Senin, Mei 4, 2026

Perempuan Desa, Bahasa Dunia: Cerita IELTS 7,5 dan Disertasi yang Hampir Usai

Penulis Permata Fonna
Mei 4, 2026
5 menit baca
ba05096e-32d4-4492-a521-af13db754ad9
Foto / Ilustrasi Perempuan Desa, Bahasa Dunia: Cerita IELTS 7,5 dan Disertasi yang Hampir Usai
Disunting Oleh


Oleh Permata Fonna,

Mahasiswa Tahap Akhir Pascasarjana Fast-Track Unsyiah

Saya lahir di Kecamatan Meukek, Aceh Selatan—sebuah wilayah yang pada masanya bukan hanya terpencil, tetapi juga berada di tengah pusaran konflik. Dari cerita yang saya dengar sejak kecil, tempat itu bukan sekadar ruang tumbuh, tetapi ruang bertahan. Jalanan tidak selalu aman, perjalanan tidak selalu tenang, dan kabar tentang ketegangan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Ibu saya berasal dari Kota Cane, sementara ayah saya berasal dari Pulo Blang, Bireuen. Keduanya datang dari keluarga sederhana, tanpa harta berlebih, tetapi memiliki satu hal yang terus mereka jaga: semangat untuk hidup dan memperjuangkan masa depan.

Bahkan sebelum saya lahir, keluarga kami telah menghadapi pengalaman yang tidak mudah. Ibu saya pernah bercerita, ketika ia mengandung saya sekitar tujuh bulan, rumah kami pernah digerebek. Di depan rumah itu—yang juga menjadi tempat aktivitas keluarga—terjadi kontak senjata antara kelompok gerilya dan pasukan marinir Indonesia. Saya sering membayangkan bagaimana seorang ibu menjaga kandungannya di tengah suara tembakan dan ketidakpastian. Dari cerita itu, saya memahami bahwa hidup saya dimulai dari ruang yang penuh perjuangan.

Seiring waktu, kehidupan kami tidak pernah benar-benar menetap. Kami berpindah-pindah, mengikuti keadaan dan usaha orang tua. Tidak ada pekerjaan tetap bagi ayah saya, tetapi ada tekad yang tidak pernah berhenti. Kami pernah berjualan soto, membuat keripik, dan menjalankan berbagai usaha kecil untuk bertahan.

Dalam kondisi seperti itu, saya tidak hanya tumbuh sebagai anak. Saya ikut menjadi bagian dari perjuangan keluarga.

Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, saya membantu ibu membungkus keripik yang sudah digoreng. Setelah itu, saya mengantarkannya ke warung-warung, bahkan ke kantin sekolah saya sendiri. Setelah semua selesai, saya masuk kelas dan belajar seperti biasa. Tidak ada yang istimewa dari rutinitas itu, tetapi di sanalah saya belajar tentang tanggung jawab.

Kami juga pernah berada pada fase yang sangat terbatas. Untuk beraktivitas, kami harus meminjam sepeda motor teman. Untuk memenuhi kebutuhan, kami harus benar-benar menghitung setiap pengeluaran. Namun di tengah keterbatasan itu, orang tua saya selalu menanamkan satu hal: pendidikan adalah jalan.

Di sekolah, saya bukan berasal dari lingkungan yang unggul. Fasilitas terbatas, akses juga tidak luas. Tetapi saya mencoba menjalani semuanya dengan serius. Saya tidak banyak bicara, tidak banyak membuat masalah. Saya lebih memilih belajar dalam diam.

Alhamdulillah, saya sering dipercaya mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan. Saat lulus SMA, saya meraih peringkat kedua. Bagi saya, itu bukan sekadar capaian, tetapi hasil dari proses panjang yang dijalani secara konsisten.

Bahkan sebelum saya menyelesaikan SMA, saya telah diterima di perguruan tinggi melalui jalur seleksi nasional. Saya masuk ke program studi Kimia Terapan di Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala. Itu adalah salah satu titik penting dalam hidup saya.

Namun, salah satu hal yang paling mengubah arah perjalanan saya adalah bahasa Inggris.

Saya tidak pernah belajar di jurusan bahasa. Saya juga tidak hidup di lingkungan yang menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi saya melihat bahasa ini sebagai jembatan—jembatan untuk memahami dunia yang lebih luas.

Saya belajar secara mandiri. Dari buku, dari internet, dari berbagai sumber yang bisa saya jangkau. Saya mencoba berbicara, meskipun sering salah. Saya mencoba memahami, meskipun tidak selalu mudah. Bahkan, saya pernah membantu anak-anak tetangga belajar bahasa Inggris dasar.

