Pameran Lukisan Harum Kawedar: Lingkungan Tersenyum Mengajarkan Kita untuk Merawat Bumi

Oleh Fileski Walidha Tanjung
Akademisi Seni Budaya di SMA Negeri 2 Madiun
Ada paradoks yang diam-diam sedang kita hidupi. Semakin dewasa peradaban manusia, semakin sering kita kehilangan kemampuan paling sederhana, yakni tersenyum kepada lingkungan. Kita mampu membangun kota-kota yang menjulang, menciptakan kecerdasan buatan, mengirim wahana ke luar angkasa, tetapi masih gagal mengajarkan kepada diri sendiri bahwa pohon bukan sekadar penyerap karbon, sungai bukan sekadar saluran air, dan bumi bukan sekadar aset ekonomi.
Di tengah situasi itulah, pameran tunggal bertajuk Lingkungan Tersenyum karya Harum Kawedar Putri Azmi, seorang anak berusia enam tahun, menjadi lebih dari sekadar peristiwa seni. Ia hadir sebagai kritik yang paling sunyi sekaligus paling menggugah terhadap cara orang dewasa memahami kehidupan.
Sebagai penulis sekaligus ayah dari Huiga Ramadan yang mendapat kesempatan tampil dalam pertunjukan musik bersama saya pada pembukaan pameran tersebut, saya memandang momen ini bukan sekadar agenda kebudayaan. Kehadiran kurator D. Kartika R., pembukaan oleh budayawan Titus Tri Wibowo, serta dukungan Kawedar Leather Goods dan Titikkan memperlihatkan bahwa seni masih memiliki keberanian mempertemukan berbagai generasi dalam satu percakapan besar tentang masa depan bumi. Lebih dari itu, pameran ini juga memperlihatkan bahwa lahirnya seorang perupa tidak pernah berdiri sendiri.
Di balik karya-karya Harum, terdapat kasih sayang dan dukungan tanpa henti dari kedua orang tuanya, Ariyanti Kurnia Dewi dan Hafidz Hazanul Azmi, yang memilih memelihara imajinasi anak mereka, bukan membatasinya. Mereka memahami bahwa bakat bukan sekadar anugerah, melainkan amanah yang harus diberi ruang untuk tumbuh.
Barangkali kita terlalu lama menganggap bahwa pengetahuan selalu bergerak dari orang tua kepada anak. Padahal, sejarah sering menunjukkan sebaliknya. Anak-anak justru menyimpan cara pandang yang belum dikotori oleh kepentingan. Mereka belum mengenal istilah investasi lingkungan, pembangunan berkelanjutan, ataupun ekonomi hijau. Mereka hanya mengenal kupu-kupu yang indah, hujan yang menyenangkan, pohon yang dapat dipeluk, dan burung yang pantas tetap bernyanyi. Kesederhanaan itulah yang perlahan hilang ketika manusia dewasa mulai menghitung segala sesuatu dengan angka keuntungan.
Filsuf Hannah Arendt pernah mengatakan, “Pendidikan adalah titik ketika kita memutuskan apakah kita cukup mencintai dunia untuk memikul tanggung jawab atasnya.” Kutipan tersebut terasa menemukan maknanya dalam pameran ini. Jangan-jangan pendidikan lingkungan bukan pertama-tama mengajarkan anak mencintai bumi, melainkan mengingatkan orang dewasa agar tidak melupakan cinta yang dahulu pernah mereka miliki. Dukungan keluarga terhadap Harum memperlihatkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Ia bermula dari rumah, ketika orang tua bersedia mendengar, menghargai, dan percaya pada bahasa imajinasi anak.
Harum Kawedar melukis bukan dengan kecemasan akademik, melainkan dengan spontanitas. Dalam karya anak-anak, langit dapat berwarna apa saja, pepohonan dapat berbicara tanpa suara, dan binatang hidup berdampingan tanpa saling memangsa. Orang dewasa sering menyebutnya fantasi. Padahal mungkin justru itulah bentuk kenyataan yang paling jujur. Alam tidak pernah mengajarkan permusuhan; manusialah yang memperkenalkan batas, kepemilikan, eksploitasi, dan keserakahan.
Di sinilah saya melihat pentingnya sebuah pameran. Seorang pelukis perlu menggelar pameran karena karya seni tidak diciptakan hanya untuk disimpan, melainkan untuk dipertemukan dengan publik agar memperoleh makna melalui dialog, apresiasi, kritik, dan tafsir yang terus berkembang. Sebuah lukisan baru benar-benar hidup ketika ia meninggalkan dinding rumah pelukis dan memasuki ruang bersama, tempat setiap mata membawa pengalaman yang berbeda. Pameran menjadi jembatan yang menghubungkan gagasan pelukis dengan pengalaman penikmat seni, sekaligus menjadi sarana dokumentasi perjalanan kreatif, penguatan identitas artistik, dan pembentukan reputasi dalam dunia seni rupa. Melalui pameran, karya memperoleh kesempatan untuk dikenali, dibicarakan, diteliti, dikoleksi, bahkan menjadi bagian dari jejak sejarah kebudayaan. Tanpa pameran, karya berisiko berhenti sebagai ekspresi pribadi yang tersembunyi. Sebaliknya, melalui pameran, karya memperoleh kehidupan sosial yang memungkinkan eksistensinya terus bertahan, berkembang, serta memberi pengaruh lintas ruang, waktu, dan generasi. Karena itulah, pameran tunggal seorang anak berusia enam tahun sesungguhnya merupakan investasi kebudayaan yang jauh lebih besar daripada sekadar memamerkan lukisan.
