Ketika membaca POTRET edisi 70, mata saya langsung tertuju pada tema yang bakal diangkat di edisi 71: “Rayuan Gombal.” Sebuah tema yang cukup menarik dan terasa mendesak untuk ditulis. Rayuan gombal sedang hangat menjadi perbincangan publik — di layar televisi, di kolom berita daring, hingga di percakapan media sosial sehari-hari. Bukan hanya karena kasus yang menimpa kalangan selebritis, tetapi karena praktek ini sudah terlalu banyak membawa petaka bagi perempuan dari berbagai latar belakang.
Berbagai macam berita penipuan yang diawali dengan rayuan gombal terus bermunculan — baik melalui Facebook, Instagram, WhatsApp, maupun pertemuan langsung. Kasusnya tidak ada habisnya.
Salah satu kasus yang cukup mencuri perhatian adalah modus penipuan via Facebook oleh seorang pelaku yang bahkan pernah ditahan sebelumnya, namun tidak jera. Ia memikat korban dengan perkenalan hangat di media sosial, membangun kepercayaan, lalu memanfaatkan korban secara material. Modus serupa juga dilaporkan dengan menggunakan foto profil orang asing (bule) untuk memancing simpati perempuan Indonesia. Berbekal pesan-pesan berbahasa Inggris yang tidak sempurna, para penipu ini mengaku jatuh cinta dan pada akhirnya meminta uang dengan berbagai alasan.
Di ranah hiburan, kasus Vicky Prasetyo yang sempat ramai dibicarakan publik menjadi pengingat bahwa bahkan perempuan dengan pergaulan luas pun bisa terperdaya oleh rayuan seseorang yang menyembunyikan status pernikahannya.
Dari berbagai kasus di atas, kita bisa menganalisis bahwa rayuan gombal bisa menimpa siapa saja. Bisa terjadi pada mahasiswi, juga pada mereka yang berpendidikan tinggi. Bahkan di kalangan artis tidak terkecuali. Apalagi bila seseorang tengah berada dalam kondisi emosional yang rentan — sedang patah hati, kesepian, atau galau terhadap masa depan — maka kewaspadaan bisa menurun drastis.
Di era kemajuan teknologi komunikasi saat ini, pelaku rayuan gombal semakin mudah bergerak. Mereka memanfaatkan berbagai platform: Instagram, TikTok, WhatsApp, hingga aplikasi kencan daring. Jangkauan mereka lebih luas, aksi mereka lebih cepat, dan jejak mereka lebih mudah dihapus.
Tanda-Tanda Rayuan yang Patut Diwaspadai
- Terlalu cepat mengungkapkan perasaan cinta atau sayang
- Foto profil terlalu sempurna atau menggunakan foto orang asing
- Menghindari pertemuan tatap muka atau video call langsung
- Meminta uang, pulsa, atau bantuan finansial dengan berbagai alasan
- Kisah hidup yang terlalu dramatis dan mengundang rasa iba
- Profil media sosial baru dibuat atau minim riwayat aktivitas
Di zaman yang semakin kompleks ini, semua hal mungkin saja terjadi. Dengan segala kemudahan yang diperoleh dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, ditambah pengaruh budaya konsumerisme, korban penipuan berkedok percintaan semakin bertambah setiap tahunnya. Selayaknya, kaum perempuan yang kerap menjadi sasaran praktek ini harus bisa lebih cerdas dan berhati-hati.
Perempuan harus lebih peka terhadap kemungkinan penipuan. Perempuan harus mampu menghadapi berbagai kemungkinan buruk dengan terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan literasi digital. Aktif di media sosial itu boleh-boleh saja — namun jadikan media tersebut sebagai ruang belajar hal-hal positif yang bermanfaat, bukan semata-mata ruang mencari validasi atau penghiburan.
Ahli komunikasi dan psikologi Ninik Aziz pernah menyatakan bahwa perempuan bisa tergoda dari telinganya, sedangkan lelaki bisa tergoda dari matanya. Oleh karena itu, kata-kata manis sangat efektif menjadi senjata para penipu terhadap perempuan. Bahkan dalam perspektif Islam, memuji seseorang secara berlebihan pun diingatkan oleh Rasulullah SAW sebagai sesuatu yang berbahaya: “Kamu telah memenggal leher temanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakar RA.)
Sahabat Nabi Ali RA. pun berkata: “Kalau ada yang memuji kamu di hadapanmu, akan lebih baik bila kamu melumuri mulutnya dengan debu, daripada kamu terbuai oleh pujiannya.” Pesan ini bukan ajakan untuk bersikap curiga pada semua orang, melainkan pengingat agar kita tidak mudah mabuk pujian hingga kehilangan akal sehat.
mulut lelaki banyak juga tak jujur
bila sakit hati wanita bisanya nangis
Sudah kubilang jangan terlalu cinta
kalau patah hati siapa mau nolong
Seperti langit dan matahari tak bersatu lagi
Hei ladies jangan mau dibilang lemah
Kita juga bisa menipu dan menduakan
Bila wanita sudah beraksi dunia hancur
Hei ladies, sekarang cinta juga pakai otak
Jangan mau rugi hati dan juga rugi waktu
Bila dia merayumu ingat semuanya bohong
Memanglah tak semua laki-laki busuk
Namun ladies tetaplah harus waspada
Semogalah kita akhirnya mendapatkan
Cinta yang tulus
Aamiin ladies…
Lirik lagu di atas merangkum pesan paling sederhana namun paling dalam: cinta juga pakai otak. Bukan berarti kita harus menutup hati rapat-rapat, tetapi kewaspadaan dan literasi emosional adalah bekal yang tidak kalah penting dari keindahan perasaan itu sendiri.
Seperti kata Bang Napi yang sudah terkenal di telinga kita: “Kejahatan bukan hanya berasal dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah!” Jangan beri celah bagi mereka yang berniat buruk untuk masuk ke dalam hidup kita.
Kasus-kasus di atas layak dijadikan cermin dan pelajaran. Jadikan pengalaman orang lain sebagai tameng, bukan menunggu kita sendiri yang menjadi korban. Perempuan yang cerdas, terus belajar, dan berani berkata tidak — adalah perempuan yang paling sulit untuk diperdaya. Waspadalah, ladies.










