Sabtu, Mei 2, 2026

Menjemput Teduh di Kerudung Ibu

(seorang anak yang lelah dengan kehidupan yang dewasa dan dia ingin kembali lagi ke pangkuan ibunya)

Oleh Muhammad Maskur
30 April 2026
8 menit baca
Editor: Tabrani Yunis
IMG_1002
Menjemput Teduh di Kerudung Ibu

Oleh Muhammad Maskur

(seorang anak yang lelah dengan kehidupan yang dewasa dan dia ingin kembali lagi ke pangkuan ibunya)

Lampu neon di langit-langit kantor berkedip-kedip, bunyinya mendengung rendah, konstan, dan lama-lama bikin jengah. Di depan Aditiya, layar monitor penuh dengan deretan angka yang rasanya seperti sedang menertawakan sisa-sisa kewarasannya. 

Jam di sudut layar menunjukkan pukul 22.15. Di luar jendela lantai dua belas, Jakarta tidak pernah benar-benar tidur; kota itu cuma berubah rupa jadi hamparan lampu yang cantik, tapi terasa sangat asing.

Aditiya memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Kepalanya rasanya mau pecah. Sudah tiga tahun dia memaksakan diri mengejar apa yang orang bilang “sukses” di ibu kota. Ternyata, jadi dewasa itu bukan soal punya kebebasan atau bisa beli barang-barang mahal. 

Jadi dewasa itu ternyata soal menelan harga diri di depan bos yang seenaknya, pusing mikirin tagihan yang nggak habis-habis, dan pura-pura baik saja, padahal mentalnya sudah babak belur.

Dia menyandarkan punggung ke kursi kantornya. Pandangannya kosong sampai hidungnya menangkap aroma kopi dari gelas kertas di meja. Tiba-tiba, ingatannya melesat ke dapur rumah di kampung. Bukan aroma kopi mahal ini yang dia ingat, tapi aroma kopi tubruk buatan Ibu yang diseduh tiap pagi di atas ubin tua yang dingin dan sedikit berdebu.

Tangannya bergerak sendiri membuka WhatsApp. Nama “Ibu” ada di paling atas, tapi isinya cuma percakapan pendek. “Sudah makan, Dit?” atau “Ibu sehat di sini, Nak.” Aditiya memang jarang menelepon. Bukan karena tidak sayang, tapi dia takut suaranya yang bergetar bakal membongkar semua topeng ketangguhan yang dia bangun selama ini. 

Dia takut kalau Ibu sampai bertanya, “Kamu kenapa?” pertahanannya bakal langsung hancur.

Malam ini, dia menyerah. Dunia orang dewasa terasa terlalu bising dan palsu. Aditiya cuma ingin berhenti bukan cuma berhenti kerja, tapi berhenti pura-pura jadi sosok “Aditiya yang kuat”.

Dua hari kemudian, Aditiya sudah berdiri di depan halaman rumahnya yang catnya sudah banyak yang lepas. Bau tanah basah sehabis hujan menyambut paru-parunya jauh lebih enak daripada udara AC kantor yang bikin sesak. Dia pulang tanpa kabar. Cuma bawa tas ransel kecil, meninggalkan koper mahalnya di apartemen.

Dia melangkah masuk. Pintu kayu itu sedikit terbuka, memperlihatkan ruang tamu yang sederhana. Dari dalam, terdengar suara radio tua yang menyiarkan gending Jawa sayup-sayup. Aditiya mengetuk pelan, jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat dia harus presentasi di depan direksi.

“Assalamu’alaikum…” suaranya serak, hampir hilang ditelan angin sore.

Lalu terdengar suara sandal jepit diseret suara yang sangat dia hafal. Pintu terbuka lebar, dan di sana berdirilah Ibu. Rambutnya sudah memutih semua, pakai daster batik lama dan kerudung instan biru pudar yang dipakai sehari-hari.

Ibu tertegun. Matanya yang mulai kabur menatap lekat-lekat sosok di depannya. “Aditiya?”

Aditiya tidak sanggup menjawab. Tenggorokannya terasa tersumbat. Melihat wajah Ibu, dia seperti melihat peta pengabdian yang panjang. Kerutan di sudut mata itu adalah saksi bisu betapa beratnya Ibu membesarkannya sendirian sejak Ayah meninggal.

“Ya Allah, Nak… kenapa nggak bilang mau pulang?” Ibu langsung meraih tangan Aditiya, menciumnya, dan menarik anaknya ke dalam pelukan.

Detik itu juga, semua beban yang dia pikul di kota rasanya tumpah. Bau Ibu campuran minyak kayu putih, bawang merah, dan wangi jemuran matahari langsung menyerbu indranya. Itu bau paling aman di dunia. Bau yang bilang kalau di sini, dia nggak perlu jadi manajer sukses. Dia cukup jadi seorang anak.

“Bu…” Aditiya terisak di pundak Ibu yang sekarang terasa jauh lebih kecil. “Aditiya capek, Bu. Aditiya mau di sini saja.”

Ibu nggak tanya kenapa. Dia nggak tanya soal gaji, soal kapannikah, atau kenapa Aditiya pulang dengan mata sembap di hari kerja. Ibu cuma mengusap punggungnya dengan telapak tangan yang kasar tapi sangat hangat.

“Sstt… sudah. Masuk yuk, Ibu buatkan teh hangat.”

Malam itu, mereka duduk di dipan kayu di dapur. Ibu menggoreng tempe mendoan, bunyi desisan minyak di penggorengan terasa seperti musik paling damai buat Aditiya.Dia memperhatikan tangan Ibu yang sedikit gemetar tapi tetap telaten membalik tempe. 

Suasana ini sangat kontras dengan makan malamnya di kota yang biasanya cuma makanan pesan antar yang dimakan sendirian sambil main HP.

“Dunia luar keras ya, Nak?” tanya Ibu pelan, tanpa menoleh.

Aditiya yang duduk memeluk lutut cuma bisa mengangguk. “Bukan keras lagi, Bu. Lelah. Semua orang kayak lagi balapan, tapi nggak ada garis finisnya. Kalau berhenti sebentar saja, langsung dianggap gagal. Semua orang pakai topeng, Bu. Aditiya capek harus terus senyum padahal rasanya mau teriak.”

Ibu mematikan kompor, menaruh tempe di piring, lalu duduk di samping Aditiya . Dia membetulkan posisi kerudungnya yang agak miring. “Waktu kamu kecil, kalau jatuh belajar sepeda, kamu larinya ke Ibu. Menangis sampai sesenggukan, Ibu obati, terus kamu tidur di pangkuan Ibu. Pas bangun, kamu sudah lupa sakitnya dan mau main lagi.”

Ibu menatap Aditiya tulus sekali. “Sekarang kamu sudah gede. Lukanya nggak kelihatan, makanya rasanya lebih perih. Tapi rumah ini nggak pernah berubah, Dit. Ibu tetap Ibu yang dulu. Kamu boleh jatuh di sini. Kamu nggak harus jadi siapa-siapa di depan Ibu.”

Aditiya merebahkan kepalanya di pangkuan Ibu. Dia merasakan jari-jari Ibu menyisir rambutnya yang mulai menipis karena stres. 

Di bawah keteduhan kerudung Ibu, semua masalah kantor dan target bulanan rasanya lenyap.

“Bu, boleh Aditiya tidur di sini sebentar?”

“Tidurlah, Nak. Ibu jagain.”

Dalam remang lampu dapur yang kuning hangat, Aditiya memejamkan mata. Dia merasa balik jadi anak kecil lagi, saat masalah terberatnya cuma layangan putus atau PR matematika. 

Dia baru sadar kalau selama ini dia lari terlalu jauh buat cari kebahagiaan, padahal tempat paling damai itu justru yang dia tinggalkan di belakang.

Besoknya, Aditiya bangun bukan karena alarm HP yang berisik, tapi karena suara ayam dan sinar matahari yang masuk lewat celah ventilasi. 

Kamar itu masih sama. Ada meja belajar tua tempat dia dulu begadang belajar, dan poster tim bola favoritnya yang sudah mulai pudar.

