Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Oleh: Drs. Saiful Bahri, CHRM
Kita gampang tepuk tangan untuk dokter.
Kita gampang bilang terima kasih ke polisi.
Tapi kita sering lupa tepuk tangan untuk guru.
Padahal merekalah orang pertama yang mengajarkan kita membaca “A”, menulis “1”, dan sholat “Al-Fatihah”.
Selain orang tua di rumah. Orang tua di rumah adalah madrasah pertama bagi seorang anak.
Kenapa demikian? Karena kita waktu kecil dulu, setelah sekolah umum dari pagi hingga petang, malamnya kita diantar mengaji pada guru-guru atau ustaz di kampung atau tempat tinggal kita.
*1. GURU GAJINYA PAS-PASAN, TAPI ILMUNYA LUAS BIASA*
Gajinya mungkin cuma cukup untuk 2 minggu.
Tapi dia tetap datang pukul 07.00 pagi dengan baju rapi dan selalu tersenyum. Selalu memberikan semangat pada anak didiknya: _”Selamat pagi anak-anak”_. Itulah guru kita.
Dia rela lembur mengoreksi PR sampai pukul 12 malam.
Dia rela beli kapur pakai uang sendiri.
Dia rela dimarahi orang tua murid demi kebaikan anaknya.
Tahukah kita? Di balik papan tulis itu ada doa: _”Ya Allah, jadikan anak ini orang hebat.”_
Saya jadi ingat dulu ketika saya masih sekolah SD sekitar tahun 1970-an hingga tamat pada tahun 1979.
Ketika itu guru kami tidak banyak yang mengajar. Saya ingat dengan kepala sekolah SD kami, Hamid . Beliau lama sekali jadi kepala sekolah. Lalu setelah itu digantikan oleh Pak M. Nur Ali. Beliau juga lama menjabat sebagai kepala sekolah sekaligus sebagai pengajar juga. Mengajar kami pada kelas VI.
Selain itu ada Pak Zulkifli, kini almarhum. Ada Ibu Fatimah . Ada Pak Alamsyah, guru yang jago menggambar. Setiap ada tugas beliau selalu memberi contoh gambar pemandangan yang bagus untuk kami tiru. Selain itu ada Ibu Muraidah.
Semua mereka fokus mengajar hanya pada satu sekolah. Beda dengan dosen sekarang yang bisa mengajar ke mana-mana, yang kadang membuat mahasiswa kesulitan mencari mereka untuk tanda tangan skripsi.
Tapi guru SD berbeda sekali. Mereka dulu benar-benar hidup sederhana sekali. Tidak ada guru yang memiliki sepeda motor. Mereka pergi mengajar hanya memakai sepeda.
*2. GURU MENCETAK SEMUA PROFESI, TAPI JARANG DICETAK*
Dokter hebat karena ada guru Biologi.
Insinyur hebat karena ada guru Matematika.
Presiden hebat karena ada guru PKN.
Tapi siapa yang mencetak gurunya?
Guru. Dengan gaji yang tidak pernah naik signifikan. Tapi semangatnya terus berkibar. Dia tidak mau terlihat gelisah di depan anak didiknya. Dia tidak mau terlihat lemah di depan anak asuhnya. Jiwanya selalu semangat ’45.
Dengan penghargaan yang sering datangnya kadang terlambat. Tapi dia tetap datang ke sekolah tepat waktu untuk menunjukkan kedisiplinannya kepada muridnya.
Dia tidak protes. Karena dia tahu:
_Pahalanya mengalir, selama ilmunya diamalkan muridnya._
*3. 3 PELAJARAN HIDUP DARI GURU*
*1. Ikhlas*: mengajar 30 murid dengan karakter beda-beda, tetap sabar.
*2. Tanggung Jawab*: 1 jam pelajaran = nasib 30 anak di masa depan.
*3. Cinta Tanpa Pamrih*: Lihat muridnya sukses, dia yang paling bangga. Padahal namanya tidak disebut.
Guru tidak minta dibayar dengan uang.
Guru cukup dibayar dengan: _”Bu, Pak, terima kasih. Saya ingat nasihat Bapak/Ibu.”_
*CLOSING*
Mumpung guru kita masih ada: Ziarahi. Telepon. Minta doa.
Bila guru kita sudah tiada: Al-fatihahkan. Sedekahkan ilmu atas nama beliau.
Karena suatu hari nanti kita akan sadar…
*Orang yang paling berjasa dalam hidup kita, seringnya adalah orang yang paling tidak kita perhitungkan gajinya dan jasanya.*
_Al-Fatihah untuk semua Guru yang sudah mendahului kita._
_Wallahu a’lam bishawab._
_Bekasi, 1 September 2026_












