Senin, April 27, 2026

Cemara yang Meranggas

Oleh Muhammad Maskur
27 April 2026
7 menit baca
Editor: Tabrani Yunis
IMG_0959
Cemara yang Meranggas

Oleh Muhammad Maskur

(Keluarga yang semula tampak kokoh dan damai, perlahan kering dan mati. Kehancuran itu bermula saat sosok yang seharusnya menjadi pelindung, jusetru menanam luka, mengabaikan tanggung jawab, dan membiarkan kasih sayang hilang satu per satu.)

Rumah ini dulu punya aroma yang sangat menenangkan; campuran wangi kayu cendana dan suara tawa yang mengisi tiap sudut ruangan. Orang-orang di kampung sering menjuluki kami “Keluarga Cemara”. Ayah terlihat begitu tangguh, Ibu sangat lembut, dan kami dua orang anak laki-laki yang hampir tak pernah lepas dari ekor mereka. Tapi itu cerita lama. 

Sebelum badai bernama ego meruntuhkan segalanya tanpa sisa.

Aku adalah orang pertama yang sadar kalau “cemara” kami mulai memudar. Saat itu usiaku baru empat belas tahun, masa di mana aku mulai mengerti arti tatapan mata Ibu yang menyimpan sedih. 

Sementara adikku, ia masih tujuh tahun, masih terlalu kecil untuk memahami kenapa Ayah mulai jarang pulang. Adikku sering duduk di depan pintu setiap sore, memegang mainan mobil-mobilan plastiknya, menunggu suara motor Ayah yang tak kunjung terdengar.

Sekalinya pulang, Ayah bukan membawa pelukan atau oleh-oleh untuk kami. Ia pulang dengan bau alkohol yang menyengat dan aroma parfum perempuan yang asing di bajunya. Ruang makan yang dulunya jadi tempat kami bercerita tentang sekolah berubah jadi arena adu mulut yang mencekam.

“Mana uang belanja, Mas? Anak-anak harus bayar sekolah. Adik juga butuh buku baru,” suara Ibu bergetar di suatu malam. Aku ingat betul, saat itu aku sedang pura-pura membaca buku di ruang tengah, sambil mendekap adikku agar dia tidak takut.

Bukannya jawaban tenang, yang kami dengar justru hantaman keras di meja. “Cari sendiri! Aku ini sudah capek kerja, jangan banyak tanya!” bentak Ayah.

Aku segera menarik tangan adikku masuk ke kamar. Kami meringkuk di balik pintu yang sedikit terbuka. Melalui celah kecil, aku menyaksikan sesuatu yang menghancurkan hatiku: tangan Ayah yang dulu sering menggendongku, justru melayang keras ke wajah Ibu. Plak! Suara itu lebih keras dari petir bagi telingaku. 

Ibu tersungkur di dekat meja makan. Hebatnya, tak ada setetes pun air mata yang ia biarkan jatuh di depan laki-laki itu. Ibu terlalu kuat untuk menangis di hadapan monster yang dulunya ia panggil suami.

Tak lama setelah kejadian itu, rumah kami benar-benar pecah. Ayah pergi begitu saja tanpa pamit, membawa sisa harapan kami dan meninggalkan tumpukan utang yang menggunung. Ibu hanya bisa terdiam dengan memar yang membiru di lengannya. 

Akhirnya, kami terpaksa pindah ke rumah Nenek, sebuah rumah kayu sederhana yang setidaknya jauh lebih aman daripada rumah besar kami yang dulu penuh teror.

Tahun-tahun berikutnya adalah masa yang sangat mencekik. Tidak pernah ada satu rupiah pun kiriman dari Ayah. Nafkah yang seharusnya jadi hak aku dan adikku menguap bersama janji-janji palsunya. 

Aku melihat Ibu banting tulang sendirian; subuh-subuh sudah di pasar menjajakan sayur, siangnya jadi buruh cuci hingga tangannya pecah-pecah, dan malamnya masih menjahit pakaian orang sampai matanya merah karena mengantuk.

Nenek jadi tiang penyangga bagi kami. Beliau yang menenangkan adikku saat teman-teman di sekolah mengejeknya sebagai anak yang “dibuang” ayahnya. Di usiaku yang baru belasan, aku terpaksa dewasa sebelum waktunya. Aku mengubur mimpi  untuk punya sepatu baru atau ikut karyawisata. 

Aku sering pulang sekolah langsung membantu tetangga mengangkut barang atau membersihkan kebun hanya untuk menambah uang jajan adikku. Aku berjanji pada diriku sendiri: aku akan menjaga Ibu dan adikku, tanpa butuh bantuan laki-laki itu.

Lima belas tahun sudah berlalu. Hidup kami perlahan mulai memihak kepada kami. Aku sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan konstruksi dan aku sekarang sudah mapan.Adikku yang dulunya masih kecil sekarang sudah tumbuh besar, sekarang ia sedang menyelesaikan semester akhirnya di universitas ternama. 

Ibu tidak perlu lagi ke pasar saat subuh; tangannya sekarang sudah halus kembali karena aku melarangnya bekerja berat. Nenek pun masih bersama kami, meski bicaranya mulai lambat karena usia. Kami berhasil membangun kembali hidup yang hangat di atas reruntuhan yang ditinggalkan Ayah.

Sampai suatu sore hari yang mendung, seorang pria tua mengetuk pagar rumah kami. Laki-laki itu kurus kering, hampir seperti tulang yang dibungkus kulit pucat. Rambutnya putih berantakan, bajunya kusam dan kebesaran. Ia berdiri gemetar sambil bertumpu pada tongkat kayu yang sudah aus. Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk mengenali garis wajah itu wajah yang dulu ada di foto keluarga yang sudah lama aku bakar.

“Siapa?” tanyaku dingin. Aku berdiri tegap di depan pagar, masih mengenakan kemeja kerja.

Pria itu mendongak, matanya yang cekung tampak berkaca-kaca. “Maskur… ini Ayah, Nak. Ayah datang…”

Aku bergeming. Tanganku bahkan tidak bergerak untuk membuka kunci pagar. 

Aku menatap laki-laki yang dulu aku puja sebagai pahlawan, tapi kemudian aku kutuk dalam setiap doaku. “Aku tidak punya ayah. Ayahku sudah mati sejak dia memukul Ibu di depan mataku dan membiarkan adikku kelaparan agar dia bisa bersenang-senang dengan perempuan lain,” jawabku pedas.

“Ayah menyesal, Nak… Ayah sekarang sakit-sakitan. Perempuan-perempuan itu… mereka semua pergi pas uang Ayah habis. Ayah ditipu, Ayah diusir. Ayah tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian,” suara pria itu parau, nyaris habis ditelan suara angin.

Ibu keluar dari pintu rumah karena mendengar suaraku. Beliau berdiri di sampingku, menatap sosok yang pernah menghancurkan separuh hidupnya. Tidak ada benci yang meledak-ledak di wajah Ibu, hanya ada kekosongan yang sangat dingin. Baginya, pria itu cuma orang asing yang kebetulan nyasar.

“Mas, pergilah,” kata Ibu tenang. “Anak-anak sekarang sudah besar. Mereka tumbuh tanpa bantuan darimu sedikit pun. Bahkan saat aku hampir gila memikirkan bagaimana caranya mereka bisa makan dan menyekolahnya. Jadi jangan datang sekarang hanya untuk menagih bakti yang tidak pernah kamu tanam.” Dengan suara lembutnya.

Ayah jatuh terduduk di tanah, tepat di luar pagar rumah kami. Ia menangis sesenggukan, memohon ampun sambil mengungkit-ungkit soal “darah daging”. Ia mencoba mengingatkan bahwa tanpa dia, kami tidak akan ada di dunia ini. Tapi bagiku, darah itu sudah lama terasa tawar, bahkan pahit.

Aku berjongkok di depan pagar, menatap tajam mata Ayah yang kini sayu. “Waktu aku umur empat belas dan harus jadi kuli panggul demi membelikan susu untuk adikku karena kau tidak pulang, kau di mana? Kau asyik sama perempuan lain. 

Waktu adikku umur tujuh tahun dan menangis karena ayahnya tidak pernah datang ke sekolah, kau di mana? Sekarang kau bicara soal darah daging? Darah ini tidak akan pernah sudi memberimu tempat.”

Adikku muncul dari dalam rumah, berdiri di belakangku. Ia hanya menatap pria itu dengan tatapan asing. Ia bahkan tidak ingat bagaimana rasanya dipeluk oleh pria itu.

Nenek yang melihat dari jendela hanya bisa menghela napas panjang. Baginya, ini hukum alam. Jika kau menanam duri, jangan harap bisa memanen buah manis di masa tua.

Pria itu mencoba menggapai tanganku melalui sela-sela pagar, ujung jarinya yang gemetar hampir menyentuh sepatuku. Tapi aku menarik kakiku dengan jijik. “Kami tidak akan memukulmu seperti kau memukul kami dulu. Kami bukan orang jahat sepertimu. Tapi jangan harap ada tempat tidur, nasi, atau kasih sayang untukmu di sini. Kamu sudah memilih jalanmu dulu, sekarang nikmatilah ujungnya.”

Aku menutup pintu pagar rapat-rapat. Aku menggandeng bahu Ibu dan adikku, mengajak mereka masuk. Kami meninggalkan pria tua itu meratapi penyesalannya di trotoar yang dingin.

Malam itu hujan turun sangat deras. Kami makan malam dalam ketenangan yang damai. Di luar, mungkin pria itu masih di sana, menggigil kedinginan, atau mungkin sudah pergi. Kami benar-benar tidak peduli lagi. Bagi kami, ia adalah pohon yang sengaja meranggas; mencabut akarnya sendiri dari tanah yang subur, dan kini ia harus terima nasib menjadi kayu kering yang tinggal menunggu waktu untuk lapuk.

Luka memang bisa sembuh, tapi bekasnya tetap ada sebagai pengingat siapa yang layak disebut keluarga dan siapa yang cuma orang asing dengan hubungan darah. “Cemara” kami memang pernah mati, tapi di atas tanah yang sama, kami sudah menanam pohon baru yang akarnya adalah kejujuran dan tanggung jawab sesuatu yang tak pernah dimiliki Ayah.

Pesan Moral

Tanggung jawab seorang ayah bukan cuma soal nama di akte kelahiran, tapi soal kehadiran dan perlindungan nyata. Penyesalan di masa tua tidak akan pernah bisa membeli kembali waktu yang dibuang atau kepercayaan yang sengaja dihancurkan. Karma bukan sekadar pembalasan dendam, tapi konsekuensi logis dari setiap luka yang kita goreskan pada orang-orang yang seharusnya kita jaga.

Muhammad Maskur
Kontributor

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist