Kursi Goyang

07 Juni 2026
4 menit baca
21666bc8-73f1-447c-9d82-f475ad8e0041
Kursi Goyang

Oleh: Syarifudin Brutu

Di rumah ini, waktu tidak berjalan maju. Ia hanya berputar-putar di dalam toples kaca yang sudah berdebu, menolak untuk keluar.

Bapak duduk di kursi goyangnya—sebuah benda purbakala dari kayu jati yang berdecit setiap kali ia menarik napas. Bunyi decitannya adalah satu-satunya irama kehidupan yang tersisa, seperti detak jantung orang mati yang sedang dipacu dengan listrik ilegal. 

Bapak sudah tidak bicara sejak televisi tabung itu rusak tiga tahun lalu. Ia hanya menatap layar cembung yang hitam pekat, seolah sedang menonton siaran langsung dari neraka yang sedang mati lampu.

“Pak, sudah waktunya makan,” kataku, sambil meletakkan sepiring nasi dingin dengan lauk kerupuk yang sudah melempem.

Bapak tidak menoleh. Matanya yang keruh masih terfokus pada pantulan wajahnya sendiri di kaca televisi. 

Ia tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak sampai ke mata, senyum yang biasanya dipamerkan para pejabat saat bersalaman dengan korban banjir. Itu senyum yang pedis, perpaduan antara kepasrahan dan ejekan yang sangat halus.

Aku duduk di lantai, menyandarkan punggung pada kaki kursi goyangnya. Rumah ini bau kapur barus dan janji-janji yang tak pernah ditepati.

“Tadi di pasar,” aku memulai cerita, suaraku terdengar sumbang di ruangan yang terlalu hening, “orang-orang menjual harapan dalam kemasan sachet. 

Harganya murah, Pak. Cuma sepuluh ribu perak. Bisa bikin kenyang sehari kalau diseduh dengan air mata.”

Bapak tertawa kecil. Bunyi tawa yang keluar dari tenggorokannya lebih mirip suara serangga yang terinjak. Itu tawa yang mengerikan, tapi entah kenapa, matanya tampak berkaca-kaca. Apakah ia baru saja mendengar lelucon terbaik dalam hidupnya, atau ia baru saja menyadari bahwa ia sudah lama menjadi bangkai yang berjalan? Aku tidak tahu. 

Aku pun tak berani bertanya.

Di luar, hujan turun. Tapi bukan air yang jatuh, melainkan nota tagihan dan surat penggusuran yang terbang terbawa angin. Mereka mengetuk jendela dengan keras, meminta perhatian. Tapi Bapak tidak peduli. Ia terus mengayunkan kursinya. Kriet. Kriet. Kriet. Suaranya seperti gergaji yang membelah tulang rusukku.

“Pak,” panggilku lagi. “Kalau nanti aku pergi, siapa yang akan memastikan kursi ini tetap berdecit?”

Bapak berhenti mengayun. Ia menoleh perlahan ke arahku. Untuk pertama kalinya, ia menatapku. Matanya tajam, sangat tajam, seolah ia bisa melihat dosa-dosa yang kusimpan di balik dompet tipisku. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, jemarinya yang seperti ranting kering menyentuh pipiku.

“Jangan bodoh,” bisiknya dengan suara yang serak, seperti gesekan kertas amplas di atas batu nisan. “Kursi ini tidak butuh kita. Kursi ini butuh beban. Dan selama masih ada orang miskin yang mau duduk di sini, kursi ini akan terus berbunyi.”

Ia menarik tangannya, lalu kembali menatap televisi mati itu. Ia terlihat begitu rapuh, tapi di saat yang sama, ia terlihat seperti raja yang sedang menguasai tahta di tengah reruntuhan kerajaan yang ia bakar sendiri.

Aku terdiam. Dadaku sesak, bukan karena sedih, tapi karena rasa mual yang luar biasa. Apakah aku harus menangis karena Bapak sudah gila, atau harus tertawa karena ia adalah satu-satunya orang paling jujur yang pernah kutemui? 

Aku tidak tahu mana yang lebih menyeramkan: kenyataan bahwa ia masih hidup, atau kenyataan bahwa aku sebenarnya sudah lama mati di kursi ini, menunggu giliran untuk duduk dan berdecit.

Malam semakin larut. Aku mengambil piring nasi yang tak tersentuh, lalu berdiri.

“Besok kita beli harapan lagi, Pak?” tanyaku, berharap ia akan menjawab tidak.

Bapak tidak menjawab. Ia kembali mengayunkan kursinya. Kriet. Kriet. Kriet.

Rumah ini tidak pernah terasa begitu megah sekaligus begitu menyeramkan. Aku berjalan menuju kamarku, meninggalkan Bapak dalam kegelapan. Di ruang tengah, bunyi kursi goyang itu masih terdengar, seolah sedang menghitung mundur sisa napas kami yang harganya tidak lebih mahal dari kerupuk melempem di atas piring tadi.

Aku memejamkan mata, tapi yang kulihat bukan mimpi. Aku melihat masa depan kita: sebuah ruangan kosong dengan kursi yang terus berdecit tanpa ada orang yang menduduki.

Dan aku, entah mengapa, merasa perlu untuk tersenyum. Sebuah senyum yang pedis, yang membuat hatiku berdarah namun membuat akal sehatku merasa sangat terhibur.

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W