Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

3 menit baca
Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi - a6828971 2316 4fcc a397 717848f13aec | #Cerpen | Potret Online
Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Oleh: Syarifudin Brutu

​Di Negeri Gemah Ripah, Tuhan adalah kata benda yang paling sibuk, tapi paling kesepian. Nama-Nya dicetak di atas materai, diteriakkan di corong pengeras suara setiap lima kali sehari, dan dipahat rapi di baris pertama undang-undang. Namun, semua orang tahu, kedudukan-Nya tidak lagi di langit ketujuh. Beliau sudah lama pindah alamat ke bawah tumit Ibu Pertiwi.

​Ibu Pertiwi di negeri ini bukan lagi perempuan anggun berbaju kurung yang memegang padi. Ia telah menjelma menjadi raksasa beton dengan riasan wajah dari aspal panas dan napas yang berbau asap knalpot pejabat. Ia memakai sepatu lars baja yang beratnya beribu-ribu ton.

​Suatu pagi, di sebuah trotoar yang retak, seorang kakek tua bernama Saleh mencoba menggali tanah dengan kuku-kukunya yang hitam. Ia tidak sedang mencari cacing, ia sedang mencari Tuhan yang kabarnya tertimbun di sana.

​”Sedang apa, Kek?” tanya seorang pemuda berseragam dinas yang kebetulan lewat, sambil membetulkan lencana garuda di dadanya yang membusung.

​”Mencari keadilan, Cu. Katanya keadilan itu sifat Tuhan, dan di dasar negara kita, Tuhan ada di urutan pertama,” jawab Saleh tanpa menoleh.

​Si pemuda tertawa, suaranya kering seperti kertas koran basi. “Kakek salah alamat. Di sini, Tuhan itu urusan administrasi. Kalau mau cari Dia, pergilah ke kantor urusan agama atau rumah ibadah yang megah itu. Tapi kalau mau hidup tenang, tunduklah pada Ibu Pertiwi. Jangan digali tanahnya, nanti Kakek dianggap makar!”

​Saleh berhenti menggali. Ia menunjuk ke arah sepatu lars raksasa Ibu Pertiwi yang sedang menginjak sebuah perkampungan kumuh di kejauhan. Di bawah lipatan telapak kaki baja itu, suara doa terdengar lamat-lamat, tercekik oleh deru mesin buldoser.

​Di negeri itu, orang-orang lebih takut pada bendera yang tidak berkibar daripada hati nurani yang mati. Mereka lebih fasih menghafal pasal-pasal karet daripada ayat-ayat suci yang mengajarkan kasih. Bagi mereka, membela negara adalah “ibadah” yang paling paripurna, meski harus dengan cara menginjak wajah sesama manusia.

​Malamnya, Ibu Pertiwi berpesta. Ia berdansa di atas tanah-tanah sengketa. Setiap kali tumit bajanya menghantam bumi, terdengar bunyi krak, seperti tulang yang patah, atau mungkin seperti suara Tuhan yang sedang meringis kesakitan karena sesak napas.

​Tuhan di negeri ini memang Esa, tapi Ia tidak lagi berkuasa. Ia hanya menjadi alas kaki yang empuk agar langkah Ibu Pertiwi menuju “kemajuan” tidak terasa sakit saat menginjak kepala rakyatnya sendiri.

​Saleh akhirnya berhenti menggali. Ia sadar, Tuhan memang ada di bawah telapak kaki Ibu Pertiwi. Bukan karena Ia rendah, tapi karena Ia sedang memeluk erat tanah yang paling menderita, sementara orang-orang di atas sana sibuk menyembah berhala bernama Negara.

ADVERTISEMENT

Baca juga

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.
F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.