Artikel · Potret Online

Ketika Sekolah Berebut Menjadi Juara

Penulis  Tabrani Yunis
Juni 9, 2026
8 menit baca 49
P1010013
Foto / IlustrasiKetika Sekolah Berebut Menjadi Juara

Oleh Tabrani Yunis

Belakangan ini ada banyak berita di media, baik media online, media cetak, maupun di media sosial, seperti juga di grup-grup WhatsApp yang menginformasikan tentang sekolah juara. Sekolah juara adalah sekolah-sekolah yang selama ini mengklaim sebagai sekolah yang banyak memenangi berbagai lomba di Tingkat local, daerah, nasional, bahkan internasional. Sebagai sekolah yang membanggakan karena bisa membawa pulang banyak medali emas, medali perak dan juga medali perunggu dari katanya kompetisi Tingkat Internasional. Selain prestasi yang ditoreh dari pengumpulan medali itu, juga ada kepala sekolah yang dengan peenuh rasa bangga menyampaikan ke berbagai media tentang kehebatan prestasi  gemilang karena bisa meluluskan siswa dalam angka yang maksimal ke perguruan tinggi lewat jalur seleksi berbasis talenta atau bakat. 

Dengan prestasi-prestasi itu, sekolah-sekolah yang merasa unggul dan dinyatakan sebagai pemenang, tampak  berlomba-lomba memasukkan berita kemenangan itu ke media, baik cetak maupun online. Bahkan juga diupload di media social, untuk mendapatkan apa yang kita kenal di era digital ini dengan validasi. Itu trend yang sedang melanda dunia pendidikan di Indonesia dan di Aceh khususnya. Sekolah -sekolah pemenang ini selanjutnya mendapat validasi dan diklaim sebagai sekolah hebat yang mampu mengelola potensi para siswa. Ini adalah tren masa kini.

Ya, trend “Sekolah Juara” di Aceh, maupun di Indonesia saat ini ditandai dengan banyaknya sekolah yang ikut kompetisi antar sekolah di Tingkat local atau Kabupaten/kota, provinsi dan nasional, bahkan internasional. Tujuannya untuk menampilkan prestasi unggul, baik berupa kemenangan lomba maupun angka kelulusan tinggi ke perguruan tinggi negeri. Lalu, ketrika semakin banyak sekolah berlomba menjadi juara, apakah ini salah?

Ya, tentu sajalah secara kasat mata, tidak salah, karena di satu sisi, meraih sekolah juara adalah sebuah bentuk motivasi. Dikatakan demikian karena dengan adanya status juara yang diraih dapat memotivasi sekolah-sekolah berlomba menjadi yang terbaik dan berkualitas prima. Ya,  status juara yang diraih di satu sisi dapat meningkatkan motivasi siswa dan guru, serta kepala sekolah untuk berprestasi atau meraih prestasi gemilang itu. Selain itu diprediksi pula dapat mendorong inovasi pembelajaran agar sekolah tidak hanya fokus pada teori. Lebih dari itu kerja-kerja mengejar status juara tersebut secara positif dapat meningkatkan citra sekolah sehingga lebih dipercaya masyarakat. Karena kecenderungan yang terlihat saat ini adalah ada banyak sekolah yang kerjanya menyiapkan siswa untuk lomba-lomba yang menyediakan banyak medali, karena itu adalah bentuk validasi sekolah juara.

Jadi, trend “Sekolah Juara” memang memberi semangat baru dalam dunia pendidikan Indonesia, tetapi perlu diimbangi dengan pemaknaan ulang bahwa prestasi bukan hanya lomba dan angka kelulusan, melainkan juga kompetensi, karakter, dan keterampilan hidup nyata. Jika tidak, sekolah berisiko menjadi sekadar “etalase prestasi” tanpa substansi pendidikan yang mendalam. Ketika kita masuk ke sekolah-sekolah besar di kota, banyak kita melihat pajangan piala yang dipajang di lemari-lemari sekolah, hingga tidak cukup tempat untuk memajangnya. Namun, apakah semua piala yang dipajang tersebut bisa menjamin dan merepresentasikan bahwa  sekolah tersebut memang sekolah berkualitas?

Jawabannya, tidak bisa, karena prestasi satu atau dua orang, tidak bisa mengeneralisasi dan merepresentasikan profil sekolah secara keseluruhan. Oleh sebab itu, tren mengejar menjadi sekolah juara atau pemenang itu perlu disikapi dan dikritisi lebih dalam lagi. Bukan maksudnya mendiskreditkan atau mengecilkan upaya mengejar prestasi, tetapi harus dikritisi pula segala dampak, positif dan negatifnya.

Sebab , kondisi ini juga membawa risiko bagi sekolah dan dunia pendidikan kita. Tanpa disadari atau tidak tren sekolah juara memberikan dampak negatif karena banyak sekolah menjadikan kemenangan di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional sebagai “jualan” utama untuk branding.

Idealnya, banyaknya sekolah yang berlomba menjadi juara, memang bagus, apabila semua siswa di sekolah tersebut adalah para juara, bukan hanya menjuarakan anak-anak tertentu yang jumlahnya relative kecil. Apalagi fenomena ini mencerminkan pergeseran orientasi pendidikan dari sekadar proses belajar ke pencitraan institusi sebagai pusat prestasi. Sekolah membangun citra berprestasi lewat lomba yang tidak representatif sebagai klaim sekolah juara yang berkualitas secara holistic.

Hal ini perlu banyak kajian dan perttimbangan, karena focus pada upaya mengejar status juara bisa mengarah pada tindak komersialisasi prestasi. Artinya, sekolah lebih sibuk mengejar lomba daripada kualitas belajar sehari-hari. Kedua, bisa memunculkan ketimpangan. Kemampuan mengejar status juara hanya sekolah dengan fasilitas dan dana besar yang mampu tampil sebagai “juara”. Ke tiga, praktik ini juga berisiko mereduksi makna pendidikan. Dikatakan demikian karena makna prestasi dipersempit menjadi angka kelulusan dan piala, bukan karakter dan kompetensi. Sebagai contoh adalah ketika tingginya persentase siswa diterima lewat jalur SNBP/PNBK atau jalur talenta sering diumumkan sebagai prestasi yang sangat membanggakan. Celakanya, sekolah yang menyandang juara tersebut sering dianggap sebagai sekolah unggul.

Fenomena dan tren ini selain perlu diapresiasi, juga harus secara jujur dikaji dampak positif dan negatifmya. Kita juga harus  waspada agar tidak ikut membawa dampak negative bagi dunia Pendidikan. Sebab, ketika tren mengejar status “sekolah juara”, fokus utama sekolah beralih demi meraih piala, piagam, olimpiade, atau label unggulan. Kondisi ini sering kali membawa dampak negatif yang jarang disorot. 

Oleh sebab itu, ada yang harus kita cermati bahwa di balik prestise dan piala yang dipajang di lobi, ada “biaya mahal” yang harus dibayar oleh ekosistem pendidikan itu sendiri. Misalnya untuk mendapat status juara sekolah. Kepala sekolah dengan berbagai cara melakukan pendekatan kepada orang tua siswa yang status ekonominya kelas atas atau menengah, mau menyediakan dana yang bisa membiayai siswa dan bahkan dengan guru pembimbing untuk ikutan lomba, baik di Tingkat local, maupu ke Tingkat internasional, ke  luar negeri. Orangtua yang mampu, tidak keberatan karena ada harapan membawa pulang piala emas, sebagai bukti berprestasi dengan symbol medali. Jadi kepala sekolah dengan bukti membawa medali emas, perak atau perunggu, setelah kembali ke tanah air, sebagai daya tarik bagi orangtua.

Oleh sebab itu tren ini harus menjadi kajian kita. Ada banyak hal menarik yang perlu kita kupas, yang cenderung menjadi dampak buruk ke depan. Pertama,  perolehan medali itu bisa saja bukan dari hasil kompetisi yang dalam lomba saling bertanding mengalahkan lawan, tetapi disasarkan pada sistem passing grade. Sehingga bisa membawa banyak piala dan hasil itu menjadi bahan validasi sebagai pemenang dalam berbagai bidang lomba yang diselengarakan.

Kedua, ada kemungkinan, ketika sekolah mengejar status sebagai sekolah juara, tak dapat dimungkiri pula akan terjadi apa yang kita sebut dengan tindakan diskriminasi dan pilih kasih terhadap siswa. Dalam konteks ini, sekolah cenderung memusatkan sumber daya terbaiknya (guru pavorit, fasilitas, waktu bimbingan) hanya untuk segelintir siswa yang dianggap potensial menyumbang piala. Juga ada guru yang merasa terdiskrimnasi karena tidak ikut dilibatkan dalam proses itu.  Semua ini akan membawa akibat.  Akibat itu misalnya, siswa “rata-rata” terabaikan. Juga guru. Mengapa demikian? Ya, karena mayoritas siswa yang tidak masuk tim kompetisi sering kali merasa dianaktirikan dan kurang mendapat perhatian.

Ke tiga, tren ini bisa menyebabkan  terjadi kesenjangan akademis, dan disorientasi seperti disebutkan di atas karena  fokus mengajar bergeser dari “memastikan semua siswa paham” menjadi “memastikan siswa tertentu menjadi jagoan menang lomba.”

Orientasi pendidikan bergeser dari proses menjadi sekadar hasil akhir. Belajar tidak lagi didasari oleh rasa ingin tahu (curiosity), melainkan hafalan dan trik taktis memenangkan kompetisi atau ujian.  Ketika siswa tidak lagi menikmati proses belajar, esensi pendidikan karakter dan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) menjadi hilang. Inilah yang kita sebut dengan reduksi makna belajar, karnea demi nilai dan gengsi sekolah.

Ke empat, secara psikologis ada hal yang mungkin terjadi yakni tekanan psikologis dan terjadinya kasus burnout pada siswa. Artinya, tuntutan untuk selalu menang menciptakan lingkungan yang penuh kecemasan. Ini bisa melahirkan kondisi siswa yang menjadi “andalan” sekolah kerap mengalami stres berat, kelelahan fisik dan mental (burnout), hingga ketakutan ekstrem akan kegagalan karena membawa beban nama baik institusi. Lebih parah lagi, anak-anak yang dipersiapkan sebagai pemburu juara, bisa kehilangan masa remaja karena waktu mereka habis untuk karantina dan latihan demi kompetisi.

Ke lima, percaya atau tidak, guru dalam upaya mengejar gengsi sekolah seperti ini guru tidak hanya dituntut untuk mengajar di kelas, tetapi juga dipaksa menjadi pelatih, pendamping lomba, hingga administrator administrasi kompetisi. Hal ini dapat menurunkan kualitas pengajaran harian karena energi guru sudah terkuras habis untuk mengejar target prestasi luar sekolah.

Ke enam, karena alasan demi mempertahankan gengsi dan status “sekolah juara”, tak jarang muncul kompromi terhadap integritas. Mulai dari memanipulasi nilai rapor (kerek nilai), memaklumi ketidakhadiran siswa andalan secara berlebihan, hingga potensi kecurangan saat kompetisi atau ujian demi menjaga statistik kemenangan sekolah.

Ke tujuh, dalam perpekstif sosial, terjadi apa yang kita sebut dengan eksklusi sosial dan hilangnya empat. Nah,  lingkungan sekolah yang terlalu kompetitif bisa menumbuhkan atmosfer yang dingin. Siswa saling bersaing ketat alih-alih berkolaborasi. Hal ini memicu hilangnya rasa empati dan solidaritas antar-teman, karena orang lain dipandang sebagai rival, bukan rekan belajar. 

Begitulah sejumlah dampak yang harus kita antisipasi ketika semakin banyak sekolah yang berlomba menjadi juara, bukan sekolah yang berkualitas untuk semua. Walau pun sebenarnya, prestasi  bukanlah  hal yang salah, namun ketika kompetisi dijadikan tujuan utama bukan lagi sebagai wadah pengembangan bakat, sekolah kehilangan fungsinya sebagai tempat mendidik manusia seutuhnya. Pendidikan yang sehat sejatinya memanusiakan semua siswa, bukan hanya merayakan mereka yang berdiri di atas podium.

Sesungguhnya ada banyak cara menjadikan semua anak atau siswa adalah juara. Salah satunya adalah menyiapkan semua siswa memiliki karya-karya yang mereka ciptakan sendiri dengan penuh variasi sesuai dengan bakat , potensi dan ketrampilan yang mereka miliki. Misalnya, sebuah sekolah yang para siswanya banyak dan raji menulis di media, tulisan – tulisan mereka itu adalah prestasi nyata yang bisa diukur oleh public, sehingga publiklah yang memvalidasi sekolah itu juara atau bukan. Mari kita berpikir lebih dalam.

 

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...