Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdekat
Oleh H. Basri A. Bakar
(Direktur Forsikal)
Tanggal 17 Agustus 2026 menjadi momentum penting bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mengenang 81 tahun perjalanan bangsa, sejak Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Kemerdekaan bukanlah sekadar peristiwa sejarah yang kita peringati setiap tahun, melainkan sebuah nikmat dan amanah besar yang patut disyukuri sekaligus dipertanggungjawabkan.
Bagi bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam , kesadaran bahwa kemerdekaan merupakan anugerah Allah SWT memiliki landasan yang sangat kuat.
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dengan tegas menyatakan:
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Kalimat tersebut mengandung pesan yang mendalam. Kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari perjuanganmanusia, tetapi juga diyakini sebagai bagian dari rahmat dan pertolongan Allah SWT. Karena itu, memperingati kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni, pengibaran bendera, perlombaan, dan kemeriahan sesaat.
Lebih dari itu, kemerdekaanharus menjadi momentum untuk memperkuat rasa syukur, memperbaiki diri, serta memperbarui tekad untuk membangunbangsa.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nashr ayat 1-3:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia MahaPenerima Tobat.”
Ayat ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seharusnya manusia menyikapi kemenangan dan nikmat. Setidaknya ada tiga pesan utama yang dapat kita renungkan.
Pertama, kemenangan dan nikmat harus disambut dengan rasa syukur. Syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah, tetapi diwujudkan dengan menggunakan setiap nikmat sesuai dengan kehendak Allah SWT.
Kedua, kemenangan harus melahirkan kesadaran akan kebesaran Allah. Manusia tidak boleh menjadi sombong ketika memperoleh kekuasaan, jabatan, kekayaan, maupun keberhasilan. Semua itu pada hakikatnya merupakan titipan dan amanah.
Ketiga, manusia harus senantiasa memohon ampun kepada Allah . Sebab, betapapun besar keberhasilan yang dicapai, manusia tetap makhluk yang lemah dan tidak luput dari kesalahan.
Persoalannya, apakah kita benar-benar telah mensyukuri nikmat kemerdekaan tersebut?
Kenyataan yang kita saksikan hari ini menunjukkan bahwa masih banyak persoalan yang harus kita benahi. Sebagian orang yang mendapatkan amanah untuk mengelola negara justru terjerumus dalam korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, manipulasi, dan berbagai bentuk pelanggaran hukum.
Jabatan yang semestinya dipandang sebagai amanah justru tidak jarang dijadikan sarana memperkaya diri dan kelompok.
Padahal, kekuasaan, jabatan, pangkat, dan harta bukanlah semata-mata hak, melainkan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, salah satu wujud nyata mensyukuri kemerdekaan adalah menyelenggarakan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat.
Aceh sebagai Daerah Modal Perjuangan Kemerdekaan
Dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, Aceh memiliki posisi yang sangat penting. Aceh bukan sekadar wilayah yang ikut mendukung perjuangan, tetapi menjadi salah satu daerah yang memberikan kontribusi besar bagi keberlangsungan Republik Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan.
Aceh dikenal sebagai salah satu wilayah yang tidak berhasil dikuasai Belanda setelah Proklamasi Kemerdekaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu modal penting bagi Republik Indonesia dalam mempertahankan eksistensinya di tengah upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.
Kontribusi rakyat Aceh terhadap Republik Indonesia juga tercatat dalam berbagai bentuk. Salah satu yang paling dikenal adalah sumbangan pesawat Dakota yang kemudian diberi nama Seulawah RI-001.
Pesawat tersebut memiliki arti penting dalam perjuangan diplomasi dan komunikasi Republik Indonesia dan kemudian menjadi salah satu tonggak awal lahirnya dunia penerbangan nasional yang kelak berkembang menjadi Garuda Indonesia.
Yang tidak kalah penting adalah semangat pengorbanan rakyat Aceh. Pada masa perjuangan, masyarakat rela memberikan hartabenda yang mereka miliki untuk membantu Republik Indonesia. Emas, makanan, pakaian, senjata, dan berbagai bentuk bantuan lainnya disumbangkan dengan penuh keikhlasan.
Artinya kesetiaan rakyat Aceh terhadap republik tidak usah diragukan dari dulu hingga sekarang.
Semangat perjuangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai keislaman yang hidup kuat dalam masyarakat Aceh.
Semangat jihad fi sabilillah dan keberanian mempertahankan tanah air menjadi energi moral bagi para pejuang. HikayatPrang Sabi karya Tgk. Chik Pante Kulu, misalnya, menjadi salah satu karya yang membangkitkan keberanian dan semangat perjuangan rakyat Aceh dalam menghadapi penjajahan.
Sejarah tersebut memberikan pelajaran bahwa kemerdekaan bukan hadiah yang datang dengan cuma-cuma, tetapi diperoleh dengan pengorbanan, keberanian, persatuan, harta benda, air mata, bahkan nyawa para pendahulu kita.
Karena itu, generasi sekarang tidak boleh menikmati kemerdekaan secara pasif. Kita memiliki kewajiban moral untuk mempertahankan, mengisi, dan mewariskan kemerdekaan tersebut kepada generasi berikutnya.
Kemerdekaan sebagai Momentum Introspeksi
Memasuki usia 81 tahun kemerdekaan, sudah sepatutnya kita tidak hanya bertanya tentang apa yang telah diberikan negara kepada kita, tetapi juga bertanya: apa yang telah kita berikan kepada bangsa dan negara?
Inilah saatnya kita melakukan tafakkur dan muhasabah. Kita mengenang para pahlawan yang telah mengorbankan harta, tenaga, pikiran, keluarga, bahkan nyawa demi kemerdekaan.
Setelah itu, kita bertanya kepada diri sendiri: apakah pengorbanan mereka telah kita hargai dengan cara mengisi kemerdekaan secara benar?
Pertanyaan tersebut terutama perlu direnungkan oleh para penyelenggara negara, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Kekuasaan yang mereka miliki bukanlah milik pribadi. Ia merupakan amanah rakyat yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Demikian pula kekayaan alam Indonesia. Tanah yang subur, hutan yang luas, laut yang kaya, serta berbagai sumber daya alam yang terkandung di bumi Indonesia seharusnya dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan dieksploitasi secara berlebihan demi kepentingan segelintir orang.
Kita prihatin melihat kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai tempat. Hutan ditebang tanpa kendali, pertambangan dilakukan tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan, sungai dan laut tercemar, serta berbagai bentuk eksploitasi alam terus berlangsung. Ketika keseimbangan ekologis rusak, rakyatlah yang sering menjadi korban pertama melalui banjir, longsor, kekeringan, pencemaran, dan berbagai bencana ekologislainnya.
Karena itu, mensyukuri kemerdekaan juga berarti menjaga bumi Indonesia . Kita tidak boleh mewariskan kepada anak cucu sebuah negeri yang kaya secara sumber daya, tetapi miskin karena alamnya telah rusak. Kita harus mewariskan Indonesia yang subur, sehat, adil, dan berkelanjutan.
Mengisi Kemerdekaan dengan Perjuangan Baru
Setelah 81 tahun merdeka, Indonesia tentu telah mengalami banyak kemajuan. Namun, kita juga harus berani mengakui bahwa masih terdapat persoalan besar yang belum terselesaikan: kemiskinan, ketimpangan, korupsi, kebodohan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Karena itu, perjuangan bangsa Indonesia pada masa kini tidaklagi terutama berupa perang bersenjata melawan penjajah. Perjuangan kita telah berubah bentuk.
Kita harus memerangi kemiskinan dengan kebijakan yang adildan pemberdayaan ekonomi.
Kita harus memerangi kebodohan dengan pendidikan yang berkualitas dan merata.
Kita harus memerangi korupsi dengan integritas, keteladanan, dan penegakan hukum yang tegas.
Kita harus memerangi ketidakadilan dengan keberanian menegakkan kebenaran.
Kita harus memerangi kerusakan lingkungan dengan pembangunan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Dan yang tidak kalah penting, kita harus memerangi egoisme, kebencian, fitnah, serta perpecahan yang dapat merusak persatuan bangsa.
Bagi umat Islam, mengisi kemerdekaan juga berarti berusaha menjalankannya nilai-nilai Islam secara sungguh-sungguh dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan kehidupan berbangsa. Keimanan harus melahirkan kejujuran.
Ibadah harus melahirkan kepedulian. Ilmu harus melahirkan kemanfaatan. Kekuasaan harus melahirkan keadilan.
Dengan demikian, rasa syukur kepada Allah SWT tidak berhenti pada lisan, tetapi hadir dalam tindakan nyata.
Menjaga Persatuan, Merawat Indonesia
Kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, jangan sampai perbedaan pilihan politik, ideologi, organisasi, maupun partai membuat sesama anak bangsa saling bermusuhan.
Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tidak boleh kehilangan persaudaraan. Kita boleh berbeda pilihan politik, tetapi menjaga persatuan. Perbedaan adalah kenyataan dalam kehidupan demokrasi, sedangkan persatuan adalah modal utama untuk menjaga keutuhan bangsa.
Jangan biarkan fitnah, hoaks, kebencian, dan saling menjelekkan mengikis persaudaraan. Para pendiri bangsa telah mewariskan sebuah negara yang dibangun melalui pengorbanan luar biasa. Tugas kita bukan meruntuhkannya dengan pertikaian, melainkan merawatnya dengan persatuan dan kerja nyata.
Pada akhirnya, memperingati 81 tahun kemerdekaan Indonesia hendaknya menjadi kesempatan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar bersyukur atas kemerdekaan ini?
Jika kita bersyukur, maka kita akan menjaga amanah. Jika kita menjaga amanah, kita akan menolak korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Jika kita mencintai negeri ini, kita akan menjaga alamnya. Jika kita menghormati para pahlawan, kita akan mengisi kemerdekaan dengan karya dan pengabdian. Dan jika kita memahami kemerdekaan sebagai rahmat Allah SWT, maka kita akan berusaha menjadikannya jalan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih adil, bermartabat, dan sejahtera.
Semoga pada usia 81 tahun ini, bangsa Indonesia semakin dewasa dalam berdemokrasi, semakin kuat dalam menjaga persatuan, semakin adil dalam mengelola kekayaan negeri, serta semakin sungguh-sungguh mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi juga menjadi bangsa yang mampu mengelola kemerdekaannyadengan penuh tanggung jawab.












