Sabtu, April 25, 2026

Antara Hidayah dan Kesesatan: Tauhid sebagai Cahaya, Kejujuran Hati sebagai Jalan

52ec1706-de44-4638-9364-d3b561187fe4
Ilustrasi: Antara Hidayah dan Kesesatan: Tauhid sebagai Cahaya, Kejujuran Hati sebagai Jalan

.

Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al-Yusufy, Lc.

Di tengah arus kehidupan yang semakin kompleks, manusia sering dihadapkan pada dua jalan yang tampak serupa namun berujung berbeda: jalan hidayah dan jalan kesesatan. Al-Qur’an, melalui kisah-kisah umat terdahulu, tidak sekadar bercerita, tetapi memberi cermin bagi kita hari ini, agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali.

Kajian tafsir yang bersumber dari Tafsir Jalalain pada ayat 44 hingga 48 menghadirkan pesan yang sangat relevan dengan realitas kekinian. Ia berbicara tentang ilmu, kejujuran, tauhid, dan bahaya kesombongan spiritual, isu-isu yang tetap hidup dalam kehidupan modern.

Ketika Ilmu Kehilangan Arah.

Al-Qur’an mengingatkan tentang sekelompok manusia yang diberi bagian dari kitab suci, namun justru “menjual kesesatan” dan berusaha menyesatkan orang lain. Ini adalah peringatan keras bahwa ilmu tidak selalu identik dengan hidayah.

Ilmu bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa menjadi alat kegelapan, tergantung bagaimana ia digunakan. Ketika ilmu tidak melahirkan ketundukan kepada Allah, ia berpotensi menjadi alat pembenaran hawa nafsu. Inilah tragedi ruhani yang paling halus: merasa benar, padahal sedang menjauh dari kebenaran.

Dalam konteks hari ini, fenomena ini bisa kita lihat dalam berbagai bentuk, dari penyalahgunaan otoritas keilmuan hingga manipulasi agama demi kepentingan dunia. Maka, menjaga keikhlasan dalam menuntut dan mengamalkan ilmu menjadi keharusan.

Allah sebagai Benteng Kehidupan.

Di tengah berbagai ancaman, baik yang tampak maupun tersembunyi, Al-Qur’an memberikan satu penegasan yang menenangkan: Allah adalah pelindung terbaik.

Ayat tersebut mengajarkan bahwa musuh tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Ada musuh yang menyerang keyakinan, merusak cara berpikir, dan menggoyahkan iman. Namun, siapa yang menjadikan Allah sebagai tempat bergantung, tidak akan mudah runtuh oleh makar manusia.

Keimanan bukan hanya keyakinan dalam hati, tetapi juga rasa aman yang bersandar kepada kekuasaan Allah. Di sinilah tauhid menjadi sumber ketenangan.

Lisan: Cermin Kejujuran atau Sumber Kehancuran

Al-Qur’an juga menyingkap penyakit lain yang tidak kalah berbahaya: penyimpangan lisan. Ada kelompok yang memutar kata-kata untuk menghina dan merendahkan kebenaran.

Lisan adalah alat yang ringan, tetapi dampaknya sangat berat. Ia bisa menjadi jalan menuju rahmat, atau sebaliknya, pintu menuju laknat. Dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran lisan mencerminkan kebersihan hati. Sebaliknya, manipulasi kata adalah tanda adanya penyakit dalam jiwa.

Budaya “memelintir makna” hari ini bahkan semakin luas, baik dalam komunikasi publik, media sosial, maupun diskursus keagamaan. Maka, menjaga kejujuran dalam berbicara bukan sekadar etika, tetapi bagian dari iman.

Ancaman yang Mengandung Kasih Sayang.

Salah satu sisi menarik dari ayat-ayat ini adalah adanya ancaman yang keras, namun justru menunjukkan kasih sayang Allah. Ancaman bukan untuk menakut-nakuti semata, tetapi untuk menyadarkan.

Sejarah mencatat bagaimana sebagian tokoh langsung tersentak dan kembali kepada kebenaran ketika mendengar ayat ancaman tersebut. Ini menunjukkan bahwa hati yang hidup akan merespons peringatan dengan kesadaran, bukan dengan penolakan.

Selama manusia masih diberi kesempatan hidup, pintu taubat tetap terbuka. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, selama tidak menyekutukan Allah.

Tauhid: Tali Penyelamat.

Puncak dari seluruh pembahasan ini adalah penegasan tentang tauhid. Al-Qur’an menegaskan bahwa dosa syirik adalah satu-satunya dosa yang tidak diampuni jika tidak ditaubati, sementara dosa lainnya masih berada dalam ruang rahmat Allah.

Ini menunjukkan bahwa tauhid adalah fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Ia bukan sekadar konsep teologis, tetapi sumber arah hidup. Tauhid adalah cahaya yang menerangi langkah, sekaligus tali penyelamat di hari akhir.

Sebaliknya, ketika tauhid rusak, seluruh bangunan amal bisa runtuh. Oleh karena itu, menjaga kemurnian tauhid menjadi prioritas utama dalam kehidupan beragama.

Penutup: Menjaga Hati di Tengah Zaman.

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, menjaga hati menjadi tantangan tersendiri. Hidayah tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi oleh kejujuran dalam menerima kebenaran.

Tauhid memberi cahaya, sementara kejujuran hati membuka jalan. Ketika keduanya bersatu, manusia akan mampu berjalan lurus di tengah berbagai godaan dan kesesatan.

Akhirnya, setiap kita dihadapkan pada pilihan yang sama: apakah menjadikan ilmu sebagai jalan menuju Allah, atau justru sebagai alat untuk menjauh dari-Nya. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan ke mana arah hidup kita, menuju cahaya, atau terjerumus dalam kegelapan.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tgk. H. Erli Safriza Al-Yusufy, Lc
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist