Jejak Yusron Menuju Al-Azhar Kairo
Oleh: M. Taufik
“Barang siapa berjalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Pagi itu, Rabu, 22 Juli 2026, langit Jemundo, Taman, Sidoarjo, tampak cerah. Di sebuah rumah sederhana, suasana haru menyelimuti keluarga kecil yang sedang melepas keberangkatan putra mereka, Yusron. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia memeluk kedua orang tuanya, memohon doa restu sebelum menempuh perjalanan panjang menuju Mesir.
“Doakan Yusron menjadi anak yang istiqamah dan pulang membawa ilmu yang bermanfaat,” ucapnya lirih.
Adegan sederhana itu sesungguhnya merupakan puncak dari perjalanan panjang yang telah dirintis sejak masa kanak-kanak. Keberangkatan Yusron bukanlah hasil dari keberuntungan sesaat, melainkan buah dari pendidikan, doa, ketekunan, dan pengorbanan yang ditempa bertahun-tahun.
Langkah awal perjalanan itu dimulai di MI Khoirul Ummah Taman Sepanjang. Selama enam tahun, ia tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga dibimbing mencintai Al-Qur’an, membiasakan shalat berjamaah, menghormati guru, serta menanamkan adab sebagai fondasi utama kehidupan.Pendidikan dasar itulah yang menjadi akar kuat bagi perjalanan intelektual dan spiritualnya.
Selepas madrasah ibtidaiyah, Yusron melanjutkan pendidikan selama enam tahun di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Al-Amri Leces, Probolinggo. Di lingkungan pesantren, hari-harinya dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur’an, kajian kitab kuning, qiyamul lail, halaqah ilmu, serta pembinaan akhlak yang berlangsung tanpa mengenal batas waktu.
Di sanalah cita-cita besar mulai tumbuh. Melihat para kiai dan ustaz yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu, ia memantapkan tekad untuk melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Kairo, pusat keilmuan Islam yang telah melahirkan ribuan ulama selama lebih dari seribu tahun.
Impian itu terus dipupuk melalui doa yang tak pernah putus. Seusai setiap shalat, ia memohon kepada Allah agar diberikan kesempatan menjadi penuntut ilmu di negeri para ulama. Kesungguhan itu diiringi dengan ikhtiar yang tidak ringan. Tahun demi tahun ia menghafalkan Al-Qur’an hingga akhirnya berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz.
Bekal bahasa Arabnya memang belum sempurna. Namun, para gurunya selalu menanamkan keyakinan bahwa bahasa dapat dipelajari, sedangkan keikhlasan, kesabaran, dan semangat menuntut ilmu harus dijaga sepanjang hayat. Nasihat itulah yang terus menguatkan langkahnya.
Doa yang dipanjatkan bertahun-tahun akhirnya dikabulkan. Kabar yang dinanti pun datang. Yusron dinyatakan diterima sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Sebuah anugerah yang disambut dengan rasa syukur oleh keluarga, guru, dan seluruh lingkungan pesantren.
Pada hari keberangkatan, Yusron menuju Pondok Pesantren Al-Amri Leces untuk bergabung dengan sebelas santri lain yang juga memperoleh kesempatan menimba ilmu di Mesir. Bersama para wali santri, mereka menempuh perjalanan darat menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.
Sepanjang perjalanan, lantunan shalawat, bacaan Al-Qur’an, dan doa-doa mengiringi setiap kilometer yang mereka lalui.
Dini hari Jumat, 24 Juli 2026, suasana bandara dipenuhi pelukan dan air mata. Tidak ada tangis kesedihan, melainkan air mata syukur karena Allah membuka jalan bagi anak-anak bangsa untuk belajar di pusat peradaban Islam dunia.
Ketika pesawat lepas landas menuju Kairo, Yusron menatap hamparan awan putih dari balik jendela. Dalam benaknya terlintas perjalanan hidup yang telah dilalui; dari ruang kelas sederhana di MI Khoirul Ummah, lorong-lorong Pondok Al-Amri, hingga kini menuju Al-Azhar yang selama ini hanya hadir dalam doa.
Sesampainya di Kairo, ia disambut suasana baru yang penuh tantangan. Perkuliahan berlangsung sepenuhnya dalam bahasa Arab. Mahasiswa berasal dari berbagai belahan dunia dengan latar belakang budaya yang berbeda. Kitab-kitab yang dipelajari pun menuntut kemampuan bahasa yang tinggi.
Minggu-minggu pertama menjadi masa adaptasi yang tidak mudah. Kamus selalu menemaninya hingga larut malam. Namun, setiap kali membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dihafalnya, semangat itu kembali tumbuh. Ia meyakini bahwa setiap kesulitan merupakan cara Allah mendidik hamba-Nya agar menjadi pribadi yang lebih kuat.
Suatu sore selepas mengikuti halaqah di Masjid Al-Azhar, Yusron memandang langit Kairo yang mulai memerah. Dalam hati ia berjanji bahwa kehadirannya di negeri itu bukan sekadar mengejar gelar akademik, melainkan meneladani para ulama, memperdalam khazanah keilmuan Islam, lalu kembali ke Indonesia untuk mengabdi sebagai guru, dai, dan pembimbing umat.
Kisah Yusron mengajarkan bahwa mimpi besar tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari kesungguhan, doa yang terus dipanjatkan, bakti kepada orang tua, penghormatan kepada guru, serta ketekunan dalam menuntut ilmu. Jalan menuju cita-cita memang tidak selalu mudah, tetapi Allah selalu menyediakan jalan bagi mereka yang bersungguh-sungguh.
Perjalanan dari Jemundo, Taman, Sidoarjo, menuju Universitas Al-Azhar Kairo menjadi bukti bahwa anak pesantren Indonesia mampu menembus panggung dunia. Semoga jejak Yusron menginspirasi generasi muda untuk tidak takut bermimpi, mencintai ilmu, menghafal Al-Qur’an, menjaga adab, dan terus berikhtiar.
Sebab, bangsa ini akan selalu membutuhkan generasi berilmu yang pulang bukan hanya membawa gelar, tetapi juga membawa cahaya ilmu, akhlak, dan pengabdian bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.










