Artikel · Potret Online

Spanyol Juara Dunia: Warisan Islam di Negeri Andalusia dan Jejak Peradaban

10 menit baca 3
a1d11095-1fdb-412d-be83-57acb02011ea
Foto / IlustrasiSpanyol Juara Dunia: Warisan Islam di Negeri Andalusia dan Jejak Peradaban

*Oleh : Kaipal Wahyudi.*

Dunia kembali menaruh perhatian kepada Spanyol. Pada 19 Juli 2026, tim nasional Spanyol berhasil mengangkat trofi Piala Dunia FIFA setelah menaklukkan Argentina melalui pertandingan yang berlangsung hingga babak perpanjangan waktu. 

Gelar tersebut menambah daftar panjang prestasi La Roja setelah sebelumnya menjuarai Piala Dunia 2010, UEFA Euro 1964, 2008, 2012, dan 2024, serta UEFA Nations League 2023. Dalam dua dekade terakhir, Spanyol menjelma menjadi salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia melalui pembinaan usia muda yang sistematis, kompetisi domestik yang berkualitas, filosofi permainan berbasis penguasaan bola, serta investasi berkelanjutan pada pengembangan talenta.

Namun, apabila sejarah dibaca lebih dalam, kejayaan Spanyol hari ini sesungguhnya tidak lahir dari ruang yang kosong. Di balik kemegahan stadion, teknologi olahraga, dan prestasi yang diraih di panggung dunia, terdapat perjalanan sejarah yang sangat panjang. 

Negeri yang kini dikenal sebagai salah satu negara maju di Eropa pernah menjadi pusat peradaban dunia ketika wilayah selatan Semenanjung Iberia berada di bawah pemerintahan Islam selama hampir delapan abad, sejak tahun 711 hingga 1492 M. Masa itu dikenal sebagai Al-Andalus, sebuah era yang oleh banyak sejarawan disebut sebagai salah satu puncak peradaban manusia dalam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, ekonomi, arsitektur, teknologi, dan tata kota.

Karena itu, kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026 tidak hanya membangkitkan euforia olahraga. Di berbagai media internasional, ruang akademik, hingga forum-forum sejarah, perhatian kembali diarahkan kepada Andalusia.

Bukan karena Spanyol modern merupakan kelanjutan politik dari Al-Andalus, melainkan karena warisan intelektual, budaya, sistem pendidikan, arsitektur, dan tradisi keilmuan yang tumbuh pada masa Islam telah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah negeri tersebut. 

Banyak sejarawan berpendapat bahwa memahami sejarah Spanyol tanpa memahami Al-Andalus sama artinya membaca sebuah buku dengan menghilangkan salah satu bab terpentingnya.

Berbagai penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi maupun karya-karya akademik tentang sejarah Islam dan Eropa abad pertengahan secara konsisten menunjukkan bahwa Al-Andalus merupakan salah satu pusat transformasi peradaban dunia. 

Nama-nama seperti Richard Fletcher, Hugh Kennedy, María Rosa Menocal, David Levering Lewis, Thomas F. Glick, hingga para peneliti sejarah perkotaan dan sejarah sains menjelaskan bahwa Andalusia bukan sekadar wilayah kekuasaan Islam, melainkan laboratorium besar tempat bertemunya berbagai tradisi ilmu pengetahuan dari Timur dan Barat yang kemudian melahirkan perubahan besar dalam sejarah Eropa.

Awal perjalanan itu dimulai pada tahun 711 M ketika pasukan Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad menyeberangi Selat Gibraltar atas mandat Musa bin Nushair pada masa Kekhalifahan Umayyah. Setelah mengalahkan Raja Roderick dari Kerajaan Visigoth, wilayah Iberia memasuki babak sejarah baru. Penaklukan tersebut bukan hanya pergantian kekuasaan politik, melainkan awal lahirnya sebuah peradaban yang membawa perubahan besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan kebudayaan di Eropa Barat.

