Pernah merasa cemas berlebihan tanpa tahu alasan yang jelas? Takut gagal, sering overthinking, atau sulit percaya pada orang lain? Perasaan seperti ini sering dianggap sebagai bagian dari kehidupan orang dewasa. Padahal, bisa jadi akar dari semuanya sudah terbentuk sejak masa kecil.
Masa kanak-kanak dan remaja merupakan fase penting dalam pembentukan emosi dan kepribadian. Pada masa ini, seseorang mulai belajar merasa aman, membangun kepercayaan, serta memahami dirinya sendiri. Ketika proses ini tidak berjalan dengan baik, dampaknya tidak berhenti di masa itu saja, tetapi bisa terbawa hingga dewasa.
Dalam psikologi, pengalaman buruk di masa kecil dikenal sebagai adverse childhood experiences (ACE). Bentuknya bisa beragam, mulai dari pola asuh yang keras, konflik dalam keluarga, kurangnya perhatian emosional, hingga pengalaman traumatis. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki pengalaman tersebut cenderung lebih rentan mengalami kecemasan di kemudian hari (Azaria & Syakarofath, 2024).
Seiring bertambahnya usia, kecemasan yang terbentuk sejak kecil tidak selalu hilang. Justru, kecemasan tersebut sering muncul dalam bentuk yang lebih kompleks dan tidak selalu disadari. Misalnya, rasa tidak percaya diri yang berlebihan, ketakutan akan kegagalan, kecenderungan overthinking, hingga kesulitan menjalin hubungan yang sehat. Dalam beberapa kasus, seseorang juga bisa menjadi terlalu keras terhadap dirinya sendiri.
Sebagai contoh, seseorang yang tumbuh di lingkungan penuh kritik mungkin akan merasa tidak pernah cukup baik, meskipun sudah berusaha keras. Hal ini terjadi karena pola pikir yang terbentuk sejak kecil terus terbawa hingga dewasa.
Studi oleh Leman dan Arjadi (2023) menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan berkaitan dengan meningkatnya tingkat stres, kecemasan, dan depresi pada masa dewasa awal. Temuan ini memperkuat bahwa pengalaman emosional di masa lalu memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang merespons berbagai situasi di masa kini.
Lalu, bagaimana hal ini bisa terjadi?
Secara psikologis, otak berkembang sangat pesat pada masa kanak-kanak. Pengalaman yang terjadi pada fase ini akan membentuk pola berpikir dan respons emosional seseorang. Ketika seorang anak sering berada dalam kondisi tidak aman atau penuh tekanan, otak akan terbiasa berada dalam keadaan waspada. Akibatnya, saat dewasa, situasi yang sebenarnya biasa saja bisa terasa mengancam.
Selain itu, kurangnya dukungan emosional dari lingkungan juga membuat individu tidak memiliki contoh yang cukup tentang bagaimana cara mengelola emosi dengan baik. Hal inilah yang kemudian membuat kecemasan terus berlanjut hingga dewasa (Paramita & Faradiba, 2020).
Meskipun demikian, kecemasan bukanlah sesuatu yang tidak bisa diatasi. Langkah awal yang penting adalah menyadari bahwa apa yang dirasakan saat ini mungkin memiliki hubungan dengan pengalaman masa lalu. Dari situ, seseorang dapat mulai belajar memahami diri, mengelola emosi, membangun lingkungan yang suportif, hingga mencari bantuan profesional jika diperlukan.
Pada akhirnya, memahami akar kecemasan bukan berarti menyalahkan masa lalu. Justru, hal ini bisa menjadi langkah awal untuk memberi ruang bagi diri sendiri agar dapat tumbuh dan pulih. Karena bagaimanapun, masa lalu memang membentuk kita, tetapi bukan berarti sepenuhnya menentukan masa depan.
📚 Referensi
Azaria, R. G., & Syakarofath, N. A. (2024). Peran adverse childhood experience terhadap kecemasan sosial pada remaja. Jurnal Cognicia.
Leman, H. K., & Arjadi, R. (2023). Self-criticism and its relationship with depression, anxiety, and stress in emerging adulthood.
Paramita, A. D., & Faradiba, A. T. (2020). Adverse Childhood Experience dan kaitannya dengan kecemasan serta depresi.
Penulis:
Amaly Hasniyah
Mahasiswi Prodi Psikologi Universitas Syiah Kuala























Diskusi