Dia keluar dan melihat Ibu lagi menyapu halaman. Kerudung Ibu berkibar ditiup angin pagi. Aditiya langsung menghampiri, mengambil alih sapu lidi itu. “Biar Aditiya saja, Bu. Ibu istirahat saja.”

“Kamu itu tamu, masa baru datang sudah disuruh nyapu,” Ibu tertawa kecil.

“Aditiya bukan tamu. Aditiya pulang, Bu,” jawabnya mantap, kali ini dengan senyum yang benar-benar jujur.

Hari itu habis buat bantu Ibu berkebun. Mereka menanam cabai dan memotong daun-daun kering. Sambil kerja, mereka ngobrol hal-hal sepele soal kucing tetangga yang suka curiikan, atau soal pohon mangga depan rumah yang mulaiberbuah. 

Hal-hal yang buat orang kota mungkin nggak penting, tapi buat Aditiya, inilah hidup yang sebenarnya. Menikmati waktu tanpa dikejar-kejar tuntutan.

Sorenya, sambil makan singkong rebus di teras, Aditiya bertanya, “Bu, apa Aditya egois kalau nggak mau balik lagike kota? Apa Ibu kecewa kalau anak Ibu ini cuma jadi orang biasa di kampung?”

Ibu minum tehnya pelan, menikmati uap panasnya. “Hidup itu milikmu, Dit. Ibu senang kalau kamu di sini, rumah jadi ramai. Tapi Ibu lebih senang kalau kamu bahagia. Kalau di sana cuma bikin kamu capek nggak berujung dan bikin kamu kehilangan diri sendiri, buat apa diteruskan? 

Sukses itu bukan soal jabatan, tapi soal seberapa damai hatimu.”

Ibu memegang tangan Aditiya, meremasnya lembut. “Tapi ingat, Nak. Pulanglah ke Ibu tiap kali kamu butuh tenang. Tapi jangan biarkan capekmu mematikan mimpimu. 

Kamu boleh istirahat di pangkuan Ibu selama yang kamu mau, sampai pundakmu kuat lagi buat memikul dunia. Setelah kuat, kamu harus jalan lagi, ke mana pun kamu mau.”

Aditiya terdiam. Omongan Ibu itu seperti tamparan halus yang dia butuhkan. Dia sadar kalau dia nggak perlu berhenti jadi dewasa; dia cuma butuh jeda. Dia cuma butuh diyakinkan kalau di mata seseorang, dia tetap berharga nggak peduli apapun jabatannya.

Seminggu di desa mengubah banyak hal. Wajah Aditiya nggak lagi pucat. Lingkaran hitam di matanya mulai hilang karena akhirnya dia bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk soal kerjaan. Tapi yang paling penting, hatinya nggak lagi terasa hampa.

Malam terakhir sebelum dia balik ke Jakarta untuk membereskan urusan dan mungkin cari jalan hidup yang lebih manusiawi Aditiya minta Ibu duduk di sampingnya lagi

Dia peluk Ibu erat-erat, menyembunyikan wajahnya di balik kain kerudung Ibu yang terasa sejuk. “Terima kasih ya, Bu, sudah jadi tempat pulang paling sabar. Terima kasih sudah menerima Aditiya yang berantakan ini.”

“Doa Ibu selalu ada di tiap helai kerudung ini buat kamu, Nak. Sejauh apa pun kamu pergi, keteduhan itu selalu nunggu kamu di sini. Jangan pernah takut buat pulang.”

Besoknya, Aditiya melangkah pergi dengan perasaan yang jauh lebih ringan. 

Dia tetap orang dewasa dengan tumpukan tanggung jawab di kota, tapi dia nggak merasa sendirian lagi. Dia tahu, di rumah kecil itu, ada seorang wanita dengan kerudung biru yang selalu punya ruang di pangkuannya untuk menampung semua lelah dunia.

Aditiya sudah menemukan teduhnya. Dan sekarang, dia siap membawa ketenangan itu ke tengah kerasnya Jakarta. Dia pulang bukan sebagai pemenang atau pecundang, tapi sebagai manusia yang kembali menemukan jiwanya.

Muhammad Maskur
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist