Sabtu, Mei 2, 2026

Hanya Tentang Kipas Angin. Itu Saja. Tidak Lebih

30 April 2026
3 menit baca
Pria kurus bertelanjang dada terbaring di kamar sempit berdinding beton dengan kipas angin tua berputar di dinding dalam suasana panas dan pengap.
Hanya Tentang Kipas Angin. Itu Saja. Tidak Lebih

Oleh: Syarifudin Brutu

Di sebuah kamar yang lebih mirip peti mati beton, dengan plafon yang hanya berjarak 1,5 meter dari lantai, Malim terkapar. Ia bertelanjang dada, memamerkan tulang rusuk yang menghitung hari, tepat saat matahari pukul dua belas berada di puncak kegilaannya. 

Di dinding, sebuah kipas angin plastik murahan berputar dengan suara sengau, seolah-olah sedang menggerutu dalam bahasa mesin yang aus. Benda itu sudah berputar selama tiga hari tanpa jeda, seolah sedang mencoba menerbangkan hawa pengap yang justru makin memadat.

Baru saja Malim hendak menjemput mimpi—yang biasanya berisi tagihan atau nasi padang gratis—sebuah suara serak membelah kebisingan motor listrik itu.

“Bang… tolonglah, Bang. Berhenti. Nafasku sudah bau sangit ini,” keluh si kipas angin. Baling-balingnya bergetar hebat. “Mesinku sudah lebih panas dari ambisi politikus. Tolonglah ada empati sedikit.”

Malim membuka satu matanya, menatap benda itu dengan alis naik sebelah. “Baru jadi kipas tiga hari sudah mengeluh. Salah siapa lahir jadi kipas angin?”

“Aku juga tidak minta dilahirkan di pabrik Shenzhen, Bang!” sahut si kipas, suaranya makin melengking karena gesekan poros yang kering. “Di sana aku barang impor, prestise. Di sana udaranya adem, aku cuma bekerja kalau musim panas yang sopan datang. Di sini? Aku kerja rodi!”

Malim mendengus, keringatnya menetes ke lantai. “Ah, itu kan di Cina. Sekarang statusmu sudah KNI—Kipas Angin Negara Indonesia. Jadi, jangan protes padaku, salahkan Tuhan kenapa membuat cuaca di sini seperti simulasi neraka.”

“Istighfar, Bang! Jangan bawa-bawa Tuhan,” potong si kipas cepat. “Tuhan itu adil, manusianya saja yang kreatif merusak dunia. Abang tahu kenapa panas di negeri ini rasanya lebih ‘menyengat’ dari sindiran mertua?”

“Ya karena musim kemarau, bodoh,” jawab Malim ketus.

Si kipas tertawa, suaranya terdengar seperti besi beradu. “Hahaha! Abang lugu sekali. Di luar negeri, orang berjemur biar eksotis. Di sini, berjemur sejam saja kau sudah sah jadi ikan asin kualitas pasar bawah. Gersang, Bang! Dan dengar ini: yang merasa panas itu cuma orang miskin seperti Abang. Orang kaya di gedung sana tidak tahu arti matahari; mereka hidup dalam kotak es bernama AC.”

“Banyak bicara kau. Kubuang juga nanti, kuganti  AC, baru tahu rasa!” ancam Malim. Namun, sedetik kemudian ia menggerutu sendiri, “Tapi kalau pasang AC, tagihan listrik bisa membengkak melebihi harga diriku. Gaji saja cuma numpang lewat.”

Kipas angin itu kembali tertawa, kali ini lebih sinis. “Nah, itu dia poinnya! Di luar sana, para pejabat dan petinggi itu dingin badannya, dingin juga hatinya. Listrik, gas, sampai tisu toilet dibayar negara lewat ‘Tunjangan Biaya Hidup’. Mereka tidak butuh kipas angin rombeng seperti aku.”

Malim terdiam, menatap langit-langit yang begitu rendah, seolah dunia memang sedang menjepitnya.

“Gimana tidak panas, Bang?” lanjut si kipas tanpa ampun. “Hutan digunduli buat pabrik, aspal tol digelar di atas bekas sawah, gedung-gedung tinggi menusuk langit hanya untuk membuang polusi ke muka orang-orang seperti Abang. 

Di negeri ini, solusinya lucu. Kalau ada yang sakit karena rokok, bukan rokoknya yang dibakar, tapi biaya rumah sakitnya yang dikasih harga selangit. Biar yang sakit malas berobat, lalu mati pelan-pelan tanpa merepotkan anggaran negara. Efisiensi, Bang! Hehehe…”

Si kipas angin memperlambat putarannya, bukan karena patuh, tapi karena nyaris mati total.

“Jadi, jangan salahkan Tuhan. Salahkan diri Abang yang tidak cukup kaya untuk membeli udara dingin. Di sini, kesejukan adalah barang mewah yang hanya bisa dibeli dengan pengkhianatan atau warisan.”

Siang itu, di kamar yang sempit, Malim dan kipas anginnya menyadari satu hal yang sama: mereka hanyalah dua rongsokan dalam sistem yang sedang terbakar hebat.

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist