Oleh: @Frida.Pigny
Nonsan, Korea Selatan, 2011.
Saya masih ingat betul masa itu, menjadi bagian dari tujuh pengajar Bahasa Inggris di sebuah universitas Buddha. Saya berbagi kamar dengan Kim Hyeji, mahasiswi paling populer di kampus itu.
Tawanya lepas, dan sering kali kami tertawa bersama sampai larut malam.
Suatu malam, setelah jam mengajar, kami berkumpul bersama beberapa mahasiswa dan biksu. Obrolan ringan berubah arah ketika seorang peserta program dari Uganda, Arthur, melemparkan pertanyaan sambil tersenyum:
“Frida, benarkah kalian, para Muslim, tidak makan babi dan minum alkohol supaya nanti di surga laki-lakinya dapat banyak bidadari cantik?”
Pertanyaan itu terdengar santai, tapi menghantam dalam. Saya cuma diam dan beri dia senyum paling sederhana. Bukan karena marah, tapi karena saya tidak punya jawaban yang jujur dan utuh.
Saya pernah mendengar cerita tentang bidadari sebagai “hadiah” bagi laki-laki di syurga nanti. Saya juga sering mendengar bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Bahkan, ada narasi bahwa akal perempuan lebih rendah dari laki-laki.
Tapi saat harus menjelaskannya di ruang nyata, di hadapan orang dari beragam latar budaya lain, semua itu terasa rapuh. Tidak kokoh. Tidak masuk akal.
Jadi malam itu, saya memilih diam.
Dari Bandung, Sydney, hingga Korea Selatan, saya membawa satu kegelisahan yang sama: mencari kebenaran yang tidak hanya bisa dipercaya, tapi juga bisa dipertanggungjawabkan secara akal.
Saya pernah duduk di kuil Baha’i di New South Wales, mencoba memahami perspektif lain. Saya juga pernah bertanya langsung kepada Zakir Naik saat beliau datang ke Daejeon tahun 2015.
Namun, jujur saja… banyak jawaban yang saya temukan terasa menggantung. Seolah cukup untuk didengar, tapi belum cukup untuk benar-benar dipahami. Berbeda sekali dari yang saya tonton di YouTube.
Lalu waktu berjalan. Sekarang tahun 2026.
Di saat banyak orang sibuk mengejar target “khatam” Al-Qur’an dalam bentuk bacaan suara, saya justru mengubah pendekatan: saya mulai membacanya untuk memahami.
Perlahan saja. Dengan akal yang sudah diberi-NYA.
Dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana khas anak kecil.
Dan di situlah saya menemukan sesuatu yang mengejutkan:
Jawaban dari pertanyaan 15 tahun lalu itu ternyata ada.
Jelas.
Terang.
Dan justru sangat sederhana.
Salah satu narasi yang paling sering kita dengar adalah:
perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, bahkan sering ditambahkan bahwa bentuknya “bengkok.”
Narasi ini bukan sekadar cerita. Ia sering digunakan sebagai legitimasi halus untuk menempatkan perempuan sebagai makhluk yang “kurang”, yang perlu diarahkan, bahkan “diluruskan.”
Tapi ketika saya kembali ke sumber utamanya, Al-Qur’an, saya tidak menemukan satu pun ayat yang menyebutkan hal tersebut.
Tidak ada.
Yang justru berulang kali disebut adalah ini:
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (nafsin wāḥidah), dan darinya Allah menciptakan pasangannya…” (QS. An-Nisa: 1)
Kata nafsin wāḥidah berarti satu entitas, satu jiwa, satu asal yang sama.
Artinya?
Tidak ada hierarki penciptaan.
Tidak ada “versi utama” dan “versi turunan.”
Perempuan bukan potongan dari laki-laki.
Ia adalah entitas utuh dan mandiri. Sama seperti laki-laki.
Lalu dari mana datangnya narasi “tulang rusuk”?
Secara historis, konsep ini berasal dari Kitab Kejadian (Genesis 2:21–22) dalam tradisi Yahudi-Kristen. Dalam studi Islam, kisah seperti ini dikenal sebagai Israiliyat, yaitu cerita lintas tradisi yang masuk ke dalam tafsir dan literatur keagamaan, bukan berasal dari Al-Qur’an itu sendiri.
Memang ada hadis yang menyebutkan perempuan seperti tulang rusuk. Namun banyak cendekiawan Muslim, seperti Muhammad Abduh dan Rashid Rida, menjelaskan bahwa itu adalah metafora (majaz), bukan fakta biologis.
Metafora tentang karakter yaitu bahwa sesuatu yang “melengkung” tidak bisa dipaksa lurus tanpa merusaknya.
Bukan penjelasan tentang asal-usul anatomi manusia.
Masalahnya, ketika metafora dibaca secara literal, lahirlah kesimpulan yang keliru dan sering kali merugikan.
Narasi seperti ini bukan sekadar salah tafsir.
Ia punya dampak sosial yang nyata.
Ketika perempuan dianggap “berasal dari laki-laki,” maka secara halus ia ditempatkan sebagai pihak kedua.
Ketika ia disebut “bengkok,” maka kritik terhadapnya terasa sah. Dan secara perlahan, namun pasti menempatkan laki-laki pada posisi tertinggi.
Padahal, Al-Qur’an justru membangun fondasi yang berbeda.
Dalam QS. Al-Ahzab: 35, Allah menyebut laki-laki dan perempuan secara sejajar, berulang kali, dalam sepuluh kualitas utama: iman, kesabaran, kejujuran, hingga kedekatan spiritual.
Tidak ada satu pun yang lebih tinggi secara bawaan.
Yang membedakan hanyalah amal semata.
Di titik ini, saya kembali ke pertanyaan awal saya sendiri:
Mengapa kita lebih sering mengulang cerita, daripada memeriksa sumbernya?
Mengapa kita lebih percaya pada narasi turun-temurun, daripada membuka teks originalnya langsung?
Dan mungkin yang paling jujur:
mengapa kita lebih nyaman mengikuti daripada berpikir dan bertanya?
Pengalaman pribadi saya mengajarkan satu hal sederhana:
Bahwa banyak kebingungan dalam beragama bukan berasal dari wahyunya,
tetapi dari lapisan cerita yang menumpuk di sekelilingnya.
Ketika lapisan itu kita buka satu per satu, dengan membedakan bacaan sejarah dari Hadits dan Wahyu Allah dari Al-Qur’an, maka yang tersisa justru sesuatu yang jauh lebih jernih, dan lebih adil.
Hari ini, jika pertanyaan seperti yang Arthur lontarkan itu muncul lagi, saya tidak akan diam.
Saya bisa menjawab dengan tenang:
Bahwa perempuan dalam Al-Qur’an bukan berasal dari tulang rusuk yang bengkok.
Ia berasal dari jiwa yang sama.
Dari sumber yang sama.
Dengan martabat yang sama.
Dan mungkin, yang perlu kita luruskan hari ini bukanlah perempuan, melainkan cara kita membaca. Cara kita memahami teks yang diturunkan untuk seluruh umat manusia: lintas zaman, lintas budaya, dan lintas bahasa.
Berani bertanya, berani merenung, dan tidak selalu terburu-buru menyerahkan pemahaman kita kepada pihak ketiga hanya karena mereka dianggap lebih “ahli”. Karena pada akhirnya, tidak ada jaminan bahwa orang lain lebih sungguh-sungguh memahami dibanding kita yang membaca dengan jujur dan berani menggunakan ‘aql’ sesuai perintah ajaran.
Bukankah Tuhan sendiri telah menegaskan:
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)
Jika Kitab itu telah dinyatakan mudah untuk dipahami, maka mungkin yang selama ini terasa sulit bukanlah wahyunya, melainkan keberanian kita untuk berpikir mandiri.
Allah tidak pernah menggunakan ‘kasta biologis’ dalam Al-Qur’an. Allah menggunakan ‘kasta amal’. Di QS. Al-Ahzab: 35, Allah sampai mengulang kata ‘laki-laki dan perempuan’ sebanyak 10 kali. Jika Allah saja memandang kita sejajar dalam 10 kualifikasi utama, atas dasar apa manusia masih menggunakan mitos ‘tulang rusuk’ untuk merasa lebih tinggi?
“Sungguh, laki-laki muslim dan perempuan muslim, laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, laki-laki yang tetap dalam ketaatannya dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, laki-laki yang benar dan perempuan yang benar, laki-laki yang sabar dan perempuan yang sabar, laki-laki yang khusyuk dan perempuan yang khusyuk, laki-laki yang bersedekah dan perempuan yang bersedekah, laki-laki yang berpuasa dan perempuan yang berpuasa, laki-laki yang memelihara kehormatannya dan perempuan yang memelihara kehormatan, laki-laki yang banyak menyebut (nama) Allah dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Mungkin selama ini yang bengkok bukan Perempuan,
melainkan cara kita memilih sumber dan membangun pemahaman darinya. (*)









Diskusi