahri
*”Semut tidak akan tertipu meskipun kau tulis ‘gula’ di toples yang berisi garam. Karena semut mencium rasa gula, bukan tulisannya. Semut mencium kebenaran.”*
Masya Allah 😭 *Ini muhasabah paling sederhana, tapi paling dalam maknanya.*
*1. SEMUT LEBIH CERDAS DARI MANUSIA?* 🐜 Dalam hal rasa mungkin ya, kita harus belajar yang bernama makhluk ciptaan Allah ini yaitu “SEMUT”
Coba kita renungkan, benar kan? , kita kadang kalah dengan semut.
Taruh toples di atas meja . Tulisi “GULA”. Isinya “GARAM”.
*Semut tidak akan datang.* Kenapa? Karena dia tidak baca label. Dia cium isinya.
Sedangkan manusia?
Tulis “ORANG BAIK” di bio. Senyum manis. Kata-kata bijak plus pencitraan, orang akan yakin bahwa ia orang baik, kenapa bisa begitu? karena manusia kebanyakan hanya melihat tulisan – pencitraan bukan fakta yang sebenarnya.
Itu sebabnya kita langsung percaya pada pencitraan bukan pada fakta. Kita kadang terripu pada manis sebyumnya, lembutnya perilaku seseorang, padahal tersimpan racun di dalamnya.
*Kesalahan kita:* Kita sibuk membaca tulisan, tapi lupa mencium isi di dalamnya.
—
*2. MANUSIA YANG SUDAH LUKA = MANUSIA YANG JADI “SEMUT”*
*”Manusia yang sudah kena luka batin, dia tak lagi tertipu oleh senyum manis dan topeng kebaikan. Dia tahu mana yang tulus dan mana yang pura-pura.”*
Kenapa? Karena luka itu telah menjadi guru bagi dia.
Luka mengajarkan kita agar tidak hanya melihat bungkusnya, tidak hanya melihat penambilan pisiknya, tapi sekali lagi perilakunya.
*Masalahnya hari ini:*
Dunia penuh “garam yang dikira gula”. “Racun yang dikira madu”.
.
Labelnya sahabat. Isinya menikam musuh di dalam selimut.
Labelnya cinta. Isinya kepentingan.
—
*3. RUMUS HIDUP DARI SEEKOR SEMUT*
Jadi mau jadi manusia atau mau jadi semut?
*Rumus Perilaku Semut:*
1. *Jangan percaya label* = Percaya bukti nyata.
2. *Jangan percaya ucapan* = Percaya tindakan.
3. *Cium dulu baru sentuh* = Uji dulu baru percaya.
Karena tidak semua yang manis itu benar-benar gula.
Ada yang manis di bibir, tapi pahit di hati.
Ada yang manis di status, tapi busuk di kelakuan.
*Penutup:*
Belajarlah seperti semut.
Diam. Bekerja. Dan paling penting… *mencium kebenaran.*
Wallahu a’lam bishawab.












