
Oleh: Ermaun
Jubir Aliansi Gerobak Cangpanah
Pukul 05.45 WIB, alarm berbunyi. Mata masih berat, tapi tanggung jawab lebih berat. Saya bangun, mengambil air wudu, lalu menunaikan salat Subuh. Setelah itu, rutinitas berjalan seperti seharusnya: mandi, berpakaian rapi, sarapan sederhana. Semua berjalan disiplin, nyaris tanpa cela. Jarum jam terus bergerak, dan tepat pukul 07.00 WIB, saya sudah siap—fisik, mental, dan niat—untuk bekerja.
Secara teori, ini adalah potret ideal seorang pekerja yang taat waktu. Tidak ada alasan untuk terlambat. Tidak ada pembenaran untuk absen disiplin. Semua sudah dipersiapkan dengan presisi. Namun, realitas di lapangan berkata lain. Di Banda Aceh, tepat waktu ternyata tidak selalu cukup.
Begitu kendaraan melaju dari kawasan Jalan T. Iskandar, harapan untuk tiba di tempat kerja tepat waktu mulai diuji. Lalu lintas yang seharusnya mengalir justru tersendat. Kendaraan menumpuk seperti antrean tanpa ujung. Motor, mobil pribadi terjebak dalam satu simpul kemacetan yang terasa semakin hari kian parah.
Yang paling menjengkelkan bukan sekadar macetnya, tetapi absurditas di dalamnya. Lampu lalu lintas seolah tidak berpihak pada kelancaran. Lampu hijau menyala, tapi hanya sekejap—tidak cukup untuk mengurai antrean panjang. Belum sempat setengah kendaraan bergerak, lampu sudah kembali merah. Siklus ini berulang tanpa solusi, seperti lingkaran setan yang memperpanjang penderitaan para pengguna jalan.
Dari Jalan T. Iskandar, perjalanan berlanjut ke Jalan T. Hasan Dek. Harapannya, kondisi sedikit lebih baik. Nyatanya, justru sebaliknya. Titik ini menjadi simpul kemacetan. Pertemuan arus kendaraan dari berbagai arah menciptakan kekacauan yang nyaris tanpa kendali. Tidak jarang, pengguna jalan harus menghabiskan waktu hingga satu jam hanya untuk menempuh jarak yang seharusnya bisa dilalui dalam 10–15 menit.
Di sinilah ironi itu terasa begitu tajam: kita sudah disiplin sejak pagi, tetapi sistem tidak mendukung kedisiplinan itu. Waktu yang seharusnya produktif justru habis di jalan. Energi yang seharusnya digunakan untuk bekerja malah terkuras sebelum sampai di kantor.
Kemacetan ini bukan lagi sekadar persoalan teknis lalu lintas. Ini sudah menjadi masalah struktural. Jalan yang sempit dipaksa menampung volume kendaraan yang terus meningkat setiap tahun. Tidak ada perluasan signifikan, tidak ada rekayasa lalu lintas yang adaptif, dan minim pengawasan di titik-titik krusial.
Namun, kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan pengguna jalan. Ada tanggung jawab besar di pundak pemerintah kota. Dalam hal ini, harapan jelas tertuju pada Wali Kota Banda Aceh. Sudah saatnya ada langkah konkret, bukan sekadar wacana atau janji.
Perluasan ruas Jalan T. Iskandar dan Jalan T. Hasan Dek bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan mendesak. Dua jalur ini adalah urat nadi mobilitas warga. Jika terus dibiarkan dalam kondisi seperti sekarang, dampaknya bukan hanya keterlambatan kerja, tetapi juga menurunnya produktivitas kota secara keseluruhan.
Selain itu, evaluasi terhadap sistem lampu lalu lintas juga harus dilakukan. Durasi lampu hijau yang terlalu singkat jelas tidak rasional untuk kondisi volume kendaraan saat ini. Teknologi pengaturan lalu lintas berbasis sensor atau sistem adaptif seharusnya sudah mulai dipertimbangkan, bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang “mewah”.
Transportasi publik juga perlu diperkuat. Selama masyarakat masih bergantung pada kendaraan pribadi, beban jalan akan terus meningkat. Tanpa alternatif yang layak, imbauan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi hanya akan menjadi slogan kosong.
Pada akhirnya, tulisan ini bukan sekadar keluhan pribadi. Ini adalah potret kegelisahan banyak pekerja di Banda Aceh yang setiap pagi berjuang melawan waktu—bukan karena mereka malas atau tidak disiplin, tetapi karena sistem yang tidak mendukung.
Pukul 07.00 WIB seharusnya menjadi simbol kesiapan, bukan awal dari perjuangan menghadapi kemacetan yang melelahkan. Disiplin individu harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur. Jika tidak, maka tepat waktu hanya akan menjadi ilusi—sesuatu yang tampak ideal di atas kertas, tetapi sulit diwujudkan di jalanan.
Dan selama Jalan T. Iskandar serta Jalan T. Hasan Dek masih menjadi titik macet tanpa solusi, maka setiap pagi di Banda Aceh akan selalu dimulai dengan satu hal yang sama: harapan yang perlahan berubah menjadi frustrasi.(*)














© 2026 potretonline.com