Lulus PTN Lewat Jalur Talenta, Bukti Prestasi yang Gemilang?

Oleh Tabrani Yunis
Sejumlah kepala Sekolah SMA Negeri di Aceh, beramai-ramai meluapkan rasa bahagia, rasa bangga dan kehebatan di media, ada lewat membuat berita di surat kabar, juga lewat media sosial. Kita sebagai penikmat pendidikan pun ikut bahagia dan bangga, ternyata banyak sekolah di Aceh yang mampu mengantarkan para siswa masuk ke perguruan tinggi lewat jalur talenta ini.
Tentu lulus prestasi ini adalah kelulusan yang menjadi penawar sakit dirasakan oleh para pemangku kepentingan di Dinas Pendidikan tingkat Provinsi Aceh, terutama para pejabat yang mengurus jalur pendidikan menengah yang menyiapkan para siswa bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Keberhasilan meluluskan sejumlah siswa SMA lewat jalur talenta, ikut mengangkat citra Dinas Pendidikan tingkat Provinsi Aceh. Bahkan keberhasilan ini dapat digunakan menjadi bahan klaim, bahwa kualitas pendidikan di level SMA telah meningkat.
Karena begitu pentingnya, kita dapat membaca rasa bangga dan haru kepala-kepala Sekolah yang unggul mengantarkan siswa mereka tanpa tes itu. Kesan itu terlihat dalam ungkapan-ungkapan mereka di media, baik media mainstream, maupun media sosial. Apa yang membanggakan bagi para sekolah tersebut adalah prestasi meluluskan sejumlah siswa ke PTN,seperti di USK.
Banyak pihak yang mendistribusi berita dan cerita keberhasilan itu. Sehingga dapat dikatakan bahwa berita di media itu tampak menggejala dan bernuansa euforia. Mari kita simak apa ungkapan para kepala sekolah yang menjadi juara dalam mengantarkan anak-anak mereka dengan kendaraan talenta ini.
Di laman Serambi Indonesia, cetak dan online.Ya, Serambinews.com,4 Juni 2026 memberitakan bahwa Kepala SMA Negeri Unggul Subulussalam, Syahri Ramadhan Pohan SPd MSi kepada Serambinews.com, Kamis (4/6/2026) pagi mengatakan, sebanyak 32 siswa dari sekolah yang ia pimpin berhasil masuk PTN melalui jalur talenta tahun ini rata-rata lolos di berbagai program studi (prodi) di USK.
Ia juga mengungkapkan syukur “Alhamdulillah, dari 10 besar sekolah/madrasah se-Provinsi Aceh, SMA Negeri Unggul Subulussalam berada di peringkat 1 dalam hal jumlah siswanya yang lulus di USK melalui jalur talenta,” ujar Syahri. Sungguh sangat menggembirakan, bukan?
Kegembiraan yang sama, bahkan lebih dahsyat datang dari SMA Negeri 7 Banda Aceh yang sebelumnya sukses membawa medali emas dan perak dari negeri seberang, Malaysia. SERAMBINEWS.COM – tanggal 4 Juni 2026 itu memberitakan dengan nada yang sangat informatif, yakni sebuah amaran kepada pembaca atau publik“ Kabar gembira dunia pendidikan datang dari SMA Negeri 7 Banda Aceh. Sebanyak 25 siswa SMA tersebut diterima kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur talenta, sebagaimana diumumkan oleh Panitia SPMB pada Senin, 1 Juni 2026.
Sekolah yang dipimpin Dr Erlawana ini membuktikan prestasinya dengan meluluskan beberapa siswanya di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) Banda Aceh dan pada program studi (prodi) favorit lainnya.
Dr Erlawana mengatakan, jalur talenta merupakan jalur prestasi bagi para siswa yang berprestasi akademik maupun nonakademik untuk melanjutkan pendidikan di PTN.
Nah, membaca dan menyimak ungkapan para kepala sekolah tersebut, bagi kita orang Aceh pasti secara serta merta ikut senang dan bahagia. Dalam perspektif yang sama keberhasilan para kepala sekolah mengantarkan para siswa ke gerbang Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur by desain ini, bisa dipercayai sebagai obat rasa sakit.
Namun, perlu kita cermati lebih jauh, bila kita bandingkan kelulusan siswa ke PTN dengan jalur ujian tulis, akan jauh lebih membanggakan dan membahagiakan. Ya, apabila para siswa tersebut lulus lewat jalur tes. Jalur tes sebenarnya adalah jalur yang sangat bergengsi karena lebih kompetitif, kompleks dan objektif. Lalu, bila jalur talenta, bukankah juga sangat bergengsi karena mereka adalah orang-orang sangat berbakat?
Kita akui bahwa menerima mahasiswa baru melalui Jalur Talenta (prestasi non-akademik, kepemimpinan, kewirausahaan, atau keahlian khusus) memang menjadi angin segar untuk menghargai potensi luar biasa di luar nilai rapor atau IPK.
Kita tentu juga sebaiknya tidak menyimpan dan menyimpulkan bahwa jalur talenta tidak bergengsi, tetapi bila kita lihat lebih jauh, jalur talenta cenderung memiliki banyak kelemahannya.
Di balik tujuannya yang mulia untuk menjaring individu yang unik, jalur ini menyimpan berbagai masalah dan tantangan yang cukup kompleks dalam praktiknya. Perlu diingat bahwa jalur ini juga dihadapkan pada sebuah tantangan besar. Tantangan itu adalah atandarisasi. Artinya ada perbedaan standardisasi dengan jalur reguler yang menggunakan angka pasti (seperti nilai ujian atau UTBK). Sementara mengukur “talenta” sering kali bersifat subjektif.
Sebab meluluskan siswa ke PTN kini bukan lagi sekadar urusan “siapa yang pintar di kelas”, melainkan sudah menjadi adu strategi institusional. Sekolah bertindak seperti manajer investasi, di mana rapor siswa adalah modalnya, dan indeks sekolah adalah reputasi pasarnya.
Harus pula diakui bahwa ada kurang yang disebut dengan ketiadaan rubrik yang Universal. Sebagai contoh, bagaimana membandingkan seorang juara catur nasional dengan seorang kreator konten yang memiliki 1 juta pengikut? Keduanya bertalenta, tetapi tidak ada alat ukur objektif untuk menentukan siapa yang “lebih layak”. Kemudian, ada yang kita sebut dengan “Bias Penguji”.
Artinya, penilaian wawancara, portofolio, atau audisi sangat bergantung pada perspektif, selera, atau latar belakang tim penguji saat itu. Sulit bersikap objektif, apalagi kalau masuk nilai atau rasa kemanusiaan, misalnya kasihan atau kita takut karena ia anak si pulan atau si pulin.
Hal lain yang perlu kita cermati dalam perlombaan mengantarkan siswa terbanyak ke PTN lewat jalur talenta ini. Mari kita melihat dan mengamati lebih dekat fasilitas dan isu keadilan di setiap sekolah. Kita akan dengan sangat mudah menemukan apa yang kita sebut dengan kesenjangan fasilitas dan juga isu keadilan.
Percaya atau tidak, setuju atau ingin membantah, silakan. Yang jelas, jalur talenta berpotensi memperlebar jurang pemisah antara calon dari keluarga mampu dan kurang mampu. Mengapa demikian?
Jawabannya sederhana, ya talenta itu butuh modal. Bayangkan saja, untuk menjadi atlet nasional, musisi andal, atau memenangkan kompetisi robotika, dibutuhkan biaya latihan, alat, pelatih, dan akomodasi yang tidak sedikit.
Selain itu, juga tak terbantahkan bila praktik kompromi akses, juga sering mewarnai proses penyiapan calon. Calon dari daerah pelosok atau sekolah dengan fasilitas minim sering kali kehilangan kesempatan bersaing di jalur ini, bukan karena mereka tidak berbakat, melainkan karena tidak memiliki panggung atau sertifikasi formal untuk membuktikannya.
Masih belum selesai diskusi kita, kita masuk pada tataran validasi dan kemungkinan terjadinya apa yang kita sebut dengan komersialisasi prestasi. Dalam realitas kehidupan kita, termasuk di sekolah, sering pula terjadi kondisi seperti ini. Jalur ini adalah jalur yang sangat diminati oleh orangtua yang ingin mendapat jawaban atau kepastian dari sekolah, bahwa jalur ini adalah jalur pintas (shortcut) ke PTN.
Konsekuensinya adalah jalur ini menjadi jalur kompetitif untuk lulus ke perguruan tinggi. Sehingga, seiring tingginya minat terhadap jalur ini, muncul tantangan dalam memverifikasi keaslian prestasi tersebut.
Tentu sudah lazim atau biasa dalam masyarakat kita menggunakan lembaran sertifikat “Aspal” (Asli tapi Palsu): Banyak ditemui kasus manipulasi piagam atau sertifikat kejuaraan. Kecuali, tim seleksi harus bekerja ekstra keras untuk memvalidasi keabsahan dokumen ke lembaga penyelenggara.
Tak dspat pula dihindari kebiasaan hubungan relasi atau kekerabatan di tengah masyarakat kita yang katanya orang timur. Fenomena “Kekerabatan” dan Joki adalah fenomena yang sering muncul.
Dalam portofolio digital atau proyek kewirausahaan, sulit untuk memastikan apakah karya tersebut murni hasil kerja mandiri calon mahasiswa/siswa atau ada campur tangan pihak lain (joki/orang tua).
Hal lain yang tidak kalah penting untuk kita amati dan diskusikan. Ya, ketika kita sangat bahagia dan penuh euforia dengan keberhasilan lulus lewat jalur talenta ini. Kita harusnya bisa belajar lebih jauh untuk melihat tantangan yang dihadapi oleh calon mahasiswa dan juga pihak perguruan tinggi.
Tatkala para siswa berganti baju dari siswa menjadi mahasiswa dan memasuki sistem semester di bangku perguruan tinggi. Ada banyak kemungkinan yang menjadi tantangan bagi para mahasiswa baru tersebut. Idealnya semua kemungkinan tantangan dan hambatan yang mungkin terjadi harus diidentifikasi dengan jeli serta dianalisis, sehingga tidak menyebabkan banyak yang gagal setelah lulus dan dalam masa kuliah.
Banyak fakta membuktikan bagi institusi pendidikan (khususnya perguruan tinggi), tantangan tidak berhenti saat pengumuman kelulusan seleksi.
Di jenjang perguruan tinggali, akan ada benturan yang kita sebuah saja dengan keseimbangan kuliah vs bakat atau talenta. Lihatlah apa yang terjadi? Mahasiswa yang masuk lewat jalur atlet atau seniman sering kali sibuk dengan pelatnas atau kompetisi luar. Akibatnya, mereka kesulitan mengejar ketertinggalan akademik (perkuliahan). Jadi, ini adalah sebuah masalah yang harus menjadi perhatian.
Hal yang lebih menyakitkan adalah mereka yang masuk lewat jalur pintas ini selalu dihantui oleh risiko drop out atau DO. Masalahnya jika institusi tidak memberikan dispensasi atau sistem pendampingan yang fleksibel, mahasiswa jalur talenta justru rentan mengalami penurunan performa akademik yang berujung pada sanksi akademis.
Bukan cuma itu, bagi institusi sendiri, kondisi ini akan menjadi beban institusi dalam pembinaan. Mengapa demikian? Ya, ketika menerima mahasiswa jalur talenta berarti institusi harus siap memfasilitasi mereka. Fasilitasnya tentu mencakup segala infrastruktur dan juga anggaran. Jadi, kampus atau sekolah dituntut menyediakan sarana latihan, dana delegasi kompetisi, dan pelatih yang mumpuni agar talenta tersebut terus berkembang dan membawa nama baik institusi. Jika tidak, potensi mereka justru akan “mati” setelah diterima.
Kendati demikian, kita bukan sedang L ingin membunuh dan mengerdilkan jalur yang sangat membanggakan sejumlah kepala sekolah yang telah dengan terang benderang berbahagia dan meluapkan kegembiraan ke media dan mendapat sambutan hangat dari atasan, jalur telenta dapat terus dilanjutkan, jangan dihapus, tetapi sistemnya perlu dibenahi.
Solusinya adalah dengan membangun rubrik penilaian berbasis portofolio yang transparan, menyediakan kuota khusus afirmasi bagi talenta dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), serta menerapkan sistem mentor-akademik (kurikulum adaptif) agar prestasi non-akademik dan kewajiban akademis mereka dapat berjalan beriringan. Begitu juga dengan langkah antisipatif di perguruan tinggi.