Proses itu tidak instan. Ada rasa ragu, ada keterbatasan, tetapi saya terus mencoba.

Sampai akhirnya, saya mengikuti tes IELTS dan mendapatkan skor 7,5.

Bagi saya, itu bukan sekadar angka. Itu adalah bukti bahwa keterbatasan tempat lahir tidak menentukan sejauh mana kita bisa melangkah.

Perjalanan saya berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Saya mengambil jalur fast track dan kini berada di tahap akhir studi magister. Saya sedang menyelesaikan karya tulis akhir sekaligus proses publikasi ilmiah.

Tahap ini adalah salah satu fase paling menantang. Tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga ketahanan mental. Ada banyak revisi, banyak perbaikan, dan sering kali rasa lelah datang tanpa disadari.

Namun setiap kali saya merasa lelah, saya mencoba mengingat kembali perjalanan saya. Dari dapur tempat ibu menggoreng keripik, dari langkah kaki mengantar dagangan ke kantin, hingga kesempatan untuk duduk menulis karya ilmiah. Itu membantu saya untuk tetap bertahan.

Sebagai anak perempuan tertua, saya juga memiliki tanggung jawab terhadap adik-adik saya. Saya berusaha menjadi penenang, membantu mereka belajar, dan memberi dukungan semampu saya.

Di dalam keluarga, saya tumbuh di antara dua cara pandang. Ibu saya sangat menjaga nilai-nilai religius dan tradisional. Ayah saya memiliki pandangan yang lebih terbuka setelah pengalaman merantau, termasuk hingga ke luar negeri untuk belajar.

Dari keduanya, saya belajar untuk tidak melihat perbedaan sebagai konflik, tetapi sebagai pelengkap. Saya belajar menjaga nilai, tetapi juga membuka diri terhadap dunia.

Satu hal yang selalu saya syukuri adalah kesehatan. Di tengah segala keterbatasan, kami tidak pernah diuji dengan sakit yang berat. Saya percaya, doa orang tua saya selalu menyertai perjalanan ini.

Hari ini, ketika saya hampir menyelesaikan studi saya, saya melihat kembali perjalanan yang sudah saya lalui. Semua terasa seperti rangkaian yang saling terhubung.

Saya tidak dibesarkan dalam kemudahan. Saya dibesarkan dalam keadaan yang mengajarkan saya untuk bertahan.

Dan dari situlah, saya belajar untuk melangkah.

Saat ini, saya juga sedang mencoba melangkah lebih jauh dengan mendaftar beasiswa internasional. Saya ingin melanjutkan pendidikan, melihat dunia yang lebih luas, dan membawa pengalaman itu kembali sebagai sesuatu yang bermanfaat.

Bagi saya, ini bukan hanya tentang diri saya sendiri.

Ini tentang membuktikan bahwa anak perempuan dari desa, dari keluarga sederhana, tetap memiliki ruang untuk bermimpi besar.

Namun lebih dari itu, saya juga menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Banyak anak perempuan di luar sana yang mungkin memiliki kemampuan, tetapi tidak memiliki akses.

Karena itu, saya percaya bahwa cerita seperti ini bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dibagikan.

Jika saya bisa sampai di titik ini dengan segala keterbatasan, maka saya yakin, banyak yang lain juga bisa—jika diberi kesempatan.

Saya hanya satu dari sekian banyak anak desa yang berusaha.

Dan saya memilih untuk tidak berhenti di sini.

Saya ingin terus berjalan.

Karena dari desa, jalan menuju dunia itu nyata.

✦ ✦ ✦
Apakah artikel ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Permata Fonna
Bio Narasi

Permata Fonna adalah mahasiswa pascasarjana (fast track) di Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala yang aktif dalam penelitian dan organisasi kemahasiswaan. Ia tengah menyelesaikan studi sekaligus menyiapkan publikasi ilmiah dari risetnya di bidang kimia terapan. Selain itu, ia konsisten mengembangkan kemampuan bahasa Inggris, yang telah membawanya pada capaian akademik dan peluang global. Ia juga terlibat dalam berbagai kajian kepemudaan dan kewirausahaan. Beberapa artikel ilmiahnya telah dipublikasikan, terutama terkait pembelajaran bahasa Inggris dan kimia. Saat ini, ia sedang dalam proses melamar beasiswa luar negeri untuk melanjutkan pengembangan akademik dan kontribusi keilmuan.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Preview
Memuat komentar...