Oleh: Syarifudin Brutu
Lampu merah menyala seperti mata iblis yang menuntut tumbal. Di atas aspal yang memuai karena sisa panas pembakaran nikel, dua sosok berdiri kaku. Yang satu disepuh perak—murahan, mengelupas di sela ketiak. Yang satu lagi disepuh emas—silau, tapi bau amis logamnya tak bisa menipu hidung yang peka.
“Kau tahu, Mas,” bisik Si Perak sambil menyodorkan kaleng bekas biskuit ke kaca mobil listrik yang kedap suara. “Dulu aku belajar cara membedah puisi. Aku diajari bahwa kata-kata adalah senjata.
Sekarang lihat, senjataku cuma bunyi koin yang beradu dengan logam karatan.”
Si Emas meludah. Ludahnya kuning mengental, seperti cairan merkuri sisa tambang. “Puisi itu limbah, Perak. Tidak bisa diekspor. Tidak bisa masuk tungku smelter. Negara sudah benar: Menutup rahim para guru adalah cara paling efisien untuk membunuh pertanyaan. Karena di negeri ini, bertanya adalah awal dari pengangguran, dan pengangguran adalah penistaan terhadap martabat bendera.”
Dua puluh tahun lalu, mereka adalah manusia. Mereka membawa buku, bukan kaleng. Mereka mendiskusikan kurikulum, bukan harga cat semprot kiloan. Namun, negara tiba-tiba punya hitung-hitungan baru: Pendidikan adalah investasi bodong jika tidak menghasilkan budak.
“Dulu kita dianggap oversupply,” Si Perak tertawa, suaranya parau seperti gesekan ampelas. “Empat ratus tujuh puluh ribu sarjana pendidikan dianggap sampah karena tidak ada pabrik yang butuh pengajar moral. Negara lebih butuh operator alat berat yang tidak perlu tahu bedanya subjek dan objek, selama mereka tahu cara mengeruk isi bumi sampai ke ususnya.”
“Betul,” sahut Si Emas dengan seringai logamnya. “Lihatlah 2045. Kita benar-benar Generasi Emas. Emas murni yang digali dari liang lahat sekolah-sekolah yang ditutup. Sekolah sekarang adalah tempat rehabilitasi bagi mereka yang punya bakat jadi manusia. Disembuhkan dari penyakit ‘pintar’, agar kelak lulus dengan kualifikasi sebagai sekrup yang patuh.”
Tiba-tiba sebuah bus lewat dengan spanduk raksasa: “INDONESIA MAJU: DOMPET TEBAL, KEPALA TANGGAL.”
“Itu puncaknya, Perak,” Si Emas menunjuk spanduk itu dengan jarinya yang kaku. “Pemerintah tidak salah kalau tidak buka lowongan kerja. Yang salah itu kita, kenapa dulu mau belajar? Kalau kita tetap bodoh sejak lahir, kita tidak akan menuntut hak. Kita tidak akan protes kalau hutan dibabat. Kita akan menerima nasib sebagai penggali tanah tanpa perlu merasa terhina. Belajar itu dosa, karena pintar itu membuat kita jadi pengangguran yang cerewet.”
Lampu berubah hijau. Mesin-mesin menderu, menyemburkan asap pekat yang menyelimuti kedua manusia logam itu. Bagi para pengendara, mereka bukan manusia yang sedang bertahan hidup; mereka adalah bagian dari lanskap industri. Sampah estetik di tengah kemajuan.
“Ayo, Perak. Gosok lagi badanmu besok,” kata Si Emas saat jalanan mulai sepi. “Jangan sampai ada sisa-sisa kulit manusia yang terlihat. Negara hanya mau melihat emas dan perak. Kalau kau berani terlihat seperti manusia yang punya otak, Satpol-Saintek akan menyeretmu karena dianggap melakukan tindakan subversif: Mencoba berpikir di tengah parade robot.”
Mereka kembali diam. Mematung. Dua sarjana yang dikubur hidup-hidup oleh kebijakan, kini bangkit hanya untuk menjadi hiasan di perempatan jalan, merayakan sebuah negeri yang sukses membangun gedung-gedung tinggi di atas tumpukan ijazah yang dibakar.
Di negeri ini, masa depan memang berkilau, tapi itu bukan cahaya harapan. Itu hanyalah pantulan matahari di atas limbah merkuri yang telah meracuni otak seluruh bangsa.








Diskusi