Selasa, April 28, 2026

Jejak di Pelabuhan San Francisco

6a7a65e8-06b4-4adc-83ed-883f747e7ee1
Ilustrasi: Jejak di Pelabuhan San Francisco

Oleh: Novita Sari Yahya

Bab 1

Di akhir abad kesembilan belas, San Francisc bukan kota kecil lagi. Sudah jadi semacam pintu besar ke arah Laut Pasifik. Orang datang dan pergi tanpa henti. Kadang aku membayangkannya seperti kota yang tidak pernah tidur, tapi itu kedengaran klise.

Pelabuhan itu selalu ramai. Ada suara kayu berderak setiap kali ombak besar datang. Teriakan buruh yang tidak terdengar jelas karena tertutup suara kapal uap. Asap hitam naik dari cerobong kapal, bercampur dengan langit yang berwarna abu-abu, terlihat kelabu karena debu dan uap.

Bau di area pelabuhan itu sulit untuk dijelaskan. Bau campuran laut asin, kayu basah, besi tua, dan keringat manusia. Tercium menusuk hidung dan bikin perut mual, tapi lama-lama orang sudah terbiasa.

Orang-orang datang dari banyak tempat yang jauh. Suasana bising bercampur berbagai bahasa seperti bahasa Inggris kasar, Mandarin cepat yang terdengar seperti orang sedang marah padahal tidak, dan bahasa lain yang bahkan tidak bisa dikenali.

Di tengah semua keributan suasana pelabuhan itu, ada satu perempuan berdiri di ujung dermaga.

Namanya Wulandari.

Dia memegang koper kayu. Koper itu sudah agak lecet di beberapa bagian. Tangannya tidak gemetar, tapi juga tidak benar-benar tenang. Seperti orang yang baru saja sampai di tempat asing dan masih mencoba memahami apakah dia aman atau tidak.

Dia datang dari Nusantara. Jauh sekali kalau dipikir. Tapi waktu itu mungkin dia tidak terlalu memikirkan tentang arti “jauh” dari tanah kelahirannya.

Angin Laut Pasifik menyapu wajahnya. Angin terasa dingin membuat wajahnya pucat dan bibirnya bergetar. Wulan menarik napas panjang, tapi pelan.

“Jadi ini Amerika,” katanya pelan, berbisik ke dirinya sendiri.

Di dekatnya ada seorang pria tua sedang mengangkat peti kayu. Pria itu sempat melirik sebentar lalu kembali bekerja.

“Kau bisa bertahan di sini kalau beruntung,” kata pria itu tiba-tiba. Suaranya serak. “Tapi kebanyakan orang tidak beruntung di pelabuhan.”

Wulandari hanya mengangguk kecil. Dia tidak banyak menjawab. Mungkin belum tahu harus menjawab apa.

Di hari yang sama, di sisi lain pelabuhan, sebuah kereta kuda berhenti. Dari dalamnya turun dua pria berjas rapi. Salah satunya membawa dokumen kulit berstempel asing.

Mereka bukan buruh. Bukan pelaut. Mereka orang kantor.

Seorang di antara mereka berkata pelan, “Dia harus sudah tiba hari ini.”

Nama itu disebut tanpa emosi, dan menyebutkan nama Wulandari.

Utusan itu adalah bagian dari perusahaan Belanda yang memiliki kantor dagang di San Francisco. Perusahaan itu bergerak di jalur perdagangan Asia–Pasifik, dan Wulandari telah “dipesan” untuk bekerja sebagai staf administrasi penerjemah karena kemampuannya menguasai beberapa bahasa asing.

Seorang anak pelabuhan ditugaskan mencari.

“Perempuan Nusantara, membawa koper kayu,” kata utusan itu.

Dan tanpa Wulandari tahu, sejak langkah pertamanya di dermaga, ia sudah berada dalam sistem yang bergerak dalam percepatan waktu.

Pelabuhan yang selalu bergerak dengan waktu.

San Francisco waktu itu seperti tidak pernah berhenti bergerak. Dari pagi sampai malam, selalu ada orang yang datang dan pergi.

Demam emas membuat kota San Francisco berubah. Orang-orang datang seperti mengejar sesuatu yang tidak terlihat, tapi diyakini ada di tanah ini.

Sekarang, meskipun cerita tentang emas di San Francisco tidak seheboh dulu, tapi semua orang datang dan berharap.

Di jalan dekat pelabuhan, tanahnya kadang berlumpur. Kuda lewat meninggalkan jejak. Ada kios-kios kecil yang dibangun tergesa sehingga kelihatan susunan kayu yang tidak rapi. Di kios menjual apa saja, dari makanan, alat kerja, sampai barang-barang kebutuhan pekerja tambang.

Wulandari berjalan pelan dan sedang belajar cara berjalan di tempat baru.

Kadang dia berhenti ketika berpapasan dengan orang yang lewat dengan langkah cepat dan terburu-buru.

