Perempuan Indonesia: Keberanian Menantang Badai

Oleh Novita Sari Yahya
Dalam menghadapi kejahatan terorganisasi, Indonesia membutuhkan keberanian politik yang tegas. Saya menyebutnya sebagai “gaya koboi Amerika”—bukan dalam arti menggunakan kekerasan atau senjata, tetapi keberanian untuk berdiri berhadapan dengan kejahatan tanpa rasa takut dan tanpa kompromi.
Jika saya diberi amanah memimpin, saya ingin memastikan bahwa tidak ada siapa pun yang melindungi korupsi, narkotika, pencucian uang, premanisme, dan jaringan kriminal yang merusak rakyat. Mereka harus berhadapan dengan hukum yang tegas, transparan, dan tidak dapat dibeli oleh uang ataupun kekuasaan.
Saya percaya keberanian tidak selalu berarti memiliki senjata. Keberanian terbesar adalah mampu berdiri tegak ketika menghadapi intimidasi, tekanan, fitnah, dan ketakutan, lalu tetap memilih jalan hukum dan kebenaran.
Saya mengambil inspirasi dari Siti Manggopoh, perempuan Minangkabau yang dikenang karena keberaniannya melawan kolonialisme. Sosok seperti itu mengingatkan saya bahwa perempuan Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menghadapi badai, menahan rasa sakit, dan memperjuangkan kehormatan tanah air.
Saya juga menolak pandangan bahwa perempuan harus selalu berlindung di balik laki-laki. Dalam sejarah politik Indonesia, konstruksi perempuan yang hanya ditempatkan sebagai pendamping dan pengikut pernah diperkuat oleh konsep ibuisme negara pada masa Orde Baru. Itu bukan keseluruhan wajah perempuan Indonesia.
Hampir seluruh puisi dan lirik yang saya tulis berbicara tentang keberanian perempuan Indonesia.
Saya ingin menghadirkan kembali keberanian itu dalam politik: perempuan yang tidak mencari kekerasan, tetapi tidak takut menghadapi kejahatan; perempuan yang tidak mencari perang, tetapi berani menegakkan hukum; perempuan yang berdiri untuk melindungi generasi dan kehormatan Indonesia.
Novita Sari Yahya