Dalam waktu yang relatif singkat, kota-kota seperti Córdoba, Sevilla, Toledo, Granada, dan Málaga berkembang menjadi pusat perdagangan internasional sekaligus pusat pendidikan dunia. Letak geografis Al-Andalus yang menghubungkan Eropa, Afrika Utara, dan kawasan Mediterania menjadikan wilayah ini sebagai simpul strategis pertukaran barang, budaya, bahasa, dan ilmu pengetahuan. 

Para pedagang membawa komoditas dari berbagai belahan dunia, sementara para ulama, ilmuwan, dokter, filsuf, penyair, dan mahasiswa datang untuk belajar serta berdiskusi dalam suasana akademik yang sangat dinamis.

Puncak kejayaan Al-Andalus terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Abdurrahman III dan Al-Hakam II. Córdoba berkembang menjadi salah satu kota terbesar dan paling maju di dunia. Ketika sebagian besar kota di Eropa masih bergulat dengan persoalan sanitasi, jalan berlumpur, dan minim penerangan, Córdoba telah memiliki jalan-jalan yang diterangi lampu pada malam hari, sistem drainase yang baik, rumah sakit, pemandian umum, perpustakaan besar, taman kota, pasar internasional, serta jaringan distribusi air yang tertata rapi. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pembangunan perkotaan di Al-Andalus telah melampaui standar zamannya.

Kemajuan itu tidak lahir secara kebetulan. Pemerintahan Islam ketika itu menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi pembangunan peradaban. Tradisi membaca dan menulis berkembang sangat pesat. Perpustakaan milik Khalifah Al-Hakam II dikenal sebagai salah satu pusat koleksi manuskrip terbesar di dunia. 

Ribuan naskah dari Baghdad, Damaskus, Kairo, Persia, hingga Konstantinopel dikumpulkan, diterjemahkan, disalin, dan dipelajari. Aktivitas intelektual berlangsung hampir sepanjang waktu, menjadikan Córdoba sebagai magnet bagi para pencari ilmu dari berbagai penjuru dunia.

Paradigma keilmuan yang berkembang di Al-Andalus juga memiliki karakter yang khas. Dalam tradisi Islam klasik, ilmu agama dan ilmu umum tidak dipisahkan secara dikotomis. Mengkaji kedokteran, astronomi, matematika, filsafat, pertanian, maupun teknik sipil dipandang sebagai bagian dari ikhtiar memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT di alam semesta. Cara pandang inilah yang melahirkan generasi ilmuwan besar yang kemudian memberi pengaruh sangat luas terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Al-Andalus kemudian dikenal sebagai “jembatan emas” yang menghubungkan warisan ilmu pengetahuan Yunani-Romawi dengan lahirnya Renaisans di Eropa. Melalui pusat-pusat penerjemahan di Córdoba dan Toledo, karya-karya Aristoteles, Plato, Galen, Euclid, dan Ptolemaeus diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dikembangkan oleh ilmuwan Muslim, kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Latin. Dari proses inilah berbagai universitas awal di Eropa memperoleh akses terhadap khazanah ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi kebangkitan intelektual Barat.

Salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam proses tersebut adalah Ibnu Rusyd atau Averroes. Filsuf, hakim, dokter, sekaligus ulama asal Córdoba ini memperkenalkan pendekatan rasional dalam memahami hubungan antara wahyu dan akal. 

Karya-karyanya mengenai Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi bahan diskusi di universitas-universitas Eropa. Pemikirannya memberi pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat skolastik, termasuk kepada Thomas Aquinas dan para pemikir Eropa abad pertengahan. Karena itu, banyak sejarawan menempatkan Ibnu Rusyd sebagai salah satu tokoh penting yang membuka jalan menuju lahirnya Renaisans.

Dalam bidang kedokteran, Al-Andalus melahirkan Abu al-Qasim Al-Zahrawi atau Albucasis. Karyanya, Al-Tasrif, menjadi ensiklopedia kedokteran dan bedah paling berpengaruh selama berabad-abad. Ia memperkenalkan ratusan instrumen bedah, teknik operasi modern, penanganan patah tulang, operasi kandungan, hingga berbagai prosedur medis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dipakai sebagai rujukan utama di universitas-universitas Eropa selama ratusan tahun.

Kemajuan juga terlihat dalam bidang astronomi dan matematika. Al-Zarqali menyempurnakan astrolab dan menyusun tabel astronomi yang dipakai selama berabad-abad. Pengembangan instrumen navigasi tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi era pelayaran samudra bangsa-bangsa Eropa. Sistem angka Arab yang diperkenalkan melalui dunia Islam juga menggantikan keterbatasan angka Romawi sehingga mempermudah perkembangan ilmu matematika dan sains.

Tidak kalah penting adalah revolusi pertanian yang terjadi di Al-Andalus. Para petani Muslim memperkenalkan sistem irigasi acequia yang memungkinkan distribusi air secara efisien di wilayah-wilayah kering. Mereka membawa berbagai tanaman baru seperti padi, jeruk, lemon, delima, kapas, tebu, saffron, bayam, dan terong. Transformasi ini mengubah Andalusia menjadi kawasan pertanian yang sangat produktif. Bahkan hingga kini, sebagian sistem irigasi tersebut masih digunakan di wilayah selatan Spanyol.

Keberhasilan Al-Andalus tidak hanya dibangun oleh kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga oleh kemampuan membangun kehidupan sosial yang relatif terbuka bagi pertukaran intelektual. Dalam kajian sejarah dikenal istilah convivencia, yaitu periode ketika umat Islam, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan serta berinteraksi dalam bidang pendidikan, perdagangan, dan ilmu pengetahuan. Walaupun konsep ini tetap menjadi perdebatan di kalangan sejarawan, banyak penelitian menyimpulkan bahwa Al-Andalus menyediakan ruang dialog yang jauh lebih terbuka dibandingkan banyak wilayah lain pada masa yang sama. Dari lingkungan seperti inilah lahir pusat-pusat penerjemahan besar yang mempercepat perpindahan ilmu pengetahuan ke Eropa.

Namun, sebagaimana seluruh peradaban besar dalam sejarah, Al-Andalus juga mengalami kemunduran. Setelah runtuhnya Kekhalifahan Córdoba pada tahun 1031 M, wilayah Islam terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang dikenal sebagai Muluk al-Thawaif. Persaingan politik, konflik internal, dan perebutan kekuasaan melemahkan persatuan. 

Dalam beberapa kasus bahkan terjadi kerja sama sebagian penguasa Muslim dengan kerajaan Kristen untuk mengalahkan sesama Muslim. Kondisi tersebut membuka jalan bagi gerakan Reconquista hingga akhirnya Granada, benteng terakhir Islam di Iberia, jatuh pada tahun 1492.

Meskipun kekuasaan politik Islam berakhir, pengaruh peradaban Al-Andalus tidak ikut menghilang. Justru jejaknya tetap hidup dalam identitas Spanyol modern. Istana Alhambra di Granada menjadi salah satu mahakarya arsitektur Islam yang paling dikagumi dunia. 

Mezquita Córdoba tetap berdiri sebagai simbol sejarah yang memperlihatkan kemegahan arsitektur Islam. Menara Giralda di Sevilla, Alcázar, berbagai benteng, saluran air, taman kota, hingga pola tata ruang perkotaan masih menunjukkan kuatnya pengaruh peradaban Islam.

Warisan tersebut juga hadir dalam bahasa. Ribuan kosakata bahasa Spanyol berasal dari bahasa Arab, seperti aceite, acequia, azúcar, algodón, álgebra, aduana, almacén, ojalá, dan alcalde. Pengaruh itu membuktikan bahwa interaksi antara kedua peradaban telah berlangsung begitu lama hingga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.

Dalam bidang budaya, sejumlah peneliti menghubungkan perkembangan musik Flamenco dengan tradisi musik Arab-Andalusia yang berkembang sejak masa Ziryab. Demikian pula pada bidang kuliner, berbagai komoditas seperti beras, saffron, jeruk, lemon, dan tebu yang diperkenalkan pada masa Islam kini menjadi bagian penting dari identitas kuliner Spanyol.

Kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026 kemudian memunculkan kembali diskusi mengenai akar sejarah tersebut. Prestasi olahraga modern tentu merupakan hasil pembinaan sepak bola yang profesional, bukan akibat langsung dari warisan Al-Andalus. Namun sejarah mengingatkan bahwa bangsa yang besar tidak lahir secara instan. 

Di balik keberhasilan hari ini terdapat perjalanan panjang yang dibangun melalui pendidikan, budaya literasi, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, serta kemampuan membangun masyarakat yang terbuka terhadap inovasi.

Dalam konteks politik internasional, Spanyol beberapa tahun terakhir juga dikenal sebagai salah satu negara Eropa yang cukup vokal mendukung penyelesaian konflik Palestina melalui pendekatan hukum internasional dan solusi dua negara. Sikap tersebut merupakan bagian dari kebijakan luar negeri kontemporer yang lahir dari dinamika politik internasional. 

Meski demikian, sebagian pengamat melihat adanya kesinambungan nilai berupa perhatian terhadap dialog, kemanusiaan, dan kehidupan bersama yang telah menjadi bagian dari memori sejarah panjang negeri itu.

Munculnya figur muda seperti Lamine Yamal juga memperlihatkan wajah baru Spanyol modern. Sebagai pemain berdarah Maroko dan Guinea Khatulistiwa yang tumbuh di Spanyol, Yamal menjadi simbol masyarakat yang semakin multikultural. Prestasinya menunjukkan bahwa keberagaman etnis, budaya, dan agama dapat menjadi kekuatan ketika dikelola melalui sistem yang adil dan berbasis prestasi.

Bagi umat Islam, sejarah Al-Andalus menghadirkan pelajaran yang sangat berharga. Kejayaan tidak dibangun hanya dengan kekuatan militer ataupun kekayaan ekonomi, tetapi melalui budaya membaca, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, kepemimpinan yang amanah, inovasi, akhlak, serta persatuan. 

Sebaliknya, ketika perpecahan politik, fanatisme kelompok, dan perebutan kekuasaan lebih diutamakan daripada kepentingan bersama, maka peradaban sebesar apa pun dapat mengalami kemunduran.

Al-Qur’an telah mengingatkan hal tersebut dalam Surah Al-Anfal ayat 46 agar umat tidak saling berselisih karena perselisihan akan menghilangkan kekuatan. Sejarah Al-Andalus menjadi ilustrasi nyata mengenai pesan tersebut. 

Keruntuhannya bukan semata-mata karena tekanan dari luar, tetapi juga karena melemahnya solidaritas internal yang mengikis fondasi peradaban.

Karena itu, pembelajaran dari Andalusia seharusnya tidak berhenti pada kekaguman terhadap bangunan-bangunan megah atau romantisme masa lalu. Yang jauh lebih penting ialah mengambil substansi dari keberhasilannya. Al-Andalus mengajarkan bahwa agama dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan, bahwa keberagaman dapat menjadi sumber kreativitas, bahwa pendidikan merupakan investasi terbesar sebuah bangsa, dan bahwa sebuah peradaban akan dikenang bukan karena luas wilayahnya, melainkan karena besarnya kontribusi yang diberikan kepada umat manusia.

Ketika dunia hari ini menyaksikan Spanyol berdiri di puncak sepak bola dunia, sejarah sesungguhnya sedang mengingatkan bahwa kejayaan sejati dibangun dalam rentang waktu yang panjang. Di balik stadion-stadion modern, universitas-universitas ternama, kota-kota bersejarah, serta kemajuan kebudayaan Spanyol, terdapat jejak Al-Andalus yang pernah menerangi dunia dengan ilmu pengetahuan, riset, toleransi, dan semangat membangun peradaban. Warisan itulah yang tetap hidup hingga kini, bukan sebagai nostalgia masa silam, melainkan sebagai pengingat bahwa bangsa yang memuliakan ilmu, menjunjung keadilan, menjaga persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama akan selalu meninggalkan jejak yang dikenang dalam sejarah umat manusia.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...