Jangan Mengandalkan Relasi Bos

Ketika Integritas Seorang HRD Diuji Titipan Orang Penting
Oleh: Drs. Saiful Bahri
Setiap perusahaan pasti punya prosedur rekrutmen. Mulai dari pasang iklan, seleksi berkas, tes, sampai interview. Tujuannya satu: mendapatkan karyawan terbaik, bukan karyawan “titipan”.
Namun di dunia kerja, godaan terbesar seorang HRD justru datang bukan dari pelamar, tapi dari atasannya sendiri. Terutama ketika ada telepon masuk: “Tolong ya, ini titipan teman saya.”
Pengalaman ini saya alami belasan tahun lalu saat masih bekerja di sebuah perusahaan PMA di kawasan industri Karawang .
**AWAL MULA TITIPAN DATANG**
Waktu itu perusahaan kami membuka lowongan untuk posisi Admin. Seperti biasa, lowongan kami tempel di papan pengumuman pabrik dan juga kami titipkan ke beberapa konsultan rekrutmen langganan.
Tengah proses berjalan, tiba-tiba Big Bos memanggil saya ke ruangannya di lantai 2.
“Saiful, ini ada titipan dari teman saya. Direktur di perusahaan sebelah. Tolong diproses ya. Namanya Riko.” kata beliau sambil menyerahkan CV.
Saya mengangguk. “Siap Pak. Kami proses sesuai prosedur.”
Dalam hati saya berdoa, semoga pelamar ini memang kompeten. Karena saya tidak mau membedakan antara pelamar umum dan pelamar titipan.
**ADEGAN DI LOBI PABRIK**
Tiga hari kemudian, Riko datang. Bedanya, dia tidak lapor dulu ke HRD di lantai bawah. Dia langsung bertanya ke satpam: “Mas, ruang direktur di mana?”
Satpam yang baik hati menunjuk ke atas. Riko pun langsung melangkah menuju tangga.
Saya yang kebetulan sedang berada di lobi langsung mencegatnya.
“Permisi Mas, mau ke mana?” tanya saya.
“Mau interview sama Pak Direktur di atas” jawabnya singkat, dengan nada yang menurut saya terlalu percaya diri.
“Oh. Sebelum ke atas, silahkan ke ruangan HRD dulu ya Mas. Kita interview dulu di bawah.”
Wajahnya sedikit terkejut. Mungkin dia pikir karena “titipan Bos” dia bisa skip proses.
**HASIL YANG TIDAK MENYENANGKAN**
Selama 20 menit saya interview. Saya tanya tentang pengalaman, tentang administrasi, tentang etika kerja. Dari cara dia menjawab dan sikapnya saat masuk pabrik tadi, saya dan tim menilai dia belum cocok.
Selesai interview, saya sampaikan dengan jujur.
“Mas Riko, terima kasih sudah datang. Untuk saat ini kami belum bisa lanjutkan ke tahap berikutnya. Silahkan pulang dulu ya.”
Dia terdiam, lalu pergi.
**PANGGILAN DARI LANTAI 2**
Tidak sampai 10 menit, interkom berbunyi. “Saiful, ke ruangan saya sekarang!”
Saya sudah menduga. Benar saja, begitu masuk, Bos sudah menunggu dengan raut wajah tidak enak.
“Kenapa kamu tolak? Itu titipan teman saya!” bentaknya.
“Maaf Pak. Saya sudah interview. Dan menurut penilaian kami, beliau tidak memenuhi kualifikasi dan juga menunjukkan sikap yang kurang sesuai saat di pabrik.”
“Ya sudah, biar saya yang interview!”
Saya menarik nafas. Ini momentumnya.
“Baik Pak. Saya panggilkan lagi beliau. Silahkan Bapak interview sendiri. Tapi saya mohon, mulai sekarang setiap ada lowongan baru, mohon Bapak juga ikut duduk di meja interview ya. Agar adil. Tidak ada kesan pilih kasih antara pelamar umum dan pelamar titipan.”
Ruangan hening 5 detik. Bos menatap saya.
**KEPUTUSAN SETELAH 1 JAM**
Saya kembali bekerja. Deg-degan pasti ada. Tapi saya yakin, kalau kita benar, Allah yang jaga.
Sekitar 1 jam kemudian, pintu ruang HRD terbuka. Bos turun sendiri.
Beliau menghampiri meja saya dan berkata pelan:
“Ok Saiful. Saya mengerti maksud kamu. Ya sudah, proses rekrutmen selanjutnya sesuai prosedur saja. Tidak usah ada pengecualian.”
Alhamdulillah. Sejak hari itu, tidak ada lagi “jalur khusus” di perusahaan kami.
**HIKMAH YANG SAYA PETIK**
Dari kejadian itu saya belajar 3 hal:
Pertama, **Kita adalah penegak hukum perusahaan**. Kalau HRD nya lembek, maka aturan akan diinjak-injak.
Kedua, **Jangan takut benar karena takut atasan marah**. Justru karena kita tegas dan punya data, lama-lama atasan akan respect.
Ketiga, **Rezeki tidak akan tertukar**. Kalau memang bukan jodohnya di perusahaan kita, maka Allah akan gantikan dengan yang lebih baik untuk dia, dan untuk perusahaan kita.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa” [QS. Al-Maidah: 2]
Mari kita jaga integritas, sekecil apapun posisi kita.
—
BIO PENULIS:
Drs. Saiful Bahri adalah Praktisi HRD dengan pengalaman 25 tahun di perusahaan PMA Jepang dan Korea. Kini aktif sebagai Motivator dan Penulis. Tinggal di Bekasi.
Kontak: 0811997679












