Mendekap Rindu

Oleh Asmaul Husna
Suara air mendidih menyalun lembut dan terdengar begitu syahdu di telinga Aina. Segera ia menyeduh kopi kesukaannya. Aromanya menyebar ke seluruh ruangan, memberi kesegaran dan ketenangan yang sulit diungkapkan. Hanya pecinta kopi yang benar-benar bisa merasakannya.
Kopi yang masih mengepulkan asap yang membentuk arak-arakan tipis di udara diseruputnya perlahan seolah tak ingin membiarkan setiap tetes kenikmatannya berlalu begitu saja. Ditemani sepiring pisang goreng hasil panen dari pohon di samping rumah yang baru diolahnya tadi pagi sebagai kudapan anak-anak di hari libur. Seolah kebahagiaan hanyalah miliknya seorang.
Matahari masih membelai dengan hangat, belum memberikan hawa yang menyengat. pertanda hari belum beranjak siang, namun banyak hal yang sudah Aina selesaikan. Mulai dari memasak, menjemur pakaian, hingga mengepel lantai. Ia sudah mulai menjalankan semua aktivitasnya sejak matahari masih di peraduan. Baginya tiadahari yang benar-benar libur. Ia hanya pandai mencuri-curi waktu untuk menikmati kebahagiaannya, menyeruput secangkir kopi.
Rasa lelahnya menguap entah kemana saat ia mendapati keranjang kain kotor yang telah kosong, piring bersih yang sudah berjejer rapi, dan lantai yang sudah mengkilap bebas dari berbagai noda dan kotoran. Baginya bahagia itu sederhana, cukup menikmati setiap lekuk rumah yang sudah bersih dan tertata rapi.
Suami dan ketiga anaknya sedang berziarah ke makam mertuanya yang berjarak beberapa kilometer dari rumah, sambil membersihkan rumput-rumput liar yang tidak pernah bosan tumbuh di sana. Sebuah agenda rutin yang tidak pernah ditinggalkan setiap dua bulan sekali.
Bagi anak-anak rutinitas itu bukan sekedar ziarah tapi ajang piknik kecil-kecilan, bagi mereka bahagia juga sederhana.
Hanya ditinggalkan anak-anak dalam hitungan jam, hatinya mulai dirayapi rindu. Rindu riuh rendah suara mereka saat berebut mainan dan makanan, rindu celoteh si bungsu saat memberikan arahan ketika bermain rumah-rumahan, dan rindu suara tendangan bola dari kaki kecil mereka.
Rumah menjadi sunyi tanpa itu semua. Tak lebih dari seonggok bangunan yang membisu. Namun tak berapa lama, deru suara roda dua sayup terdengar dari kejauhan perlahan mendekat seiring tetesan kopi terakhir yang ia teguk. Anak-anak kembali membawa suara yang dirindukan.
“Aduh, panas sekali” suara Yusuf, si sulung
“Tapi seru kan, bisa main” kali ini suara Ismail, si tengah
“Abang-abang mainnya suka-suka hati, gak ikut arahan yang adik bilang” kali ini suara Maryam, si bungsu.
Suara-suara itu sambung menyambung terucap sambil mengeluarkan barang-barang yang tadi mereka bawa mulai dari botol minum, tempat bekal, helm, dan jaket, serta aneka mainan kecil berupa alat-alat kebersihan sehingga sukses membuat keadaan kembali berantakan.
“Aduh, bunda airnya tumpah, Bang Yusuf gak pas tutup botol minumnya” kata si bungsu. Sisa bekal juga tak sabar diletakkan begitu saja di lantai. Sukses membuat lantai yang tadi mengkilap dalam sekejap kembali ternoda.
“Ya ampun, nak. Baru aja bunda rapikan dan bersikan, sudah berantakan lagi” seru Aina sedikit kesal. Lelah yang tadi hilang, kini kembali datang menghampiri.
“Selalu bunda bilang, setiap barang yang sudah diambil letakkan pada tempatnya, tidak dihamburkan di lantai begini”lanjutnya dengan nada yang mulai meninggi.
“Bunda, bunda pernah bilang tidak harus marah-marah, kanbisa bilang pelan-pelan, bunda lupa ya?” sanggah si bungsu yang sukses membuatnya terdiam dan menyadari kesalahannya. Ia menarik napas perlahan dan menghembuskannya kembali mencoba menenangkan emosinya yang sempat di luar kendali.
Untuk selanjutnya dia mencoba berdamai dengan keadaan, bukanlah kegaduhan itu yang tadi dirindukan?
Bertahun-tahun telah berlalu. Air mendidih masih terdengar menyalun lembut di udara dan masih terdengar syahdu di telinga Aina. Tapi kali ini yang diseduh bukanlah kopi. Tapi campuran sere, jahe, dan perasan jeruk nipis yang dicampur sejumput madu.
Aromanya memberi kehangatan dan kesegaran menggantikan aroma kopi yang dulu akrab dengannya.
Udara sejuk perlahan masuk lewat pintu belakang yang dibiarkan terbuka. Sinar matahari pagi merayap lewat celah jendela yang tidak sepenuhnya tertutup tirai. Rumah itu masih tertata dengan rapi seperti dulu. Keranjang kain kotor jarang terlihat penuh. Dan lantai yang masih senantiasa mengkilap.
Namun ada yang hilang, tidak sama seperti dulu. Suara riuh rendah merebut makanan dan mainan. Suara celoteh, dan suara tendangan bola. Suara-suara itu ikut terbawa oleh angin yang sedang mempermainkan daun kering. Lenyap dan senyap di balik dinding.
Waktu begitu cepat berlalu membawa serta bocah-bocah lucu. Satu titik menetes di ujung sendu Aina, bersiap menumpahkan ribuan tetesan berikutnya.
Kini Aina hanya mampu mendekap rindu, dalam keheningan yang tak berujung.
Pemilik suara-suara itu telah disibukkan dengan jalan masing-masing, menjalankan takdir yang telah tertulis.
Demi masa depan, demi kebaikan yang terus berlanjut, demi doa yang terus dilantunkan saat ia tiada. Pemilik suara-suara itu sedang berjuang dalam mengeja bait-bait ilmu. Menjadi diri mereka dengan versi terbaik.
Aina sangat tahu tidak selamanya suara riuh rendah ituakan bersamanya. Tapi ada kalanya ia benar-benar tak sanggup menanggung rindu. Satu hal lain yang sangat ia yakini, waktu tidak pernah terulang, sekuat apapun ia ingin untuk itu. Tapi ia tetap berandai
“Andai waktu bisa diulang, aku ingin kembali ke masa itu, masa aku mengoceh tanpa henti dalam mengatur anak-anak”bisik satu sisi hatinya
“Tapi biarlah rindu ini tetap kudekap, kan kusiram dengan kidung doa yang tulus” bisik sisi hati lainnya sembari meneguk ramuan yang mulai dingin seiring butiran hangat yang terus menetes membasahi pipinya.













