Puisi

Liturgi Hutan Terkepung Api 

Juli 2026

Oleh Fileski Walidha Tanjung 

Barangkali akar telah mempelajari alfabet luka

lebih tekun daripada perpustakaan hujan yang kehilangan kelopak.

Seekor burung menggantungkan paruhnya pada bayangan kapak,

seperti cermin yang menolak wajah sendiri

ketika fajar dibungkus kilau yang tak dapat terurai.

Aku datang bukan membawa jawaban.

Hanya sekeranjang abu

yang setiap butirnya menghafal nama dedaunan

lalu lupa kepada ranting yang melahirkannya.

Betapa terang dapat berwajah jelaga.

Betapa pesta sanggup mengenakan jubah kuburan.

Di lembah yang dahulu menggendong embun,

karang doa berubah menjadi rak etalase.

Batang-batang rebah

seperti huruf purba dipatahkan lidah keuntungan.

Mata air menulis surat dengan tinta lumpur,

namun tak satu pun telinga sanggup membaca basahnya.

Plastik adalah musim

yang menolak selesai.

Ia beranak-pinak di lambung sungai

seperti mazmur palsu yang meminjam suara ikan.

Seekor penyu menelan senja

karena cahaya telah menyamar menjadi kantong bening.

Barangkali itulah ironi paling sunyi:

sampah lebih panjang umur

daripada pelukan yang melahirkannya.

Lalu kebun-kebun yang terlalu seragam

menghafal satu warna

dan melupakan tata bahasa rimba.

Akar berjalan dengan tongkat asap.

Rusa mengukur arah

menggunakan aroma rumah yang telah dipadamkan.

Langit menjadi tungku

sementara daun-daun belajar menjadi kenangan.

Paradoks itu berdiri

seperti mata air yang kehausan pada dirinya sendiri.

Aku mendengar tanah berzikir

tanpa suara.

Batu-batu mengangkat dahinya

seperti pengemis yang menyembunyikan mahkota.

Seekor kupu-kupu menggendong reruntuhan musim

lebih khusyuk daripada manusia

yang sibuk menghitung laba dari liang cahaya.

Wahai anak-anak yang masih menyimpan benih

di balik saku buku tulis,

jangan percaya kepada kemasan

yang memoles racun menjadi pesta.

Daun gugur lebih arif

daripada pidato yang menggilap keserakahan.

Air yang jernih

lebih fasih daripada seribu layar

yang menjual lupa.

Aku hanyalah pejalan

yang memungut botol-botol patah

seperti memungut sisa nurani dari trotoar zaman.

Setiap langkah menyerupai biji

yang belum sepakat dengan musim.

Setiap napas ibarat pelita

yang berenang di antara asap.

Sebab neraka tidak selalu menunggu

di ujung kalender yang tak terlihat.

Kadang ia tumbuh

dari kantong sekali pakai

yang menutup mulut sungai.

Dari batang rebah

yang masih mengeluarkan aroma kelahiran.

Dari udara

yang memelihara demam di dada anak-anak.

Dan apabila suatu hari

hutan kembali menumbuhkan nama bagi burung,

sungai membuka kelopak beningnya,

serta bumi menanggalkan mantel plastik dari bahunya,

barangkali bukan kemenangan yang lahir,

melainkan ingatan

bahwa seluruh makhluk sejak awal

adalah cermin yang saling menjaga,

sedangkan manusia

hanyalah sebutir debu

yang terlalu lama mengira dirinya matahari.

Madiun, 27 Juli 2026 

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Tentang Penulis
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir