Esai · Potret Online

Salahkanlah Saja Hujan

Penulis  Aswan Nasution
Agustus 25, 2026
3 menit baca 11
abe109af-ae77-4b63-b466-665436510b21
Foto / IlustrasiSalahkanlah Saja Hujan

Oleh : Aswan Nasution, 

Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. 

Deras hujan yang gugur melintasi rimba malam di luar jendela, seakan meretas dinding kamar , menembus ruang waktu, lalu mengucuri telaga jiwa yang amat sunyi. Di atas meja kayu yang melukiskan kepenuhan nasib, terhampar lembaran foto usang; warnanya telah pudar dimakan zaman. 

Gambar-gambar bisu itu merekam kenangan anak manusia yang dahulu berikrar tak kan berpisah, diikat oleh kehangatan cita-cita muda dan keakraban yang disangka abadi. Namun gemericik air yang menimpa atap seng malam ini seolah mengetuk pintu kenangan yang sejatinya telah mengendap di dasar kalbu. 

Sungguh, tak ada guna meratapi takdir atau menyalahkan karib yang telah jauh berlayar; jikalau ada yang patut dipersalahkan atas tikaman rindu ini, maka salahkanlah hujan yang tak tahu diri.

Gara-gara gumpalan awan kelabu itulah segenap rasa kehilangan menyeruak kembali tanpa ampun. Dahulu, tatkala pertama kali menginjakkan kaki di pelataran kampus, jiwa kami bertaut bagai satu raga yang tak terpisahkan. 

Dipertemukan oleh takdir dalam kelompok belajar yang sama, hari-hari kami dipenuhi riuh rendah gelak tawa di lorong fakultas dan kehangatan obrolan di kedai kopi. Tiada duka yang tak terbagi, tiada cita yang tak dilangitkan bersama. Namun tatkala zaman berputar dan masa berganti, kedewasaan menyapa bukan sekadar sebagai penanda usia, melainkan sebagai pahat yang perlahan menoreh jarak di antara kami.

Ada beban hidup yang teramat berat merayap di pundak ini, memisahkan raga dari lingkaran mereka. Dihimpit oleh pahitnya kenyataan dan pertempuran nasib masing-masing, mendapati diri ini kian terlempar ke tepi ranah kehidupan. Di dalam grup percakapan WhatsApp—tempat yang dahulu menjadi kawah candradimuka canda tawa—kini hanyalah seorang penonton yang bisu dan nestapa. 

Jemari ini terasa gemetar dan begitu berat hanya untuk mengetikkan selarik sapaan; ada rasa canggung, takut, dan bersalah yang menggelayut, seolah kehadiran kini hanyalah sebuah duka yang mengganggu keharmonisan mereka. 

Pedih yang teramat sangat menyusup ke relung dada tatkala menyadari bahwa tak lagi menjadi bagian dari keseharian kawan-kawan tercinta.

Namun di tengah cengkeraman kesendirian yang muram ini, tak lagi hendak melawan takdir.  sadar dan paham betul bahwa kawan-kawan kini sedang memikul amanah baru yang mulia—ada yang bersimbah peluh bertarung mencari nafkah, ada pula yang mengasuh buah hati dan menegakkan tiang rumah tangga. 

Betapa picik dan konyolnya jikalau egois memaksakan kehendak agar pertemanan tetap abadi seperti masa-masa remaja dahulu.

Maka bersama dinginnya malam dan desir bisik air hujan, pasrahkan diri untuk merangkul ketidakberdayaan ini dengan kelapangan dada yang tulus. belajar menikmati kesendirian ini tanpa menyimpan sekelumit pun duka atau kecewa. 

Biarlah mengamati mereka dari kejauhan, seraya melangitkan doa agar keselamatan dan keberkahan senantiasa menaungi langkah hidup yang telah mereka pilih. Pertemanan di usia dewasa memang tak lagi menuntut kebersamaan raga, melainkan keikhlasan untuk melepaskan, menghormati takdir masing-masing, dan menjaga bara kenangan itu tetap hangat di dalam dada—meski di luar sana, hujan masih enggan menyudahi nyanyian sedihnya.

Maka wahai hujan, engkaulah yang telah membangunkan gelombang rindu di telaga jiwa yang tadinya tenang, maka engkau jua yang wajib menidurkannya kembali. Tumpahkanlah segala duka yang kau bawa dari mega-mega kelabu itu hingga habis tak bersisa, lalu basuhlah liris hati bersama titis airmu yang terakhir. 

Biarlah seiring berhentinya desah basah di balik jendela, padam pula gejolak kenangan yang menikam dada ini. Bertanggungjawablah, wahai hujan, sapulah segenap rasa kehilangan ini menuju muara malam yang hening. Dan tatkala gumpalan awan merenggang, izinkan jemari angin menyeka sisa air di kaca jendela, menyisakan jiwa yang pasrah, tenang, dan ikhlas menyambut sunyi.

Horas Hubanta Haganupan. 

Horas …Horas … Horas

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...