Esai · Potret Online

Belajarlah Pada Semut

Penulis Saiful Bahri
Juli 4, 2026
2 menit baca 4
9d96e58e-d637-41dd-a474-0f472d6db677
Foto / IlustrasiBelajarlah Pada Semut

Jangan Tertipu Label, Ciumlah Isinya

Oleh Saiful Bahri

*”Semut tidak akan tertipu meskipun kau tulis ‘gula’ di toples yang berisi garam. Karena semut mencium rasa gula, bukan tulisannya. Semut mencium kebenaran.”* 

Masya Allah 😭 *Ini muhasabah paling sederhana, tapi paling dalam maknanya.*

*1. SEMUT LEBIH CERDAS DARI MANUSIA?* 🐜 Dalam hal rasa mungkin ya, kita harus belajar yang bernama makhluk ciptaan Allah ini yaitu  “SEMUT”

Coba  kita  renungkan, benar kan? , kita kadang kalah dengan semut. 

Taruh toples di atas meja  . Tulisi “GULA”. Isinya “GARAM”. 

*Semut tidak akan datang.* Kenapa? Karena dia tidak baca label. Dia cium isinya.

Sedangkan manusia? 

Tulis “ORANG BAIK” di bio. Senyum manis. Kata-kata bijak plus  pencitraan, orang akan yakin bahwa ia orang baik, kenapa bisa begitu? karena manusia kebanyakan hanya melihat tulisan – pencitraan bukan fakta yang sebenarnya.

Itu sebabnya  kita langsung percaya pada pencitraan bukan pada fakta. Kita  kadang terripu pada manis sebyumnya, lembutnya perilaku seseorang, padahal tersimpan   racun  di dalamnya. 

*Kesalahan kita:* Kita sibuk membaca tulisan, tapi lupa mencium isi di dalamnya.

*2. MANUSIA YANG SUDAH LUKA = MANUSIA YANG JADI “SEMUT”* 

*”Manusia yang sudah kena luka batin, dia tak lagi tertipu oleh senyum manis dan topeng kebaikan. Dia tahu mana yang tulus dan mana yang pura-pura.”*

Kenapa? Karena luka itu  telah menjadi guru bagi dia. 

Luka mengajarkan  kita agar tidak  hanya  melihat bungkusnya, tidak hanya melihat penambilan pisiknya, tapi sekali lagi perilakunya. 

*Masalahnya hari ini:* 

Dunia penuh “garam yang dikira gula”. “Racun yang dikira madu”. 

Labelnya sahabat. Isinya menikam musuh di dalam selimut. 

Labelnya cinta. Isinya kepentingan.

*3. RUMUS HIDUP DARI SEEKOR SEMUT* 

Jadi mau jadi manusia atau mau jadi semut?  

*Rumus Perilaku Semut:* 

1.  *Jangan percaya label* = Percaya bukti nyata.

2.  *Jangan percaya ucapan* = Percaya tindakan.

3.  *Cium dulu baru sentuh* = Uji dulu baru percaya.

Karena tidak semua yang manis itu benar-benar gula. 

Ada yang manis di bibir, tapi pahit di hati. 

Ada yang manis di status, tapi busuk di kelakuan.

*Penutup:* 

Belajarlah seperti semut. 

Diam. Bekerja. Dan paling penting… *mencium kebenaran.*

Wallahu a’lam bishawab.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...