Oleh: Mursyidah
Minggu pagi di sebuah rumah sederhana di sudut desa, Benu, yang kini sudah menduduki kelas dua belas Sekolah Menengah Atas, sedang bergegas berangkat ke ladang. Senyum ceria mengembang di wajahnya karena sebentar lagi ujian kelulusan akan diselenggarakan.
Ditambah lagi, ada kabar gembira dari Bapak semalam bahwa tabungan yang disimpan untuk melanjutkan pendidikan ke salah satu universitas impiannya di Kota Ambon hampir cukup. Setidaknya, uang itu cukup untuk biaya keberangkatan tahap awal. Dengan rasa bahagia, pagi itu kakinya melangkah berayun menuju ladang. Segenap harapan rasanya tinggal selangkah lagi terwujud.
Bahkan, setelah berbincang dengan Bapak dan Ibu semalam, ia sempat berkata, “Bapak, Ibu, biarkan besok Beta yang ke ladang saja sebab hari Minggu. Bapak dan Ibu bersantai saja di rumah.”
Sesampainya di ladang, ia masih sempat bercerita dengan Mama Nova, tetangga rumah sekaligus pemilik ladang sebelah yang sangat baik hati dan peduli. Segala rasa sukacita terkait rencana melanjutkan pendidikan serta berbagai hal lainnya mereka bicarakan.
Hingga usai bekerja, siang pun tiba. Benu bergegas pulang untuk mengisi perut. Setelah selesai makan, ia melanjutkan dengan membersihkan diri dan salat Zuhur. Ia sudah berencana sore ini tidak lagi ke ladang, melainkan pergi ke toko buku untuk mencari bahan belajar persiapan ujian masuk perguruan tinggi.
Hari demi hari, Benu terus belajar diselingi membantu orang tuanya. Usaha yang gigih serta doa yang tiada putus terus ia lakukan hingga ujian kelulusan tiba. Namun, pada hari ketiga ujian, ibunya jatuh sakit. Asma sang ibu kambuh hingga harus dilarikan ke puskesmas di desa tetangga, tempat tinggal Om Anto, sepupu bapaknya yang berprofesi sebagai prajurit TNI dengan pangkat Danramil.
Di sinilah awal perjumpaan sang bapak dengan sepupunya, yang menjadi punca awal keraguan dan kekacauan arah hidup Benu dimulai. Usai melaksanakan ujian, Benu langsung menjenguk sang ibu sekaligus membantu bapaknya di puskesmas.
Sore itu mereka berganti tugas. Sang bapak keluar mencari dan membeli makanan karena ibu harus dirawat beberapa hari lagi, sementara Benu menemani di ruang rawat inap. Oleh karena itu, pertemuan sang bapak dengan Om Anto di sebuah warung makan sama sekali tidak diketahui oleh Benu.
Saat Bapak sedang menunggu nasi bungkusnya, Om Anto tiba-tiba menghampiri dari belakang sehingga Bapak terkesiap karena tidak menduga.
“Apa kabar, Kak? Sudah lama kita tidak jumpa,” sapa basa-basi Om Anto.
“Baik, baik, alhamdulillah. Anto, kan? Kapan kamu di sini?” jawab Bapak dengan sedikit kaget.
Om Anto menjawab, “Sudah sebulan saya mutasi tugas dari Medan, dan sekarang menjadi Danramil di wilayah Ambon Utara.”
Dari sanalah seluruh cerita mengalir di antara dua saudara yang sudah lama tidak bersua, hingga sampai pada pembahasan tabungan dan rencana keberangkatan Benu untuk kuliah ke Ambon. Cerita itu berujung pada satu tawaran dengan godaan luar biasa yang membuat hati Bapak goyah dan berbelok arah.
Om Anto menawarkan dan menyarankan agar Benu ikut saja tes TNI. Ia berjanji akan membantu sebagai “orang dalam” yang menjamin kelulusan Benu. Namun, dengan embel-embel, Bapak harus menyediakan sejumlah uang—yang jumlahnya persis seperti seluruh tabungan pendidikan Benu.
Di sinilah semua keadaan buruk dimulai. Awal kehancuran dan ujian menghampiri mimpi Benu. Pertemuan itu mengubah sikap sang bapak yang perlahan-lahan mulai terhasut dan memberikan uang tabungan pendidikan tersebut tanpa diketahui oleh Benu dan ibunya.
Ujian kelulusan selesai, dan waktu keberangkatan ke Ambon untuk ujian masuk universitas pun tiba. Namun, selama beberapa hari belakangan, Benu melihat sikap bapaknya tampak banyak diam dan melamun. Saat ditanya, sang bapak hanya menjawab agak kurang enak badan.
Hingga malam itu, ketika Benu membicarakan bahwa lusa adalah hari keberangkatannya dan ia sudah memegang tiket kendaraan, ia bercerita dengan penuh antusias. Namun, di sanalah seluruh keraguan dan cobaan penunda mimpinya dimulai.
Sang bapak menjawab, “Maaf, Benu, uang itu sudah habis Bapak berikan ke Om Anto untuk memuluskan kelulusanmu ikut taruna Akmil bulan lalu.”
Benu terdiam. Semua berputar di kepalanya. Ia teringat kejadian bulan lalu saat ibunya pulang dari rumah sakit; sang bapak menyarankan Benu ikut tes TNI dengan dalih coba-coba sebab itu bagus untuk masa depannya, padahal Benu ingin kuliah di jurusan ilmu pendidikan. Sempat terbersit ragu kala itu, namun ia tidak curiga bahwa bapaknya telah terlena dengan janji manis sang paman hingga rela melenyapkan semua biaya pendidikan yang telah lama disiapkan.
Ia tersadar dari lamunannya sembari bangkit dan menuju tempat tidur. Malam itu bagai mimpi buruk baginya. Keberangkatannya batal, atau mungkin tertunda, tetapi ia bertekad hal itu harus terjadi di lain hari.
Seminggu berlalu pasca-kejadian penuh pilu itu. Kini tiba hari penyerahan surat kelulusan serta acara perpisahan Benu dan teman-temannya. Ia lulus dengan nilai tertinggi kedua, tetapi senyumnya sedikit redup hari itu. Ia memang tidak pernah bercerita kepada teman sebanyanya tentang rencana melanjutkan sekolah. Sang bapak hadir sebagai wali, meski kondisi kesehatannya terus memburuk pasca-kejadian itu. Benu banyak diam saat hampir setengah teman sekelasnya bercerita tentang rencana melanjutkan studi.
Hingga acara usai dan tiba masa pulang, di tengah perjalanan, sang bapak meminta maaf sambil mengajak Benu singgah di warung Nenek Rota. Warung itu menjual olahan sagu yang terkenal murah serta lezat dengan lauk gulai ikan kuning pedas. Ia dan bapaknya pun singgah, lalu memesan semangkok sagu untuk sang bapak.
Ada rasa sedih, haru, dan ragu di hatinya saat melihat kondisi bapaknya. Benu sebenarnya ingin menceritakan tujuannya merantau ke Ambon untuk bekerja demi menabung kembali agar bisa melanjutkan pendidikan dan meraih cita-citanya.
Di tengah keraguannya, kepala desa mereka tiba-tiba singgah dan menghampiri sang bapak untuk ikut makan. Sang kepala desa bercerita tentang anaknya, Hendri, yang lulus TNI berkat bantuan Om Anto. Sontak, sang bapak menjadi diam dan wajahnya makin pias. Ternyata, Om Anto selama ini memang menjadi makelar kelulusan TNI dengan meloloskan orang yang paling banyak memberikan uang suap atau uang pemulus.
Dari cerita kepala desa yang terus mengalir, Benu hanya menyimak dan menyimpulkan dalam hati: benar ternyata negeri ini sarang korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Selesai makan, ia membayar kepada Nenek Rota. Entah mengapa, sang nenek tiba-tiba berceletuk seolah tahu isi hatinya, “Negeri ini memang kaya, Nak, tapi miskin moral dan tata krama penguasanya. Serta miskin pula kemauan berproses rakyatnya, makanya suka ditipu.”
Laru Benu menjawab, “Iya juga ya, Nek. Berkat makan semangkok sagu di warung Nenek, keraguan saya jadi hilang tentang buruknya sistem di instansi negeri ini.”
Diskusi