Requiem bagi Hati yang Dititipkan

18 Juni 2026
4 menit baca
cd8b9fa9-6617-48e3-a92f-ba0cc7cee391
Requiem bagi Hati yang Dititipkan

Oleh: Syarifudin Brutu

Di sudut kota yang lupa dipetakan oleh Google Maps, berdiri sebuah toko kecil yang papan namanya sudah lama copot—tinggal menyisakan bekas paku yang berkarat seperti bekas luka jahitan. 

Di sana, Pak Tua Jaka duduk di kursi goyangnya, menunggu pelanggan yang tak pernah datang untuk membeli, melainkan untuk menitip.

Toko itu tidak menjual barang antik. Toko itu menjual tempat untuk menaruh sesuatu yang tak lagi punya tempat di dunia yang serba cepat ini.

Kemarin, seorang mahasiswi datang dengan mata bengkak. Ia tidak membawa buku skripsi, tidak membawa laptop. Ia membawa “idealisme”-nya yang sudah ia masukkan ke dalam toples kaca. “Pak,” katanya dengan suara bergetar, “ini sudah berat sekali untuk saya bawa ke kelas. Dosen saya bilang ini tidak relevan dengan pasar kerja. Saya mau titip di sini. Tolong simpan sampai saya punya cukup keberanian untuk mengambilnya kembali.”

Pak Jaka menerima toples itu. Ia meletakkannya di rak paling bawah, tepat di sebelah “Ketulusan yang Tak Terbalas” milik seorang politisi yang sudah pensiun dan “Kepolosan Masa Kecil” milik seorang narapidana.

Dunia di luar sana sedang merayakan efisiensi. Semua orang sibuk mematikan perasaan agar tidak terdistraksi oleh notifikasi. Di sini, di toko ini, Pak Jaka justru mengoleksi hal-hal yang menghambat gerak maju.

Suatu malam, seorang pria paruh baya masuk dengan napas terengah. Ia membawa sesuatu yang tak terlihat, tapi membuat lantai toko berderit hebat. 

“Tolong, Pak,” bisiknya, “ini ‘Suara Hati’. Ia terlalu berisik saat saya sedang mencoba korupsi.”

Pak Jaka tidak bertanya. Ia tahu, di era ini, suara hati adalah polusi. Ia mengambil sebuah kotak kayu tua, membukanya, dan menyuruh pria itu memasukkan suaranya ke sana. 

Saat kotak itu ditutup, wajah pria itu seketika menjadi tenang—kosong, pucat, dan sempurna seperti patung manekin. Pria itu tersenyum, membayar dengan uang yang baunya seperti keringat orang lain, lalu melenggang pergi dengan langkah yang ringan, tanpa beban, tanpa kemanusiaan.

Gama berdiri di depan toko itu, memperhatikan semuanya. Ia, mahasiswa sastra yang dianggap gila oleh teman-temannya karena masih percaya bahwa kata-kata punya napas, kini hanya bisa menelan ludah. Ia melihat betapa lucunya manusia. Mereka berlomba-lomba membuang jiwa mereka agar bisa berlari lebih cepat di lintasan yang sebenarnya tidak menuju ke mana-mana.

Tadi siang, Gama memberanikan diri masuk ke toko itu. Ia tidak membawa toples, tidak membawa kotak. Ia membawa seluruh kegelisahan yang selama ini ia tulis di lembar-lembar kertas buram.

“Pak,” kata Gama, memandang rak-rak yang penuh dengan barang-barang tak terpakai—harapan, empati, cinta, keberanian, mimpi tentang keadilan. Semuanya berdebu, menumpuk, menunggu hari kiamat yang tak kunjung tiba. “Apakah Bapak tidak lelah? Menyimpan semua sampah emosional manusia ini?”

Pak Jaka berhenti mengayunkan kursinya. Ia menatap Gama dengan mata yang sudah kehilangan warna—seperti kertas tua yang terkena matahari terlalu lama. “Nak,” suaranya parau, “kau tahu kenapa tempat ini paling ramai saat malam tiba? 

Karena orang-orang takut pulang ke rumah dengan membawa barang-barang ini. Mereka takut kalau mereka masih punya ‘hati’, mereka akan merasakan sakit saat melihat apa yang terjadi di luar sana.”

“Jadi, kita sedang menjaga museum kepunahan?” tanya Gama.

“Bukan,” jawab Pak Jaka sambil tersenyum—sebuah senyum yang lebih mirip seringai di wajah mayat. “Kita sedang menjaga bukti bahwa kita pernah menjadi manusia sebelum kita sepakat untuk menjadi mesin.”

Gama terdiam. Ia melihat ke arah rak di sudut gelap. Di sana, ada sebuah kotak transparan yang berisi “Tangisan yang Tertahan”. Ia ingat, ia pernah menaruh milik seseorang yang ia cintai di sana setahun yang lalu. Sekarang, saat ia melihatnya, ia justru merasa iri. Ia iri pada orang itu, yang dulu masih sempat menangis. 

Sekarang, bahkan saat Gama berdiri di sana, matanya kering. Ia hanya bisa mengamati dengan kengerian yang tenang, sementara hatinya perlahan-lahan mulai mengeras menjadi fosil yang rapi, tertata di rak, siap dijual kepada siapa saja yang ingin merasa kosong.

Di luar, lampu jalan berkedip-kedip, menyorot genangan air hujan yang tercemar minyak. Gama keluar dari toko itu, berjalan tertatih di antara orang-orang yang melintas tanpa menoleh. 

Mereka semua tampak bahagia. Sangat bahagia. Wajah mereka mulus, tanpa garis kerutan bekas penderitaan.

Gama sampai di kosan, membuka laptop, dan menatap layar yang berkedip. Ia tidak tahu apakah ia sedang menulis karya sastra, atau sedang membuat katalog barang-barang yang akan ia bawa ke toko Pak Jaka besok pagi.

Ia hanya tahu satu hal: besok, dunia akan bangun dengan lebih efisien, lebih bersih, dan lebih mati. Dan ia? Ia mungkin akan datang kembali ke toko itu, menitipkan “ingatan tentang bagaimana rasanya menjadi manusia”, supaya ia bisa tidur nyenyak tanpa harus merasa bahwa segala sesuatu yang indah di dunia ini sedang sekarat.

Pedih, bukan? Gama sendiri tidak tahu. Ia hanya sedang mencoba memastikan, apakah di balik dadanya yang sesak itu, ia masih punya cukup sisa rasa untuk menyebut dirinya sendiri sebagai manusia.

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W