Rabu, April 22, 2026

Penjamah di Tanah Tuah

Oleh Redaksi
07 Maret 2025
7 menit baca
Penjamah di Tanah Tuah - Picture1 | Cerpen | Potret Online
Penjamah di Tanah Tuah

Aku menggeleng. Tak heran dengan keadaan di depanku. Puluhan kabar telah kami dengar dari saudaraku di daerah lain. Apakah akan sama? Aku coba tawarkan mediasi kembali sebagai bentuk tata kramaku pada negeri.

“Anda saksikan di sana, Tuan petugas” tunjukku pada satu tempat, “blontang, aneka kembang, dupa, dan sesembahan di dekat makam itu adalah simbol ketaatan kami pada leluhur. Puluhan bahkan ratusan tahun pendahulu kami pun demikian. 

Perusahaan datang sebagai perwakilan pemerintah kami sambut dengan baik. Kalian hadir sebagai penengah kami terbuka dan sedia. Untuk kali ini petugas, bersikaplah bijak. Kami tak niatkan harta apalagi tahta. Hanya budaya leluhur yang kami gaung dan perjuangkan.”

Satu petugas yang kurasa adalah pimpinan maju ke tengah.

“Saudaraku, Narang. Kedatangan kami sungguh sebagai jembatan perseteruan ini. Harapan kami adalah merangkul agar kita tetap damai dalam satu kesatuan di bumi pertiwi. Makam itu bisa kita pindahkan. 

Itulah yang kami desak kepada petinggi sebagai sebuah jalan keluar selain ganti rugi.”

Dehen Djata meludah mendengarkan itu. Tak beda dengan yang lain. Watak Dehen yang cenderung enggan basa-basi itu sebenarnya aku kurang setuju.

“Memindahkan makam leluhur hanya akan hasilkan  bala. Sekarang kalian di sini. Giring mereka pulang, Tuan petugas” serunya.

Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist