POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Cerpen

Ketika Sungai Datang ke Rumah Kami

Redaksi by Redaksi
Januari 3, 2026
in #Cerpen, #Korban Bencana, #Sumatera Utara, Aceh, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana, Sumatera Barat
0
Ketika Sungai Datang ke Rumah Kami - 864a0c0f 638a 40ab 8598 50748dfa7252 | #Cerpen | Potret Online

Oleh Hurriyatuddaraini
(Inong Literasi)

Aku berjalan pelan di belakang Ibu. Kakiku tenggelam sedikit setiap melangkah. Tanahnya lembek, dingin, dan berbau lumpur. Di depanku, rumah kami berdiri dengan wajah yang asing. Bukan rumah yang biasa kutahu. Tidak ada halaman bersih tempat aku berlari, tidak ada kursi kayu tempat Ayah biasa duduk sore hari. Yang ada hanya tumpukan tanah, batang kayu besar, dan sisa-sisa air yang sudah pergi, tetapi meninggalkan jejak yang sulit dihapus.

“Bu… ini rumah kita ya?” tanyaku pelan.
Ibu tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam jemariku lebih erat.

Ketika Sungai Datang ke Rumah Kami - EA6A133D 743A 4761 8591 E5FAED1859D1 | #Cerpen | Potret Online
Baca Juga
Aceh
Teungku H. Mahyiddin Yusuf:
12 Nov 2022
Selengkapnya

Aku melihat ke sekeliling. Banyak kayu. Banyak tanah. Dulu lantai rumah dingin dan bersih. Sekarang semuanya cokelat. Tanah bukan hanya di lantai, ia masuk ke mana-mana, menumpuk tinggi. Aku melihat orang-orang dewasa berjalan pelan di sekitar rumah. Tanah hampir menutupi sebagian dada mereka. Aku baru tahu tanah bisa setinggi itu.

“Bu, sepeda aku selamat?”
Ibu menggeleng pelan.

Ketika Sungai Datang ke Rumah Kami - 5787A9AB 9551 4312 A0FC C2298A04CC28 | #Cerpen | Potret Online
Baca Juga
Aceh
Membangun Budaya Disiplin dan Bertanggungjawab Lewat Upacara Bendera di Sekolah Pedalaman Singkil
08 Agu 2022
Selengkapnya

“Mobil mainan aku?”
Ibu terdiam.

“Mainan aku yang warna merah itu?”
Ibu menarik napas panjang.

Ketika Sungai Datang ke Rumah Kami - 2025 06 03 16 46 49 | #Cerpen | Potret Online
Baca Juga
# Ironi
BENGKEL OPINI RAKyat
03 Jun 2025
Selengkapnya

Aku tidak marah. Aku hanya bingung.

Aku ingat malam itu. Air datang cepat sekali. Ibu mengangkat adikku. Ayah mengangkatku. Kami naik ke atas, ke atas kulkas, ke atas mesin. Aku pusing. Aku mengantuk. Aku ingat selimut basah dan tali yang diikatkan ke sesuatu. Aku ingat suara air yang keras dan tidak berhenti.

“Bu, kemarin kita naik ke atas itu ya?”
“Iya, Nak.”
“Kenapa?”
“Supaya aman.”

Aku menoleh ke adikku. Dia berdiri lebih dekat ke Ibu. Bajunya kotor. Rambutnya terasa lembap. Dia menatap rumah sambil mengerutkan dahi.

“Kok rumah dedek kotor sih, Bu?” katanya polos.
“Kenapa banyak tanah?”
“Airnya sudah tidak ada ya? Sudah tidak tenggelam lagi?”
Ibu mengangguk. Tetapi matanya berkaca-kaca.

Hujan sudah sering datang belakangan ini. Hampir setiap hari. Kata Ayah, hujan membuat tanah semakin lemah. Sungai yang dulu jaraknya lumayan jauh dari rumah, sekarang alirannya berbelok. Airnya masuk ke halaman rumah penduduk, bahkan ke sekolah. Tempat yang dulu aman kini menjadi jalur air.

Aku melihat ke belakang rumah. Tanah di bawahnya sudah amblas. Sebagiannya jatuh ke sungai. Sekilas aku mendengar percakapan ibu dan ayah bahwa rumah ini tidak bisa ditempati lagi. Sedih sekali. Aku mendengar itu, tetapi sulit memahaminya.
Aku berjalan sedikit lebih jauh dan menemukan satu sandal. Bukan punyaku. Mungkin milik siapa saja. Aku memegangnya lama, lalu meletakkannya kembali. Aku tidak tahu harus berbuat apa.

“Bu,” kataku lagi, “kalau rumahnya kotor, nanti kita bersihin kan?”
Ibu tersenyum kecil, senyum yang terlihat berat.
“Iya. Pelan-pelan.”

Aku berpikir, mungkin rumah seperti aku. Capek. Kotor. Tetapi masih berdiri, meski tidak lagi bisa ditinggali.
Aku ingin bertanya banyak hal. Kenapa sungai bisa pindah? Kenapa tanah bisa turun? Kenapa rumah bisa hilang tanpa benar-benar pergi? Tetapi aku tidak bertanya. Aku takut Ibu sedih.
Aku hanya bertanya satu hal yang paling penting bagiku.

“Bu… rumah kita masih bisa ditempati, kan?”
Ibu berjongkok di depanku. Tangannya memegang pipiku. Ia diam cukup lama, seperti sedang mencari kata yang tidak melukaiku.

“Kita tidak tinggal di sini dulu,” katanya pelan.
“Kita cari tempat yang aman.”
Aku tidak sepenuhnya mengerti. Tetapi aku mengangguk.

Aku menatap langit Aceh yang mulai cerah. Aku melihat orang-orang datang membawa makanan, selimut serta keperluan lain. Ada yang tidak kukenal, tetapi tersenyum padaku.

Aku menggenggam tangan Ibu lebih kuat.
Rumah kami memang penuh tanah.
Dan kini, perlahan tak lagi bisa ditempati.
Tetapi hari itu aku belajar,
selama kami masih berjalan bersama,
rumah belum sepenuhnya hilang.

Previous Post

Belajar dari Model Pembangunan Cina, Norwegia, Amerika Serikat (2)

Next Post

Membela Aceh, Menyelamatkan Republik: Bencana Ekologi, Memori Kolektif, dan Ujian Keadilan Negara

Next Post
Ketika Sungai Datang ke Rumah Kami - 226f57a9 ca98 480d ae77 6f2558072e64 | #Cerpen | Potret Online

Membela Aceh, Menyelamatkan Republik: Bencana Ekologi, Memori Kolektif, dan Ujian Keadilan Negara

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah