Oleh Fileski Walidha Tanjung
Barangkali akar telah mempelajari alfabet luka
lebih tekun daripada perpustakaan hujan yang kehilangan kelopak.
Seekor burung menggantungkan paruhnya pada bayangan kapak,
seperti cermin yang menolak wajah sendiri
ketika fajar dibungkus kilau yang tak dapat terurai.
Aku datang bukan membawa jawaban.
Hanya sekeranjang abu
yang setiap butirnya menghafal nama dedaunan
lalu lupa kepada ranting yang melahirkannya.
Betapa terang dapat berwajah jelaga.
Betapa pesta sanggup mengenakan jubah kuburan.
Di lembah yang dahulu menggendong embun,
karang doa berubah menjadi rak etalase.
Batang-batang rebah
seperti huruf purba dipatahkan lidah keuntungan.
Mata air menulis surat dengan tinta lumpur,
namun tak satu pun telinga sanggup membaca basahnya.
Plastik adalah musim
yang menolak selesai.
Ia beranak-pinak di lambung sungai
seperti mazmur palsu yang meminjam suara ikan.
Seekor penyu menelan senja
karena cahaya telah menyamar menjadi kantong bening.
Barangkali itulah ironi paling sunyi:
sampah lebih panjang umur
daripada pelukan yang melahirkannya.
Lalu kebun-kebun yang terlalu seragam
menghafal satu warna
dan melupakan tata bahasa rimba.
Akar berjalan dengan tongkat asap.
Rusa mengukur arah
menggunakan aroma rumah yang telah dipadamkan.
Langit menjadi tungku
sementara daun-daun belajar menjadi kenangan.
Paradoks itu berdiri
seperti mata air yang kehausan pada dirinya sendiri.
Aku mendengar tanah berzikir
tanpa suara.
Batu-batu mengangkat dahinya
seperti pengemis yang menyembunyikan mahkota.
Seekor kupu-kupu menggendong reruntuhan musim
lebih khusyuk daripada manusia
yang sibuk menghitung laba dari liang cahaya.
Wahai anak-anak yang masih menyimpan benih
di balik saku buku tulis,
jangan percaya kepada kemasan
yang memoles racun menjadi pesta.
Daun gugur lebih arif
daripada pidato yang menggilap keserakahan.
Air yang jernih
lebih fasih daripada seribu layar
yang menjual lupa.
Aku hanyalah pejalan
yang memungut botol-botol patah
seperti memungut sisa nurani dari trotoar zaman.
Setiap langkah menyerupai biji
yang belum sepakat dengan musim.
Setiap napas ibarat pelita
yang berenang di antara asap.
Sebab neraka tidak selalu menunggu
di ujung kalender yang tak terlihat.
Kadang ia tumbuh
dari kantong sekali pakai
yang menutup mulut sungai.
Dari batang rebah
yang masih mengeluarkan aroma kelahiran.
Dari udara
yang memelihara demam di dada anak-anak.
Dan apabila suatu hari
hutan kembali menumbuhkan nama bagi burung,
sungai membuka kelopak beningnya,
serta bumi menanggalkan mantel plastik dari bahunya,
barangkali bukan kemenangan yang lahir,
melainkan ingatan
bahwa seluruh makhluk sejak awal
adalah cermin yang saling menjaga,
sedangkan manusia
hanyalah sebutir debu
yang terlalu lama mengira dirinya matahari.
Madiun, 27 Juli 2026
Diskusi