Cerpen

Simsalabim, Anda Sejahtera!

05 Mei 2026
3 menit baca
48347958-b442-4bde-afa8-b6c88ceee760
Simsalabim, Anda Sejahtera!

Oleh: Syarifudin Brutu

Senja menutup bab siang itu dengan warna jingga yang tampak seperti luka yang mulai mengering. Di sudut sebuah kedai yang remang, saat sebagian manusia bersiap menjemput mimpi, tiga sosok “Malim Malam” sedang mengadakan rapat paripurna kecil-kecilan. Seekor nyamuk, seekor lalat, dan seekor kunang-kunang duduk melingkari tetesan kopi yang tumpah di atas meja kayu yang lapuk.

​Di depan mereka, seorang tukang bakso lewat dengan bunyi tek-tek yang lesu, seolah gerobaknya pun sudah malas untuk bergerak.

​Si Nyamuk, sambil mengusap-usap belalainya yang masih beraroma hemoglobin murah, mulai membual. “Dulu, aku pernah hampir tamat. Telapak tangan manusia itu mampir ke lehernya secepat kilat pas aku lagi asyik menyadap ‘pertalite’ dari pembuluh darahnya. Tapi aku lincah, aku selamat!”

​Si Lalat menyeringai, sayapnya yang berminyak bergetar hebat. “Ah, kau ditepuk bukan karena kau menggigit, Nyamuk. Kau ditepuk karena yang kau gigit itu orang miskin. Orang miskin itu sensitif, satu tetes darah hilang baginya berarti jatah makan siang yang dicuri.”

​Si Kunang-kunang, yang pantatnya berkedip redup seperti lampu jalan yang kekurangan daya, ikut menyambar. “Benar sekali! Hahaha! Orang kaya mah kalau kau gigit, mereka cuma menggaruk santai pakai kuku yang manikur. Kalaupun sakit, rumah sakit sudah seperti hotel bintang lima buat mereka. Kamar ber-AC, suster ramah, tak perlu antre sampai jamur tumbuh di ketiak.”

​”Enggak loh!” Si Nyamuk bersikukuh, matanya yang majemuk melotot. “Yang aku gigit itu orang kaya. Aku ini nyamuk intelek. Aku sempat mengintip lewat jendela kantor dinas kemarin, kulihat datanya di layar komputer. Dia tercatat sebagai masyarakat Desil 10. Artinya? Keluarga sejahtera tingkat dewa!”

​Lalat dan Kunang-kunang tertawa sampai tersedak ampas kopi.

​”Hahaha! Bagaimana mungkin manusia kumal yang bajunya lebih mirip kain pel itu disebut sejahtera?” ledek si Lalat. “Kau lihat tampangnya? Sudah seperti batang kayu hangus sisa kebakaran hutan!”

​Si Kunang-kunang menunjuk ke arah gubuk di ujung jalan yang atap rumbianya sudah pasrah dihajar angin. “Kau lihat istananya itu? Itu rumah atau kandang ayam yang sedang depresi? Megah dari mana, hah?”

​Si Nyamuk menunduk lesu. Dia menyeruput sisa kafein di atas meja dengan perasaan getir.

​”Ah, kalian tidak percaya padaku,” bisik si Nyamuk parau. “Kalian masih memakai logika purba. Di negeri ini, kesejahteraan itu tidak lagi diukur dari luas teras rumah atau mengkilapnya lantai granit.”

​Nyamuk itu menatap lurus ke arah gerobak bakso yang kian menjauh ke dalam kegelapan malam.

​”Sekarang, sejahtera atau tidaknya seseorang itu tergantung pada suasana hati sistem di pusat. Kalau komputer bilang kau kaya, maka kayalah kau, meski untuk beli obat puyeng saja kau harus menjual harapan. Di negeri ini, Bung… kesejahteraan tidak dilihat dari apa yang kau punya, tapi dari sisa napasmu yang dianggap beban oleh anggaran daerah.”

​”Jadi,” lanjut si Nyamuk sambil terbang rendah, “si kumal itu sekarang resmi jadi orang kaya. Dia sudah sah kehilangan JKA-nya. Dan tadi, waktu aku gigit dia… rasa darahnya pahit sekali. Bukan pahit karena penyakit, tapi pahit karena dia baru saja menelan surat keputusan bahwa mulai besok, dia dilarang sakit sebelum jadi miskin kembali.”

​Si Lalat dan Kunang-kunang terdiam. Cahaya di pantat si Kunang-kunang tiba-tiba padam, seolah-olah ia pun takut kena pajak energi karena dianggap terlalu terang.

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W