Oleh Hariya Haldin, S.Pd., M.Pd.
Gema azan Ashar berkumandang baru saja berlalu dari masjid di sekitar SMA Negeri Unggul Aceh Selatan pada Jumat, 24 April 2026. Namun, atmosfer di dalam aula utama sekolah tersebut masih terasa panas oleh persaingan intelektual yang melelahkan.
Di tengah deretan kursi peserta, Ali Saddiqin, siswa dari SMK Negeri 1 Kluet Selatan, tampak tenang sambil memegang spidol dan kertas di hadapannya. Ia adalah satu-satunya peserta yang mengenakan seragam biru kejuruan di babak final cabang Rangking 1 Agama pada ajang Smart of Brilliant ke XIII.
Banyak yang sempat meragukan kehadirannya. Di sebuah ajang yang didominasi oleh sekolah-sekolah umum dan berbasis agama, nama SMK seringkali dianggap “salah alamat” jika masuk ke ranah kompetisi wawasan religi.
“Anak SMK bukannya sibuk di bengkel dan laboratorium ya? Kok bisa tembus final agama?” bisik salah satu penonton di barisan belakang.
Ali Saddiqin mendengarnya, namun ia bergeming. Baginya, SMK Negeri 1 Kluet Selatan bukan hanya tempat belajar merakit mesin atau mengelola bisnis, tapi juga tempat ia ditempa untuk memiliki karakter Akhlakul Karimah. Baginya, teknologi tanpa agama adalah buta.
Satu per satu peserta gugur. Dari puluhan peserta di babak awal, kini hanya tersisa tiga orang di atas panggung. Pertanyaan juri semakin mengerucut pada hal-hal yang kompleks: Hukum waris, sejarah peradaban Islam di Nusantara, hingga analisis fiqh kontemporer.
Juri memberikan pertanyaan penentu: “Sebutkan nama kitab dan pengarangnya yang menjadi rujukan utama hukum Syafi’i di Aceh pada masa Kesultanan Iskandar Muda!”
Dua peserta lain tampak ragu, dahi mereka berkerut hebat. Ali menarik napas panjang, mengingat kembali lembaran kitab yang sering ia baca di sela-sela waktu istirahat praktiknya di sekolah.
Ia mengangkat papan bicaranya dengan tulisan yang tegas: “Kitab Sirat al-Mustaqim karya Syekh Nuruddin ar-Raniri.”
Hening menyelimuti ruangan selama tiga detik yang terasa seperti satu jam.
“Seratus persen benar!” teriak dewan juri.
Aula meledak dalam tepuk tangan. Guru pembimbing dan sekaligus Plt kepala sekolah Ali dari SMK Negeri 1 Kluet Selatan langsung berdiri dan memeluk rekan sejawatnya. Mereka tidak hanya membawa pulang piala, tapi juga membawa pulang kehormatan.
Pada tanggal 24 April 2026, Fahri berdiri di podium tertinggi. Ia membuktikan bahwa siswa SMK tidak hanya terampil menggunakan tangan untuk bekerja, tetapi juga memiliki hati dan otak yang kaya akan nilai-nilai spiritual.
Saat menerima trofi dan penghargaan Juara 1 Rangking 1 Agama, Ali memberikan testimoni singkat yang menggetarkan.
“Di SMK, kami diajarkan cara membangun dunia. Tapi di kompetisi ini, saya ingin menunjukkan bahwa kami tidak pernah lupa siapa yang menciptakan dunia ini.”
Kemenangan itu menjadi kado terindah bagi SMK Negeri 1 Kluet Selatan, membuktikan bahwa mutiara tetap akan bersinar terang, tak peduli dari mana ia berasal bahkan dari tangan-tangan tangguh seorang siswa kejuruan di pesisir Aceh Selatan.









Diskusi