Hentak Gendang Sang Pendosa

10 Mei 2026
2 menit baca
d5381b86-6a42-40ba-b391-b791007dfa1e
Hentak Gendang Sang Pendosa

Oleh: Syarifudin Brutu

​Hentak gendang bertalu-talu, kaki menghentak dan tangan berayun di bawah panji-panji yang kaku. Di negeri ini, hiburan dibungkus rapi dengan pita agama, sementara salawat dilantunkan oleh lisan yang gemar menghakimi sesama. Mereka adalah tuan rumah bertaqwa yang merasa telah memegang kunci gerbang surga di saku celananya. 

​”Hai kau, ampas neraka!” teriak seorang kakek yang kulitnya sudah sewarna tanah, namun mulutnya masih saja rajin menyemburkan serapah. “Pergi kau pembawa sial!” lanjutnya, merasa begitu ramah meski sedang mengusir sesama ciptaan Tuhan dengan penuh amarah. 

​Malim hanya diam, menelan ludah yang terasa sepah, lalu melangkah menjauh dari negeri yang merasa paling megah. Di sini, membela Tuhan adalah sebuah kewajiban yang dirayakan sambil mengepulkan asap cerutu di sela-sela perbincangan tentang pahala dan paku.

Menjadi berbeda adalah dosa yang tak terampuni, sebuah noktah hitam yang mencemarkan kesucian Ilahi. Patuh dan beriman bukan lagi pilihan, melainkan tuntutan yang dipaksakan di bawah ancaman pengucilan. 

​Siapa pun yang tak seirama, dicap sebagai sekutu setan yang harus segera disingkirkan agar murka Tuhan tak menyambar semua. Malim hampir saja meregang nyawa, terkepung ujung tajam belati para “prajurit Tuhan” yang haus akan darah atas nama iman. 

​Hanya karena sebotol anggur merah di tangan, Malim dianggap sebagai pemicu bencana bagi peradaban yang paling sopan. 

​”Tuhan, lihatlah hamba-hamba-Mu yang begitu beriman ini! Mereka ingin mencabut nyawaku demi menjaga martabat-Mu!” teriak Malim sambil mengangkat tinggi-tinggi botol anggurnya yang segar, sebuah saksi bisu atas kejujurannya yang dianggap cemar.

​”Ah Tuhan, biarlah aku dicap si pemabuk buta,” gumamnya pelan. “Tapi lihatlah mereka, mereka juga sedang mabuk—mabuk agama yang membuat mata hati tertutup rapat-rapat oleh rasa bangga. Siapakah di antara kami yang akan Kau bukakan pintu surga?”. 

​Kami sama-sama pemabuk, Tuhan. Bedanya, mereka mabuk oleh rasa paling benar, merasa paling layak berdiri di atas mimbar untuk menyebarkan kabar yang gemar membakar. Sedangkan aku? Aku hanyalah pemabuk jalanan yang untuk berdosa saja harus mengeluarkan modal dari keringat sendiri. Sementara mereka, cukup dengan merasa paling baik, setiap hari merasa telah menimbun amal di sisi-Mu tanpa harus berbagi. 

​Mereka adalah kaum yang tak pernah lupa membaca Bismillah sebelum menyuap nasi. Tak peduli jika nasi itu berasal dari hasil menjarah hak orang lain yang mereka klaim sebagai rezeki dari-Mu sendiri. 

​Sedangkan aku, Tuhan, saat meneguk anggur ini, aku hanya bisa bersyukur dalam sunyi. Bersyukur karena setelah tegukan ini, nyawaku ternyata masih Kau izinkan bersemayam di dalam diri, meski seluruh negeri telah mengutukku mati. 

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W