Wulan membeli roti dan apel. Sambil duduk di bangku kayu yang agak miring dan makan pelan-pelan karena perutnya mual dan berdendang kelaparan.

Walau roti itu keras dan apelnya agak lembek di satu sisi, tapi Wulan memakannya untuk menghentikan dendangan bunyi perut yang kosong.

Tiba-tiba pikirannya teringat pada suasana desanya di Jawa. Suara jangkrik di sawah dan suara orang-orang berbicara di dapur.

Lalu hilang lagi.

Di sini semuanya terlalu cepat.

Penjemputan Wulan bekerja di kantor dagang Belanda

Sore itu, ketika matahari mulai turun di balik kabut pelabuhan, seseorang akhirnya mendekatinya.

Seorang pria berpakaian rapi, berbeda dari orang-orang pelabuhan, berhenti beberapa langkah darinya.

“Wulandari?” tanyanya dalam bahasa Melayu patah-patah.

Wulan menoleh.

Pria itu mengeluarkan kertas.

“Utusan dari perusahaan Belanda. Anda diminta datang.”

Wulan terdiam sesaat. Dunia terasa seperti berhenti sebentar.

Koper kayunya masih di pangkuannya.

“Sekarang?” tanyanya pelan.

Pria itu mengangguk.

Tidak ada pilihan yang benar-benar dijelaskan. Tidak ada ruang untuk bertanya banyak.

Di kejauhan, pelabuhan tetap bising. Tapi bagi Wulan, suara itu terasa jauh.

Wulan berdiri dan kemudian mengikuti langkah pria itu menuju kereta kuda yang menunggu.

Dan tanpa sadar, hidupnya berpindah arah hanya dalam beberapa langkah kecil di tanah asing.

Pertemuan dengan pria bernama Jack

Di sisi lain pelabuhan, seorang pria berdiri di atas tumpukan peti kayu. Topinya agak kusam. Bajunya sudah tidak terlalu bersih, tapi juga tidak benar-benar kotor seperti orang yang tidak punya tempat tinggal.

Namanya Jack Sullivan.

Dia bukan orang baru di California. Lahir di sini, atau hampir di sini. Ayahnya dulu pekerja ranch. Hidupnya tidak pernah benar-benar menetap di satu tempat.

Dia pernah jadi koboi, menggiring sapi. Pernah juga kerja di jalur pos kuda. Kadang di pelabuhan.

Hidupnya… ya begitu saja.

Jack melihat Wulandari dari kejauhan. Dia tidak langsung mendekat. Hanya memperhatikan.

Ada sesuatu yang berbeda. Mungkin cara perempuan itu berdiri. Atau cara dia melihat sekeliling seperti sedang menyimpan semuanya di kepala, tapi tidak mengerti semuanya.

“Bukan orang sini,” gumam Jack.

Temannya tertawa kecil. “Di sini hampir tidak ada orang sini, Jack.”

Jack tidak menjawab lagi.

Kehidupan baru di San Francisco

Namun sejak hari Wulan dijemput ke kantor dagang Belanda di pelabuhan San Francisco, sebagian hidupnya mulai terbagi dua.

Di siang hari, ia duduk di ruang kecil berisi meja kayu, menyalin dokumen, mendengar bahasa Inggris yang cepat, dan sesekali bahasa Belanda dari ruang kantor utama.

Di malam hari, ia kembali melihat kota yang tidak pernah benar-benar tidur.

Kadang ia merasa seperti bukan bagian dari apa pun.

Dunia yang tidak ramah bagi perempuan yang berani dan mandiri.

Di kantor perusahaan Belanda itu, Wulan mulai mengerti sesuatu.

Bahwa ia tidak hanya “dipekerjakan”, tetapi juga “ditempatkan”.

Ada dokumen yang harus diterjemahkan. Ada surat yang tidak boleh salah arti. Ada nama-nama pelabuhan di Asia yang disebut seolah semua itu hanya titik di peta perdagangan.

Kadang ia teringat Laut Jawa.

Tapi setiap kali kerinduan tentang tanah Jawa datang menyelinap muncul, suara dari ruang kantor langsung menariknya kembali ke San Francisco.

Penutup

San Francisco terus berubah.

Rel kereta mulai dibangun. Bangunan kayu perlahan diganti batu. Kota ini tidak lagi menjadi kota semrawut, mulai tertata, tapi belum rapi.

Di tengah semua itu, ada dua orang datang ke kota San Francisco untuk mengadu nasib. Pertemuan untuk berbisnis dan kadang pertemuan manusia dari berbagai budaya dan negeri yang jauh.

Tapi ada sesuatu yang mulai terasa antara pertemuan manusia dengan latar belakang berbeda seperti Wulan dan Jack. Pelan tapi pasti rasa itu hadir melampaui perbedaan yang terbentang luas. Perasaan nyaman dan perasaan saling membutuhkan di tengah kesemrawutan kota Pelabuhan San Francisco. Apakah itu benih cinta atau hanya ketergantungan karena kesepian, terpisah dari keluarga, dan kesendirian.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist