Senin, April 20, 2026

Gerimis

15 Februari 2025
6 menit baca
Gerimis - ilustrasi pria dan wanita bertemu di Aceh saat sedang gerimis | Cerpen | Potret Online
Gerimis

“Akhyar…” ujar seorang wanita. Suaranya terdengar dari arah belakang, membuatku spontan menoleh.

Saat kedua mata menangkap seorang wanita anggun yang sedang berjalan cepat menuju ke arahku, dalam sekejap jantungku berdetak kencang. Wanita itu bernama Aisyah, teman semasa SMA-ku. Ini pertama kalinya aku bersua dengannya setelah sepuluh tahun berlalu, tepatnyat ketika hari perpisahan sekolah. Dan, melihatnya lagi bersama tas jinjing, pemandangan ini seketika membuatku terpana. Gayanya sejak SMA ternyata masih belum berubah sampai sekarang.

“Apa kabar?” tanya Aisyah begitu dirinya tiba di hadapanku.

“Baik…”jawabku yang seketika berhenti dan memandangi kedua mata Aisyah. Bola matanya masih terpancar indah seperti terakhir kali aku melihatnya — pancaran yang dulu membuatku jatuh hati padanya.

Saat aku sadar sudah agak lama menatap Aisyah, diriku spontan mengajukan pertanyaan.

“Wow… lama banget kita udah ga jumpa, ya. Kamu sendiri apa kabar, Ai?”

“Baik, kok.”

Pertemuan yang tidak sengaja dengan Aisyah membuatku cukup bahagia. Entah kenapa rasa bahagia itu datang begitu saja tanpa kupinta. Dalam hati, aku merasa sangat lega bisa menatap wanita yang dulunya kukagumi meski sampai sekarang perasaan itu tak pernah terungkap dari mulutku.

Kami lantas mulai berbicara panjang lebar. Aisyah banyak mengajukan pertanyaan
kepadaku — sepertinya dia sedikit penasaran terhadap aktivitasku selama ini. Dan, aku hanya menjawab seadanya saja tanpa perlu kujelaskan serinci mungkin mengenai pekerjaanku saat ini.

“Mutar-mutar?” tanya Aisyah. Kulihat dia sedikit mengernyitkan dahinya.

“Iyaa.”

“Ihhh serius doong…”

“Emang kamu sendiri kerja apa sekarang, Ai?”

“Aku? Di rumah aja.”

“Di rumah?”

“Iyaa. Kenapa? Penasaran, ya?” Tanya Aisyah sembari tersenyum. Sepertinya dia sengaja menjawab seadanya juga untuk membalas ucapanku tadi.

Ketika sedang asyik mengobrol, mataku tak sengaja menatap langit yang mulai ditutupi oleh awan hitam nan tebal. Tapi, aku sama sekali tidak peduli dan kembali melirik Aisyah. Kutatapi wajahnya — sesekali juga menyorot bibir wanita itu yang mengumbar senyuman sambil terus berbicara.

Entah berapa lama aku menikmati kehadiran Aiysah sampai kemudian gerimis pun mulai merintik kecil, membuat kami berdua spontan menengadahkan pandangan ke langit. Kulihat awannya memang cukup mendung, tapi di kejauhan sana terdapat secercah cahaya dari matahari sore yang menghadirkan biasan pelangi samar-samar.

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist