Sastra Sebagai Ruang Pertemuan Antara Dunia dan Misteri
Oleh Heri Isnaini
Ada hal-hal yang dapat dijelaskan dengan mudah. Kita dapat menjelaskan bagaimana hujan terjadi. Kita dapat menjelaskan perputaran bumi mengelilingi matahari. Kita dapat menjelaskan cara kerja telepon genggam atau jaringan internet. Ilmu pengetahuan telah membantu manusia memahami banyak hal yang dahulu dianggap misterius.
Namun, ada pula hal-hal yang terus bertahan sebagai misteri. Mengapa manusia merindukan sesuatu yang tidak selalu dapat ia sebutkan namanya? Mengapa seseorang merasa begitu dekat dengan sebuah puisi yang ditulis puluhan tahun sebelum ia lahir? Mengapa kehilangan dapat tetap tinggal dalam ingatan meskipun waktu telah berjalan jauh? Mengapa manusia terus mencari makna hidup, meskipun tidak pernah menemukan jawaban yang benar-benar final?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak mudah dijelaskan oleh angka atau rumus. Ia berada di wilayah yang berbeda. Wilayah yang sejak lama menjadi rumah bagi sastra.
Ketika membaca Poetry, Language, Thought, saya menemukan salah satu gagasan Martin Heidegger yang terasa sangat dekat dengan pengalaman membaca sastra. Heidegger mengatakan bahwa karya seni, termasuk puisi, merupakan ruang tempat world (dunia) dan earth (bumi atau misteri) saling berjumpa.
Dunia adalah segala sesuatu yang dapat kita pahami. Dunia adalah sejarah, budaya, bahasa, kebiasaan, dan berbagai makna yang membentuk kehidupan manusia. Dunia adalah apa yang tampak.
Sementara itu, bumi dalam pengertian Heidegger bukan sekadar tanah tempat kita berpijak. Bumi adalah sesuatu yang selalu menyimpan rahasia. Ia adalah lapisan misteri yang tidak pernah sepenuhnya dapat dijelaskan. Semakin kita mencoba memahaminya, semakin kita menyadari bahwa masih ada sesuatu yang tersembunyi.
Karya sastra hidup di antara keduanya. Ia berbicara tentang dunia yang kita kenal, tetapi sekaligus membuka pintu menuju sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami. Mungkin sebab itulah sastra selalu terasa dekat dengan kehidupan manusia.
Ia tidak hanya menjelaskan dunia. Ia juga mengingatkan bahwa dunia tidak pernah selesai dijelaskan. Saya sering memikirkan hal ini ketika membaca puisi-puisi Indonesia. Misalnya puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Ketika Sapardi menulis tentang hujan, angin, pohon, atau senja, kita tentu dapat memahami gambaran yang muncul. Semua itu adalah bagian dari dunia yang kita kenal.
Namun, mengapa hujan dalam puisi Sapardi selalu terasa lebih besar daripada hujan yang sesungguhnya? Mengapa kita merasa ada sesuatu yang melampaui peristiwa alam itu sendiri? Barangkali karena Sapardi tidak hanya sedang berbicara tentang hujan. Ia sedang membuka ruang tempat hujan bertemu dengan kerinduan, kesabaran, kehilangan, dan cinta. Dunia hadir melalui citra hujan. Misteri hadir melalui makna yang tidak pernah selesai ditafsirkan.
Di situlah sastra bekerja. Ia mempertemukan keduanya. Hal yang sama dapat ditemukan dalam puisi-puisi Chairil Anwar. Secara historis kita mengetahui bahwa Chairil hidup pada masa pergolakan bangsa. Kita dapat membaca konteks sosial dan sejarah yang melatarbelakangi puisinya. Itu adalah dunia.
Namun, ketika membaca puisi “Aku”, kita tidak hanya berhadapan dengan sejarah. Kita berhadapan dengan sesuatu yang lebih dalam. Ada kegelisahan. Ada kesadaran akan kematian. Ada keinginan untuk hidup melampaui batas waktu. Semua itu adalah pertanyaan eksistensial yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab.
Puisi Chairil berdiri di antara dunia yang konkret dan misteri keberadaan manusia. Sebab itulah puisinya tetap hidup hingga hari ini. Ia tidak berhenti pada konteks zamannya. Ia terus berbicara kepada generasi-generasi berikutnya.
Dalam tradisi sastra Indonesia, pertemuan antara dunia dan misteri bahkan menjadi salah satu sumber energi kreatif yang sangat penting. Kita dapat melihatnya dalam karya-karya Danarto. Membaca Danarto sering kali terasa seperti memasuki ruang yang aneh. Dunia sehari-hari masih ada di sana. Kita masih menemukan manusia, jalan, rumah, pasar, dan berbagai peristiwa yang akrab.
Namun, perlahan-lahan batas antara yang nyata dan yang gaib menjadi kabur. Tokoh-tokoh bergerak memasuki wilayah yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh logika. Peristiwa-peristiwa yang tampak mustahil terjadi begitu saja.
Bagi sebagian pembaca, dunia Danarto terasa magis. Namun, sesungguhnya ia sedang melakukan sesuatu yang sangat penting: memperlihatkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya terdiri atas apa yang dapat dilihat. Ada lapisan-lapisan makna yang tersembunyi. Ada wilayah spiritual yang tidak selalu dapat dijangkau oleh rasionalitas. Ada misteri yang menjadi bagian dari pengalaman manusia. Dan sastra menyediakan ruang untuk menjelajahinya.
Sebagai orang yang tumbuh dalam kebudayaan Nusantara, saya sering merasa bahwa hubungan antara dunia dan misteri sebenarnya telah lama hidup dalam berbagai tradisi lokal. Lihatlah cerita-cerita rakyat. Lihatlah mitologi. Lihatlah legenda yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Cerita tentang Nyi Roro Kidul, Prabu Siliwangi, Dayang Sumbi, atau berbagai kisah keramat yang hidup di berbagai daerah Indonesia tidak semata-mata berbicara tentang fakta sejarah. Di dalamnya terdapat upaya masyarakat memahami dunia sekaligus misteri yang melingkupinya.
Gunung bukan hanya bentang alam. Ia adalah simbol. Sungai bukan hanya aliran air. Ia adalah perjalanan. Hutan bukan hanya kumpulan pohon. Ia adalah ruang pertemuan antara manusia dan yang tak terjelaskan.
Tradisi sastra Indonesia modern mewarisi cara pandang semacam itu. Sebab itulah banyak penyair Indonesia menggunakan simbol-simbol alam dalam karya mereka. Abdul Hadi W.M. berbicara tentang laut. Kuntowijoyo berbicara tentang perjalanan spiritual. Sutardji Calzoum Bachri kembali kepada mantra dan daya magis kata.
Masing-masing menghadirkan dunia yang konkret sekaligus membuka pintu menuju misteri.
Yang menarik, misteri dalam sastra tidak pernah tampil sebagai jawaban. Ia hadir sebagai pertanyaan. Dan mungkin di situlah letak perbedaannya dengan banyak bentuk pengetahuan lain. Ilmu pengetahuan bergerak untuk menjawab. Sastra bergerak untuk memahami. Ilmu pengetahuan berusaha menutup pertanyaan dengan penjelasan. Sastra justru menjaga agar pertanyaan tetap hidup. Sebab ada hal-hal yang memang tidak perlu diselesaikan.
Ia cukup direnungkan. Misalnya kematian. Kita mengetahui secara biologis apa yang terjadi ketika seseorang meninggal. Namun, pengetahuan itu tidak pernah sepenuhnya menghapus misteri kematian. Puisi sering kali hadir di ruang tersebut.
Ketika penyair menulis tentang kehilangan, ia tidak menjelaskan kematian secara ilmiah. Ia membantu manusia menghadapi pengalaman kehilangan itu sendiri. Ia memberi bahasa bagi sesuatu yang sulit diucapkan. Saya kira inilah salah satu alasan mengapa manusia terus membutuhkan sastra.
Di tengah dunia yang semakin rasional dan terukur, manusia tetap membutuhkan ruang untuk berjumpa dengan misteri. Bukan misteri dalam arti takhayul, melainkan misteri sebagai kesadaran bahwa kehidupan selalu lebih luas daripada apa yang dapat kita pahami.
Heidegger pernah mengingatkan bahwa manusia modern cenderung memandang segala sesuatu sebagai objek yang dapat dihitung dan dimanfaatkan. Akibatnya, kita sering kehilangan rasa takjub. Kita mengetahui banyak hal, tetapi jarang mengalami kekaguman.
Padahal, kekaguman adalah salah satu pintu menuju pemahaman yang lebih dalam. Dan sastra menjaga pintu itu tetap terbuka. Puisi membuat kita kembali melihat hujan. Puisi membuat kita kembali mendengarkan angin. Puisi membuat kita kembali bertanya tentang waktu, cinta, kesepian, dan kematian. Puisi mengembalikan misteri ke dalam kehidupan yang terlalu sibuk dengan kepastian. Pada akhirnya, sastra bukanlah pelarian dari dunia nyata.
Sastra justru membantu kita melihat dunia dengan lebih utuh. Ia memperlihatkan bahwa kehidupan tidak hanya terdiri atas apa yang tampak. Di balik setiap peristiwa selalu ada lapisan makna. Di balik setiap pengalaman selalu ada ruang kontemplasi. Di balik setiap kenyataan selalu ada misteri yang tidak pernah habis dijelajahi.
Sebab itu, ketika membaca puisi atau karya sastra yang baik, sesungguhnya kita sedang memasuki ruang pertemuan yang sangat penting. Di satu sisi, kita bertemu dunia: sejarah, budaya, bahasa, dan pengalaman manusia. Di sisi lain, kita bertemu misteri: pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab.
Dan, mungkin justru di antara keduanya, manusia menemukan dirinya. Bukan sebagai makhluk yang mengetahui segala sesuatu, melainkan sebagai makhluk yang terus belajar memahami makna hidupnya. Sebab sastra pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang dunia.
Sastra adalah jembatan yang menghubungkan dunia dengan sesuatu yang lebih dalam daripada dunia itu sendiri. Sesuatu yang sejak dahulu hingga sekarang terus kita sebut dengan berbagai nama, seperti rahasia, keajaiban, spiritualitas, atau mungkin, misteri.
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.









