Artikel · Potret Online

Sepuluh Petunjuk Dalam Memahami Puisi

Penulis Muhrain
Juli 22, 2026
6 menit baca 32
a3bf8e8d-749e-413c-b764-0044883e06f5
Foto / IlustrasiSepuluh Petunjuk Dalam Memahami Puisi

Oleh Muhrain 

Banyak orang ingin menulis puisi. Namun, banyak pula yang jarang mengetahui proses yang harus dilakukan. Ada tiga proses memahami puisi. Pertama, proses konsentrasi. Kedua, proses intensifikasi dan  ketiga, proses pengimajian (imagery).

Ketika kita menulis puisi, berikut adalah 10 hal yang harus menjadi pedoman.

1. Perhatikanlah judulnya

2. Lihat kata-kata yang dominan

3. Selami makna konotatif

4. Maknai sesuai dengan struktur bahasa

5. Parafrasekan

6. Telusuri kata ganti yang terdapat di dalamnya

7. Temukan pertalian makna antara unit larik dan bait

8. Cari dan temukan makna yang tersembunyi

9. Perhatikan corak puisi, mementingkan unsurformal atau puitis

10. Tafsiran terhadap puisi harus bisa dikembalikankepada teks. 

(Prof. Dr. Mursal Esten, Memahami Puisi, PenerbitAngkasa, Bandung, 1992)

Perlu diingat bahwa jika sebuah sajak disebut jelas, apakah yang dimaksud dengan jelas tersebut? Apakah yang memungkinkan adanya kejelasan tersebut? 

Nah, sebuah sajak disebut jelas jika kita secara intuitif dapat menangkap isi Hatipena airnya. I.A. Richard (dalam Saini KM, 1993: 211) membagi isi hati penyair menjadi empat bagian yakni: pikiran, perasaan, maksud (itikad) dan nada.

(Puisi dan beberapa masalahnya, Saini KM, PenerbitITB Bandung, 1993)

J. E. Lema (Rachmat Djoko Pradopo, 1997: 56-57) mengungkapkan dalil-dalil seni sastra:

1. Puisi mempunyai nilai seni bila pengalaman jiwa yang menjadi dasarnya dapat dijelmakan ke dalam kata. Tambahan lagi nilai seni itu bertambah tinggi bila pengalaman itu makin lengkap.

2. Pengalaman jiwa itu makin tinggi nilainya bila pengalaman itu makin banyak meliputi keutuhan jiwa.

3. Pengalaman jiwa itu makin tinggi nilainya bila pengalaman itu makin kuat.

4. Pengalaman itu makin tinggi nilainya bila isi pengalaman itu makin banyak (makin luas dan makin jelas perinciannya).

Menilai karya sastra harus berdasarkan pada hakikat sastra sendiri, yaitu harus bersifat seni; artinya karya sastra harus indah, sublime, dan besar atau agung. Maka dalil pertama J. E. Lema itu memenuhi kriteria estetik, sedang dalil kedua, ketiga, dan keempat memenuhi kriteria kebesaran atau keagungan atau bersifat kriteria ekstra-estetik. 

Dalam menilai karya sastra kedua kriteria itu harus dikenakan, berjalinan erat, tak dapat dipisah-pisahkan.

Maka meskipun pengalaman jiwa itu dapat dijelmakan ke dalam kata, karya sastra itu tak mempunyai nilai tinggi bila pengalaman jiwanya itu hanya sederhana, sedikit, atau tidak lengkap, dan tidak meliputi keutuhan jiwa. 

Misalnya bila penceritaan sebuah cerkan sifatnya hanya seperti berita surat kabar, maka tak dapat dikatakan karya sastra itu bernilai tinggi karena dalam berita surat kabar yang diceritakan hanya yang tampak mata saja. Seperti dalam pembicaraan lapis-lapis norma bahwa norma-norma dalam karya sastra saling berjalinan, maka begitu juga pengalaman jiwa itu saling erat berjalinan.

Menurut analisis ilmu jiwa modern, jiwa manusia itu terdiri dari lima tingkatan, begitu juga pengalaman jiwa terdiri dari lima tingkatan atau niveaux.

Tingkatan pertama: niveau anarganis, yaitu tingkatan jiwa yang terendah, yang sifatnya seperti benda mati, mempunyai ukuran, tinggi, rendah, panjang, dalam, dapat diraba, didengar, pendeknya dapat diindera. Bila tingkatan pengalaman jiwa anargonis ini terjilma ke dalam kata (karya sastra), berupa pola bunyi, irama, baris sajak, alinea, kalimat, perumpamaan, gaya bahasa, dan sebagainya. Jadi, pada umumnya berupa bentuk formal.

Tingkatan yang ke dua: niveau vegetatif, yaitu tingkatan seperti tumbuh-tumbuhan, seperti pohon mengeluarkan bunga, mengeluarkan daunnya yang muda, gugur daun, dan sebagainya. Segala pergantian itu menimbulkan bermacam-macam suasana. 

Misalnya bila musim bunga suasana yang ditimbulkan adalah romantis, menyenangkan, menggembirakan. Bila musim gugur menimbulkan suasana tertekan, menyedihkan, dan keputusasaan. Maka bila tingkatan ini terjilma dalam karya sastra, berupa suasana yang ditimbulkan oleh rangkaian kata-kata itu: suasana menyenangkan, menggembirakan, romantic, menyedihkan, suasana khusuk, marah, dan sebagainya.

Tingkatan yang ke tiga: niveau animal, yaitu tingkatan seperti yang dicapai oleh binantang, yaitu sudah ada nafsu-nafsu jasmaniah. Bila tingkatan ini terjelma ke dalam kata berupa nafsu-nafsu naluriah, seperti hasrat untuk makan, minum, nafsu seksual, nafsu untuk membunuh, dan sebagainya

Tingkatan yang keempat: niveau human, yaitu tingkatan jiwa yang hanya dapat dicapai oleh manusia, berupa perasaan belas kasihan, dapat membedakan baik buruk, berjiwa gotong-royong, saling bantu-membantu dan sebagainya. Bila tingkatan itu terjelma ke dalam kata berupa renungan-renungan batin, konflik-konflik kejiwaan, rasa belas kasihan, rasa simpati, renungan-renungan moral, dan sebagainya. Pendeknya segala pengalaman yang hanya dirasakan oleh manusia.

Tingkatan yang ke lima, niveau religious atau filosofis, ini adalah tingkatan kejiwaan yang tertinggi. Tingkatan ini tidak dialami oleh manusia sehari-hari, hanya dialami bila sembahyang, zikir, berdoa, juga pada waktu merenungkan hakikat dunia, kehidupan, dan sebagainya. Bila tingkatan ini terjelma ke dalam kata, maka berupa renungan-renungan batin sampai kepada hakikat, hubungan manusia dengan Tuhan, seperti doa-doa, pengalaman mistik, renungan-renungan filsafat. Pendeknya, renungan-renungan yang sampai kepada hakikat.

Dalam suatu karya sastra haruslah kelima tingkatan ini terdapat di dalamnya. Kalau tidak, karya sastra itu kurang atau tidak bernilai seni. Bila karya sastra hanya sampai pada tingkatan pertama, kedua atau ketiga saja, maka hanya akan memancarkan nafsu-nafsu jasmaniah. 

Maka harus disublimir dengan tingkatan di atasnya yaitu tingkatan human dan religious hinggamemberi gambaran suatu dunia peradaban yang tinggi.Sedangakan bila hanya mencapai tingkat animal itu, hanya merangsang nafsu dan keinderaan saja, seperti karangan-karangan cabul atau pornografis itu hanya mencapai tingkatan ini.

Sebaliknya, jika karya sastra hanya memancarkan tingkatan keempat (human) atau hanya kelima(religious), maka sifatnya hanya seperti kotbah atau pidato, ajaran moral, atau berupa karangan keilmuan: nilai sastranya sangat kurang. 

Jadi, suatu karya sastra yang tinggi, mestilah di dalamnya terkandung kelima tingkatan pengalaman jiwa.

Tingkatan pertama, kedua, ketiga, sifatnya adalah pengalaman jasmaniah, sedang tingkat keempat dan kelima, sifatnya rohaniah. Sebab itu, sifat jasmaniah dan rohaniah itu harus ada dalam karya sastra.

Kesimpulannya, suatu karya sastra yang kian banyak memancarkan tingkatan pengalaman jiwa dan merupakan keutuhan akan tinggi nilainya, ditambah lagi bila pengalaman itu makin lengkap, karya sastra jadi semakin hidup, besar dan agung, jadi kian tinggi mutunya.

Misalnya saja, suatu puisi tidak cukup hanya dengan pembagian bait dan baris saja, yang merupakan tingkat pertama, nilainya akan bertambah bila ada pola bunyi yang kuat, perlambangan bunyi, gaya bahasa, bahasa kiasan, dan sebagainya. Demikian juga tingkatan ketiga, makin kuat rangsangan yang diberikan, maka makin memperjelas apa yang dikemukakan dan makin mudah timbulnya reaksi dan tanggapan. Dalam hal rangsangan ini tak usah berarti buruk dan kasar.

Karya sastra makin banyak memancarkan tingkat keempat, makin memperjelas kehalusan jiwa dan memperbesar perasaan kemanusiaan dan peradaban. Begitu juga makin banyak dipancarkan pengalaman kelima, karya sastra kian dapat membawa manusia kekesempurnaan hidup hingga nilainya kian tinggi.

Ternyatalah bahwa uraian di atas sesuai dengan fungsi hakikat karya sastra: dulce et utile, menyenangkan dan berguna. Makin banyak kesenangan dan kegunaan yang diberikan suatu karya sastra, makin bertambah tinggi nilainya.

Pembicaraan kini beralih lagi pada sifat kreativitas karya sastra, yaitu sifat imaginatifnya. Karya sastra adalah karya seni, yaitu suatu karya yang menghendaki kreativitas. Dalam definisi sastra telah disebutkan bahwa karya sastra itu karya yang bersifat imaginative, yaitu bahwa karya sastra itu terjadi akibat penganganan dan hasil penganganan itu adalah penemuan-penemuan baru, kemudian penemuan baru itu disusun ke dalam suatu sistem dengan kekuatan imaginasi hingga terciptalah suatu dunia baru yang sebelumnya belum ada.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Muhrain
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...