Kita hidup dalam zaman ketika isu lingkungan semakin sering menjadi slogan daripada kesadaran. Konferensi iklim berlangsung megah, tetapi hutan tetap menyusut. Kampanye menanam pohon dilakukan setiap tahun, sementara kebijakan yang memungkinkan kerusakan ekologis tetap berjalan. Kita menyaksikan paradoks ketika bumi diperlakukan seperti pasien yang terus diberi pidato motivasi, tetapi tidak pernah benar-benar diobati. Dalam keadaan seperti itu, sebuah lukisan anak justru memiliki daya gugat yang lebih kuat daripada banyak laporan ilmiah. Sebab seni tidak sedang memaksa orang berpikir; seni menggerakkan hati agar bersedia berpikir.
Pablo Picasso pernah mengatakan, “Setiap anak adalah seniman. Masalahnya adalah bagaimana tetap menjadi seniman ketika kita telah dewasa.” Kalimat itu terasa menemukan rumahnya dalam pameran ini. Menjadi dewasa ternyata bukan sekadar bertambah usia, melainkan juga berisiko kehilangan kemampuan melihat keajaiban. Kita menjadi begitu rasional hingga lupa bahwa masa depan sering lahir dari keberanian membayangkan sesuatu yang belum pernah ada.
Saya memandang kehadiran Huiga Ramadan dalam pertunjukan musik pada pembukaan pameran memiliki makna simbolik yang tidak kalah penting. Musik dan lukisan sama-sama menggunakan bahasa yang melampaui kata-kata. Nada dan warna bertemu dalam ruang yang sama untuk menyampaikan pesan bahwa bumi membutuhkan lebih banyak empati daripada teknologi, lebih banyak imajinasi daripada ambisi. Ketika seorang anak melukis dan anak lain memainkan musik, sesungguhnya mereka sedang memperlihatkan bahwa kebudayaan merupakan bentuk paling halus dari pendidikan lingkungan.
Selama ini kita terlalu sering mengukur keberhasilan pendidikan dari nilai ujian, kemampuan berhitung, atau penguasaan teknologi. Jarang sekali kita bertanya, apakah sekolah berhasil membuat seorang anak lebih mencintai pohon daripada plastik sekali pakai, lebih menyayangi sungai daripada pusat perbelanjaan, atau lebih menghormati kehidupan daripada sekadar mengejar prestasi. Jika jawabannya belum, mungkin kita perlu mengakui bahwa pendidikan kita masih lebih piawai mencetak pekerja daripada merawat manusia.
Di sinilah seni menemukan relevansinya. Seni tidak menawarkan solusi teknis, tetapi membentuk cara pandang. Semua perubahan besar dalam sejarah selalu diawali oleh perubahan imajinasi. Sebelum manusia menghapus perbudakan, seseorang lebih dahulu membayangkan dunia tanpa perbudakan. Sebelum manusia memperjuangkan hak asasi, seseorang lebih dahulu membayangkan bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama. Maka, sebelum manusia mampu menyelamatkan lingkungan, seseorang harus lebih dahulu membayangkan bahwa alam bukan benda mati, melainkan sahabat yang hidup bersama kita.
Pameran Lingkungan Tersenyum sesungguhnya bukan hanya tentang karya Harum Kawedar Putri Azmi. Ia adalah undangan untuk memasuki cara berpikir yang selama ini kita tinggalkan. Kehadiran D. Kartika R. sebagai kurator memperlihatkan bagaimana karya anak memperoleh ruang apresiasi yang setara, sementara Titus Tri Wibowo mengingatkan bahwa kebudayaan selalu menemukan harapan ketika generasi muda diberi kesempatan berbicara. Dukungan Ariyanti Kurnia Dewi dan Hafidz Hazanul Azmi memperlihatkan bahwa keluarga adalah galeri pertama tempat mimpi seorang anak dipajang sebelum akhirnya bertemu dengan masyarakat. Sementara Kawedar Leather Goods dan Titikkan menunjukkan bahwa dunia usaha pun dapat mengambil bagian dalam membangun ekosistem seni yang berpihak pada masa depan.
Sebagai ayah, saya percaya bahwa setiap anak yang diberi ruang untuk berkesenian sedang belajar menjadi manusia yang utuh. Sebagai penulis, saya percaya bahwa setiap karya seni yang lahir dari kejujuran adalah naskah yang ditulis bersama kehidupan. Dan sebagai bagian dari masyarakat, saya percaya bahwa peradaban tidak akan diingat karena gedung-gedungnya, melainkan karena keberhasilannya meninggalkan bumi yang masih layak diwariskan kepada anak-anak yang hari ini masih melukis dengan hati yang bersih.
Mungkin pada akhirnya pertanyaan terpenting bukanlah apakah seorang anak mampu menghasilkan karya yang indah. Pertanyaan yang jauh lebih mendesak adalah, apakah orang-orang dewasa masih memiliki kerendahan hati untuk belajar kepada seorang anak? Apakah kita masih mampu melihat bumi sebagai rumah bersama, bukan sekadar sumber daya yang bisa dihabiskan? Dan ketika suatu hari anak-anak kita bertanya mengapa langit tak lagi sebersih yang mereka lukiskan, jawaban seperti apa yang akan kita berikan? Bisa jadi, di tengah dunia yang semakin bising oleh kepentingan, masa depan sedang berbicara melalui tangan kecil yang melukis, melalui nada sederhana yang dimainkan, dan melalui senyum yang diam-diam diberikan kepada lingkungan. Jika bumi benar-benar bisa tersenyum, barangkali bukan karena kita telah berhasil menaklukkannya, melainkan karena akhirnya kita bersedia kembali menjadi manusia yang mampu mencintainya.












